Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Kiri-Kanan: Peserta pawai peringatan Revolusi Hungaria; Pagar Great Synagogue, bangunan yang desainnya terinspirasi masjid di Afrika Utara dan Spanyol.

Di Budapest, tempat paling trendi saat ini justru dirangkai dari rongsokan masa silam. Mereka yang singgah akan mengernyitkan dahi, mungkin terperanjat, atau barangkali terpukau, seperti saya, yang duduk termenung menyeruput cokelat panas sembari mengagumi betapa keindahan ternyata bisa berjarak hanya beberapa sentimeter dari keranjang sampah.

Namanya Szimpla Kert. Artinya “kebun yang bersahaja.” Tempat ini sejatinya sebuah pujasera yang dihuni belasan perusahaan independen, mulai dari shisha bar, rental sepeda, restoran, hingga design shop. Di halamanbelakangnya terdapat ruang layar tancap yangberoperasi selepas musim dingin. Semuanya berbagi tempat di apartemen kumal tiga lantai yang pernah lama terbengkalai.

Interiornya kusam dan suram. Sampah dan dekorasi saling sengkarut. Berantakan, tapi artistik. Sekujur dinding bangunan dijejali stiker, graffiti, juga poster. Kita bisa menambahkan coretan dan tak seorang pun akan menyadarinya. Duduk di sebuah bar temaram, saya dihibur oleh film abstrak yang ditembakkan belasan monitor komputer dari zaman disket. Beranjak ke lantai dua, sisa-sisa pesta tadi malam masih terendus: aroma mariyuana yang menusuk hidung.

Kiri-Kanan: Warga Yahudi di Jewish Quarter; Sampah dan dekorasi bertaburan di Szimpla Kert.

Szimpla seolah memadukan barang-barang loak dari Jalan Surabaya, kreativitas nyeleneh seniman Yogya, serta gairah hipster pengusaha Pasar Santa. “Tak ada tempat seperti ini di mana pun,” ujar pemandu saya. Lihat saja suguhannya: kursi yang dibuat dari potongan papan skateboard; lemari berbentuk kulkas tua; bunga yang tumbuh di atas sepatu ski; meja makan di dalam mobil ringsek.

Terlepas dari kejanggalannya, Szimpla mewakili harapan banyak orang. Tempat ini menyuntikkan nyawa baru pada Jewish Quarter, permukiman kaum Yahudi di Budapest. Szimpla menghidupkan bangunan usang, rutin menggelar pesta, membuat malam-malam di kawasan ini tak lagi menakutkan. Lebih dari itu, ia menjelma jadi objek wisata.

Szimpla adalah alasan mengapa Budapest dijuluki tanah kelahiran “ruin pub.” Turis berdatangan saban hari. Tur ziarah di Jewish Quarter kini tak lengkap tanpa mampir sejenak di Szimpla. Prestasi yang mengagumkan untuk sebuah tempat yang dirakit dari materi daur ulang.

Interior salah satu kafe di Szimpla Kert, tempat kongko yang menginspirasi istilah “ruin pub.”

Meninggalkan Szimpla, saya meniti jalan-jalan berlapis batu, melewati gedung-gedung yang kepayahan melawan waktu, mengarungi kampung Yahudi di kota terpadat di Hungaria. Saya datang kala musim dingin baru bersiap-siap hengkang. Udara tajam menggerayangi tubuh, memaksa saya untuk senantiasa merapatkan jaket.

Tapi saya tak selalu mengeluh. Jalan-jalan di Budapest bisa setiap saat berubah menjadi ajang pencarian gadis sampul. Populasi wanita cantik di kota ini begitu tinggi. “Dari 10 wanita di Budapest, 11 pasti cantik,” seorang teman pernah berseloroh. Satu-satunya masalah besar di Budapest: kaum pria lokal rata-rata terlalu tampan untuk disaingi.

Jalan-jalan di Jewish Quarter masih menggemakan kisah lirih dari tragedi Holocaust, tapi kawasan ini sejatinya telah jauh berubah. Hari-hari kini lebih dimeriahkan oleh denting gelas, gelak tawa, dan alunan musik. Di banyak sudut, kita bisa menemukan kedai kebab, kafe dan bar, kelab malam, sanggar tato, juga toko roti. “Mariyuana sebenarnya ilegal di negeri ini, tapi kita bisa dengan mudah membelinya di Jewish Quarter,” kata pramusaji di hotel saya. “Jewish Quarter…kadang kami menyebutnya Party Quarter.”

