Salah satu pameran seni teatrikal yang pernah digelar di Fondazione Prada.

Oleh Nina Hidayat

Museum adalah tempat menyimpan dan memajang. Sejatinya memang begitu. Tapi jika museum itu dirancang oleh arsitek terkenal, dibangun dengan biaya kolosal, lalu diberi nama yang seksi dan mahal, maka ia bisa bergaung jauh melampaui fungsinya. Dalam kasus Fondazione Prada, museum bahkan bisa mengubah nasib sebuah daerah. Nasib Largo Isarco.

Largo Isarco, kawasan bekas sentra industri di tenggara Milan, kini bagaikan bunga layu yang kembali merekah. Prada datang ke sini untuk membeli bekas pabrik penyulingan wiski, lalu menyulapnya menjadi sebuah museum yang mentereng. Tadinya dilupakan, Largo Isarco berubah menjadi magnet wisata baru.

Saya berkunjung akhir tahun lalu. Kawasan yang dulunya diramaikan derap kaki buruh ini sekarang dijejaki langkah santai kaum pencinta seni. Fondazione Prada tampak megah di antara gudang-gudang usang. Telah menjadi adagium, setidaknya di Amerika dan Eropa, bahwa museum harus berdesain cantik guna memikat publik. Fasadnya tak boleh kalah memukau dari koleksi seninya. Untuk Fondazione Prada, tugas tersebut ditangani oleh Rem Koolhaas, arsitek tersohor Belanda.

Di lahan seluas empat lapangan sepak bola, Fondazione Prada menampilkan 10 gedung, tiga di antaranya baru. Ketiga gedung yang baru terlihat modern, namun tanpa melupakan kesinambungan desain dengan struktur uzur di sekitarnya. Ibarat tas Prada, mereka adalah seri Saffiano yang luwes beradaptasi di beragam situasi. “Fondazione Prada bukanlah sebuah proyek pelestarian ataupun karya arsi tektur baru. Ia adalah titik temu keduanya,” ujar Koolhaas.

Kompleks museum ini dulunya adalah gedung penyulingan wiski.

Filosofi “titik temu” itu jugalah yang membuat Fondazione Prada seperti berada di antara dua kutub: masa lalu dan masa kini. Pada gedung ekshibisi dan bioskop, Koolhaas mendemonstrasikan hobinya mengolah warna abu-abu dan gaya minimalis. Khusus gedung jangkung yang berfungsi sebagai ruang koleksi permanen, sang arsitek meminjam praktik dekorasi dari masa silam: melapisi permukaan gedung memakai daun-daun emas 24 karat dengan berat total empat kilogram. Hasilnya bagaikan Golden Temple dari abad ke-21.

Fondazione Prada bukan satu-satunya ekspansi rumah mode ke dunia museum. Di Paris, Louis Vuitton juga memiliki sebuah museum. Beberapa bulan silam, Armani meresmikan museum miliknya, walau isinya lebih fokus pada fesyen ketimbang seni. Strategi bisnis atau sekadar kekenesan? Sulit menjawabnya.

Rumah mode senantiasa mengklaim dagangan mereka sebagai kriya. Mendirikan museum yang merayakan kreativitas adalah pilihan wajar demi memperkuat citra tersebut. Tapi Fondazione Prada sejatinya sudah dirintis sejak lama, lebih dulu ketimbang Fondation Louis Vuitton dan Armani/Silos. Sebagai yayasan, Fondazione Prada dicetuskan pada 1993, jauh sebelum ia berwujud bangunan. (Setelah Milan, Fondazione Prada melebarkan sayapnya ke Venesia). Lalu, untuk apa Prada mendirikan museum? Jawabannya bisa jadi sangat sederhana: hobi.

Kedua pemilik Prada—Miuccia Prada dan Patrizio Bertelli—merupakan kolektor benda seni, dan Fondazione Prada adalah lembaga yang ditugaskan mengelola koleksi keduanya. Embel-embel “Prada” pada nama yayasan murni merujuk pada nama sang pemilik, bukan merek luxury goods buatan mereka—sebagaimana Ciputra Artpreneur ditujukan memamerkan lukisan milik Ciputra tanpa ada hubungannya dengan bisnis properti sang taipan. “Fondazione Prada adalah sisi lain dari Miuccia. Dia tidak mau sisi mode dan minatnya pada dunia seni dicampuradukkan,” jelas Beatrice Boatto, staf Fondazione Prada.

Bar Luce, tempat makan dan istirahat yang dirancang oleh Wes Anderson.

