Updates

Bangkitnya Museum di Jakarta

Ciputra Museum dibangun untuk menghormati hidup Hendra Gunawan.

Oleh Wikana
Foto oleh Bismo Agung

Rumah Baru Pelukis Pejuang
“Mudah-mudahan saya bisa kelak menjadi salah satu kolektor yang cukup banyak dari lukisan bapak, sehingga suatu waktu dapat saya pamerkan atau dapat saya jadikan musium pribadi.” Surat balasan Ciputra kepada Hendra Gunawan yang diketik rapi 32 tahun silam itu menjadi salah satu manuskrip penting yang dipamerkan dalam pembukaan Ciputra Museum, sebuah museum yang terintegrasi dengan galeri, teater, mal, dan hotel.

Museum ini didedikasikan bagi seorang perintis seni rupa modern Indonesia. Warna-warna lukisan Hendra yang dinamis dan garis melengkung dalam sosok punakawan menjadi inspirasi desain ruang-ruang museum. Kita pun menemukan corak cerah dan dinding yang asimetris.

Di sini terpajang sembilan lukisan, 23 sketsa, serta surat-surat pribadi Hendra. Koleksinya menukik dan dalam. Selama 40 tahun Ciputra berburu karya pendiri Sanggar Pelukis Rakyat tersebut. Kini, tak mungkin bagi kita untuk mengenal Hendra tanpa mengunjungi Ciputra Museum. Kekayaan koleksi Hendra—yang setelah didata dan diverifikasi keasliannya mencapai 130 lukisan—membuat duet kurator Asmudjo Jono Irianto dan Aminuddin TH Siregar punya banyak amunisi untuk meracik tema kuratorial. Untuk acara pembukaan, keduanya memboyong sembilan lukisan terkuat dan 23 sketsa Hendra yang selama ini “dipingit.”

Kiri-kanan: Karya-karya seni di Cemara 6 ditata lebih personal; lukisan berjudul ‘Pangeran Diponegoro Terluka’ karya Hendra Gunawan di Ciputra Museum.

Karya-karya itu mewakili periode awal seni rupa modern Indonesia: sebuah masa pencarian identitas keindonesian dalam seni rupa. Bersama Sudjojono, pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang selalu dikelilingi pelukis muda, Hendra menemukan jalan baru seni rupa modern Indonesia yang berbeda dari periode sebelumnya yang didominasi Mooi Indie, aliran yang berkutat pada obyek gunung, nyiur, sawah, dan matahari. Hendra seolah merumuskan definisi baru “kepribumian.” Figur-figur orang ramai tengah berinteraksi dan perempuan muda yang berjejer mencari kutu mewakili semangat tersebut.

Salah satu lukisan terkuatnya yang dilekatkan pada dinding, yang kabarnya belum selesai, begitu indah: Pangeran Diponegoro Terluka. Lukisan berdimensi 204 x 495 sentimeter itu tampak begitu hidup, seakan berbicara lugas kepada pengunjung. Bagi pengunjung yang belum memahami kontribusi Hendra bagi sejarah seni rupa Indonesia, museum ini menyediakan ruang pembelajaran khusus. Sosok Hendra sebagai pelukis yang juga pejuang revolusi diperkenalkan secara tidak konvensional.

Ruangan ditata bernuansa penjara lengkap dengan sel tempat aktivis Poesat Tenaga Rakyat itu menghabiskan usia dari 1965 hingga 1978. Pada sebidang tembok, selembar proyektor menghidupkan kiprah pelukis “kiri” tersebut. Pada tembok lainnya, trajektori perjuangannya diurai lengkap. Museum ini juga memberikan ruang pada interpretasi baru sesuai perkembangan zaman. Sembilan karya Hendra ditafsirkan memakai teknologi canggih oleh seniman Adi Panuntun menjadi sebuah karya video mapping yang menggugah.

Ciputra Museum tak hanya menampilkan lukisan karya Hendra Gunawan.

Tapi Ciputra Museum tak cuma menengok masa silam. Sebuah pameran karya perupa kontemporer digelar di area galeri yang bersisian dengan museum. Karya Ade Darmawan, Arya Pandjalu, Angki Purbandono, Dolorosa Sinaga, Entang Wiharso, Ugo Untoro, hingga Heri Dono melambangkan pencapaian generasi baru dalam kaleidoskop seni rupa Indonesia.