Kiri-Kanan: Hidangan di Costes Downtown asuhan koki Miguel Vieira; Carl Lutz Memorial didirikan untuk mengenang jasa diplomat Carl Lutz menyelamatkan ribuan warga Yahudi pada Perang Dunia II.

Usai melewati toko peralatan seks bernama Tutti Frutti, saya memasuki zona ghetto di jantung Jewish Quarter. Di masa Perang Dunia II, tempat ini dikurung pagar tinggi dan diawasi saksama. Ghetto adalah tempat warga Yahudi digelandang, dikumpulkan, didata, kemudian disortir untuk menentukan siapa yang boleh bertahan, siapa yang dikirim ke kamp konsentrasi, dan siapa yang mesti dihabisi. Tapi bahkan area horor semacam ini telah bertransformasi menjadi kawasan urban yang trendi. Dinding-dinding gedung dilapisi mural. Lahan-lahan kosong dihuni sentra jajan berisi food truck. Walau tubuhnya renta, Jewish Quarter tampil segar bagaikan seorang remaja.

Semua itu sebenarnya fenomena yang relatif baru. Usai Perang Dunia II, saat Hungaria bergabung dengan blok kiri Uni Soviet, Jewish Quarter sempat berubah menjadi “kota hantu.” Kawasan ini lowong ditinggalkan penghuninya. Banyak ruko, rumah, dan apartemen warga Yahudi bergeser menjadi hunian para pemadat dan gelandangan. Titik baliknya dimulai setelah Hungaria lepas dari cengkeraman rezim komunis. Tirai besi diangkat. Palu arit digantikan hak milik dan gairah laba. Di bawah mantra baru bernama ekonomi pasar, setiap jengkal tanah dan setiap bongkah bata di Jewish Quarter dipandang sebagai aset yang wajib dimanfaatkan.

Andrea, seorang pemandu wisata kelahiran Budapest, menceritakan bagaimana pemerintah royal menawarkan insentif finansial bagi pihak swasta yang sudi membeli bangunan reyot di Jewish Quarter, lalu mengisinya dengan restoran atau toko. “Semuanya dimulai usai Tembok Berlin runtuh,” kenang Andrea. “Banyak gedung, termasuk Szimpla, yang tadinya merupakan sarang pemadat, kini menjadi tempat bisnis yang sangat menguntungkan.”

Kiri-Kanan: Seorang rabi di rumah doa di kompleks Kazinczy Synagogue; Taurat tergelak di meja rumah doa.

Sayangnya, perubahan yang gempita itu tak berhasil memulihkan elemen terpenting dari Jewish Quarter: warga Yahudi. Mengutip data World Jewish Congress, populasi umat Yahudi di Hungaria sekitar 35.000-120.000 jiwa. (Gap statistik yang terlalu lebar ini disebabkan banyak orang memilih menyembunyikan identitas agamanya.) Mayoritas dari mereka berdomisili di Budapest, kota yang mengoleksi sekitar 20 sinagoge. Anehnya, cukup sulit bagi kita untuk menemukan warga Yahudi di Jewish Quarter.

“Usai perang, warga Yahudi hidup menyebar, tidak lagi terpusat di Jewish Quarter,” jelas seorang warga lokal. Jewish Quarter, katanya, bukan lagi permukiman yang disatukan oleh kesamaan agama. Singkat kata, Jewish Quarter saat ini adalah “kampung Yahudi” yang hidup dalam catatan sejarah. Tapi Jewish Quarter setidaknya masih memiliki sinagoge.

Suatu siang, saya bertamu ke Kazinczy, sinagoge yang didedikasikan bagi pengikut paham Ortodoks, kaum minoritas di Budapest. Usai melewati gerbangnya, seorang kakek berdiri menagih sumbangan. “Jumlahnya terserah Anda, bisa 5 euro atau 5 dolar,” katanya santun. Setelah itu, dia meminta saya mengenakan kippah, peci mungil yang menutupi ubun-ubun.

Kazinczy didirikan pada 1912 dengan arsitektur art nouveau. Sinagoge ini mempraktikkan pakem konservatif di mana kaum wanita dipisahkan di balkon lantai atas, sementara kaum pria duduk berbaris menghadap mimbar di lantai dasar. Ketika saya tengah menjelajahi interior, sang kakek penjaga pintu menghampiri dan menjelaskan alasannya meminta donasi. “Pengikut Ortodoks hanya sekitar 100 keluarga di kota ini. Kami tak punya cukup uang untuk merawat sinagoge,” ujarnya.

Kiri-Kanan: Aula utama Kazinczy Synagogue; Merpati beterbangan di Jewish Quarter.