Benda-benda seni permanen di sini seluruhnya merupakan karya kontemporer. Memasuki ruang pamernya, saya menemukan lukisan dari Jeff Koons, perupa Amerika yang pernah memecahkan rekor lelang Christie’s lewat instalasi anjing jingga raksasa. Di Fondazione Prada, dia menampilkan tiga karya bertarikh 1986 yang bertema minuman keras.

Banyak karya lebih berupa permainan bentuk yang membiarkan pemirsa menebak-nebak maksudnya. Layaknya karya kontemporer, mereka lebih didesain untuk dirasakan ketimbang dipahami. Satu instalasi yang berhasil mengocok emosi adalah Potato dari Nathalie Djurberg. Melalui video-video pendek yang diputar di gua berbentuk kentang, seniman asal Swedia itu mengajak kita menghayati karakter-karakter yang bergulat dengan isu gender dan seksualitas. Ada gadis muda yang berjuang memahami pelecehan seksual. Ada pula seorang kekasih yang bersalin rupa menjadi serigala. Di tengah perang retorika seputar feminisme di media massa, video buatan Nathalie mengirimkan pesan yang membekas, justru ketika disajikan tanpa suara.

Fondazione Prada rutin menggelar pameran temporer. Dulu, sebelum kompleks Milan didirikan, lembaga ini menginisiasi pameran tunggal sejumlah seniman, salah satunya Anish Kapoor pada 1995. Dan tak cuma seniman, sutradara sekaliber Steve McQueen pernah diundang untuk menggelar pameran solo perdananya di Italia.

Saya datang saat tempat ini menggelar pameran bertajuk Trittico. Berakar dari prinsip kuno triptych, yakni kombinasi tiga karya yang membentuk satu konteks saat dipajang bersamaan, Trittico memajang karya dari tiga seniman sekaligus dan menggali kesamaan pola di antara ketiganya. Salah satu suguhannya cukup menggigit, yakni Lost Love dari Damien Hirst, yang menampilkan akuarium ikan berisi perangkat aborsi.

Kiri-kanan: Salah satu bangunan Fondazione Prada yang dilapisi daun emas; karya berjudul Lost Love dari perupa Damien Hirst menampilkan akuarium berisi perangkat aborsi.

Tidak ada kurator tetap di Fondazione Prada, prinsip yang sejalan dengan visi tempat ini untuk mewadahai letupan-letupan kreatif yang beragam. “Ide baru, pemikiran dari berbagai disiplin dan kolaborasi berbagai bidang, adalah inti dari eksistensi Fondazione Prada,” kata Astrid Welter, kepala departemen kuratorial.

Astrid bahkan menolak Fondazione Prada dikategorikan sebagai museum. “Bukan museum,” ujarnya, “melainkan institusi budaya tempat bertemunya berbagai ekspresi.” Salah satu ekspresi itu datang dari Wes Anderson. Prada menggaet sutradara kondang ini untuk mendirikan Bar Luce, kedai kopi yang menjadi ruang rehat bagi pengunjung.

Interiornya didominasi warna-warna pastel. Desainnya retro, begitu pula suguhannya: pai buah dan kue sus buatan Marchesi, toko roti milik Prada. Bar Luce sekilas mirip properti yang dicomot dari film Moonrise Kingdom, salah satu karya terbaik Wes Anderson.

“Prada berhasil mendekatkan seni pada mereka yang menghargai desain dan keindahan,” kata Johana Hamadakova, pengunjung asal Republik Ceko. “Saat banyak museum masih terkesan kuno, institusi ini berhasil menjadi jembatan bagi kesenian untuk bisa dinikmati khalayak.”

Milan lebih dikenal sebagai pusat fesyen dan mebel. Kehadiran Fondazione Prada agaknya menjadi amunisi baru kota ini untuk membidik turis pencinta seni. Dan Anda tak perlu menjadi “devil” yang menenteng Prada untuk menikmatinya.

PANDUAN
Rute

Penerbangan ke Milan dilayani antara lain oleh Cathay Pacific (cathaypacific.com) dan Qatar Airways (qatarairways.com) . Terletak di kawasan Largo Isarco di tenggara kota, Fondazione Prada bisa dijangkau dengan subway jalur 3, trem nomor 24, atau bus jalur 79.

Informasi
Pusat kebudayaan Fondazione Prada (Largo Isarco 2, Milan; 39-02/5666-2611; fondazioneprada.org) beroperasi setiap hari dari pukul 10:00-21:00. Tiket untuk umum dibanderol €10 dan digratiskan khusus pengunjung di bawah 18 tahun dan di atas 65 tahun. Tur dengan pemandu berbahasa Inggris (€80) harus dipesan setidaknya 48 jam sebelum datang.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Kala Prada Bicara Budaya”).