Ini pertama kalinya saya memasuki sinagoge. Batin saya dipenuhi perasaan ambivalen, mungkin karena saya datang dari negara di mana segala yang terkait Yudaisme dipandang miring. Di Indonesia, Yahudi bak sepenggal kata kotor yang kerap disejajarkan dengan zionisme, dengan penindasan terhadap rakyat Palestina, dengan segelintir jutawan yang lihai mengendalikan pasar modal.

Saya ingat, guru ngaji saya pernah bercerita panjang tentang karakter beret dan oportunis Bani Israel. Orang Yahudi sulit dipercaya, kata ustaz saya dulu. Seburuk itukah? Bukankah mengutuk semua orang Yahudi jahat tak ubahnya menuding semua Muslim teroris?

Keluar dari ruang utama sinagoge, saya mampir di “rumah doa” dan menjumpai seorang rabi yang khusyuk merenungkan Taurat, kitab samawi yang mendahului Injil dan Alquran. “Kamu harus bisa membaca Taurat. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik,” ujar sang rabi yang lahir di Budapest, tapi kini hidup sebagai diaspora di New York.

Saya mengintip kitab yang dibacanya. Aksara Ibrani sekilas mirip Alquran. Cara membacanya pun sama: dari kanan ke kiri. Saya memang telanjur datang dengan prasangka, dengan stereotip yang ditanamkan di langgar dan masjid, oleh orang-orang yang kini mungkin tengah asyik bermain aplikasi Facebook buatan orang Yahudi. Tapi perjumpaan singkat saya dengan sang rabi telah meninggalkan kesan spiritual yang membekas.

Kiri-Kanan: Peserta peringatan Revolusi Hungaria di pelataran Great Synagogue; Interior eksentrik Szimpla Kert.

Menemui penganut Yahudi bagaikan menemui saudara tua yang telah lama dikucilkan dari acara kumpul keluarga. Saya kembali meniti jalan-jalan tua. Di tepi ghetto, sebuah sinagoge lainnya menjulang perkasa: Great Synagogue, sinagoge terbesar di Eropa. Dinaungi minaret dan kubah, fasadnya sekilas menyerupai masjid, dan ada penjelasan sejarah mengapa kesan itu begitu kuat. Sinagoge ini mengadopsi gaya Moorish Revival. Arsiteknya memetik inspirasi dari masjid-masjid di Afrika Utara dan Alhambra.

Di teras sinagoge, sebuah pawai bergulir dengan melibatkan beberapa serdadu kavaleri. Seorang nenek menghampiri saya dan memberikan sebuah bros bintang Daud. “Kami ingin menunjukkan bahwa umat Yahudi punya peran di negeri ini,” katanya. Hari ini, 15 Maret, Budapest tengah memperingati Revolusi Hungaria dan warga Yahudi menggunakan momen ini untuk memperlihatkan bahwa mereka bagian yang sah dari komunitas kota. Tak semua orang Yahudi ingin pulang ke Tanah yang Dijanjikan.

Beringsut dari udara yang menusuk tulang, saya singgah di Spinoza, restoran sempit yang menyandang nama filsuf Belanda. Menu hari ini: wine dan goulash, semacam semur versi Hungaria. Saat tengah mengiris daging-daging lembut, rombongan siswa memasuki ruang teater di belakang restoran untuk mempelajari kehidupan di Jewish Quarter sebelum pecahnya Perang Dunia II. Terlepas dari sosoknya yang kian modern, kian trendi, Jewish Quarter akan selalu menjadi petilasan tua yang memanggil-manggil kisah yang sudah berlalu. Di antara kehangatan goulash dan sedapnya wine, di antara pesta-pesta yang gaduh di Szimpla, kita akan selalu dipaksa untuk menengok ke belakang.

Detail
Budapest

Rute
Penerbangan ke Budapest dilayani oleh banyak maskapai, antara lain Emirates (emirates.com) via Dubai, Etihad (etihad.com) via Abu Dhabi, serta Qatar Airways (qatarairways.com) via Doha.

Penginapan
Seperti mayoritas penginapan di Budapest, Hotel Moments (Andrássy út 8; 36-1/6117-000; hotelmomentsbudapest.hu; mulai dari Rp1.500.000) menempati gedung tua yang sudah direnovasi. Penginapan anggun yang baru diresmikan pada 1 Maret 2016 ini berada di kawasan belanja, persis di seberang butik Michael Kors dan Emporio Armani, tak jauh dari gedung opera. Dari Jewish Quarter, hotel ini berjarak hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2016 (“Kampung Trendi Yahudi”)