Kedekatan Ciputra dan Hendra terjadi tak sengaja. Suatu waktu, Ciputra muda terkagum menatap lukisan Hendra di tembok rumah seorang rekannya. Dia pun meneguhkan hatinya untuk kelak mengoleksi karya-karya sang seniman jika telah memiliki cukup uang. Namun, Ciputra perlu menanti pertemuan dengan pelukis idolanya selama 10 tahun, karena Hendra mesti meringkuk di penjara Kebon Waru, Bandung.

Pertemuan akhirnya terwujud di Pasar Seni Ancol. Usai melihat puluhan galeri yang disatukan di sebuah tempat, Hendra, pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya basah. Dia beringsut ke kaki pohon dan menangis sejadinya. Hendra masih ingat perjuangannya memikul lukisan keliling kampung.

Terkadang tak ada yang mau membukakan pintu baginya. “Pernah aku dikejar seekor anjing saat menawarkan lukisan,” kenang Hendra dalam sebuah tulisannya kepada Ciputra. Kini, hubungan simbiosis Ciputra dan Hendra terbangun apik. Bergaul dengan maesenas seperti Ciputra, Hendra bisa hidup layak dan terus berkarya. Di sisi yang lain, Ciputra bisa merasakan semangat hidup sang pelukis. “Saya berfantasi dengan lukisan Hendra,” ujar Ciputra suatu kali pada media. Di rumah pribadinya di kawasan Pondok Indah, lukisan Hendra dijejer di plafon yang didesain miring 30 derajat. Setiap pagi, Ciputra punya ritual khusus: membaca koran, lalu memandangi lukisan Hendra berjam-jam. Tahun lalu, di usia 83 tahun, sang taipan kawakan membuka museum dan mengajak publik berbagi hobinya. Ciputra World 1, Jl. Prof. DR. Satrio Kav.3-5, Kuningan; 021/2988-9889; ciputraartpreneur.com. >>

Kiri-kanan: Pameran di Art:1 tak hanya dilakukan di dalam ruang, namun merambah eksteriornya juga; Rooseno, ayah Toeti, adalah seorang pakar teknik beton terapan yang pernah tiga kali menjadi menteri di bawah Presiden Soekarno.

Sosok Pribadi dalam Museum
Mengunjungi Museum Cemara 6 seperti mengurai perjalanan hidup sang empu koleksi, Profesor Toeti Heraty. Ibu empat anak ini membuka koleksinya kepada publik dua tahun silam. Museumnya menjadi satu dengan Galeri Cemara 6 yang bisa diakses melalui dua ruas jalan di kawasan Menteng.

Toeti merupakan legenda hidup di bidang akademis, sastra, dan feminisme. Sebagai sastrawan, namanya telah ditahbiskan sebagai salah satu penyair wanita terkuat pada 1970-an oleh Horison, majalah sastra bergengsi asuhan HB Jassin. Kritikus sastra yang dikenal sangar semacam Subagio Sastrowardoyo menanggapi positif karya Toeti di majalah tersebut. Saat itu, pujangga terkemuka Rendra, Asrul Sani, hingga PK Ojong kerap berkunjung ke rumah sewaannya di Menteng.

Sebagai birokrat kesenian, sejak 1971 Toeti telah mengampu hampir seluruh organisasi yang mengurusi seniman di Jakarta. Dia menjadi Ketua Lingkaran Seni, anggota Dewan Kesenian, hingga Rektor Institut Kesenian Jakarta. Karir akademisnya juga sukses. Toeti ikut mendirikan jurusan Filsafat Universitas Indonesia dan menjadi guru besar filsafat hingga kini.

Melihat 150-an lukisan yang ditebar di seantero dinding Cemara 6 seperti menyelami sejarah seni rupa Indonesia. Toeti bergaul secara langsung dengan para pembuat karya yang dikoleksinya, mulai dari barisan perintis seni rupa modern Indonesia seperti Hendra, Sudjojono, dan Affandi, hingga generasi penerus semacam Basoeki Abdullah, Srihadi Soedarsono, dan Mochtar Apin.

Suatu siang di museumnya, Toeti menunjuk lukisan Mother and Two Children yang menampilkan dirinya tengah duduk bersama kedua anaknya, Cyril dan Migni. Lukisan bertarikh 1971 yang terpasang di ruang tamu itu dibuat oleh pelukis yang menjadi juru bicara seni rupa Indonesia modern, Sudjojono.

Warnanya agak pucat dengan pancaran suasana yang kuat. Irama khas Sudjojono. Dulu, Toeti dan Sudjojono kerap saling berkunjung. Sudjojono, penemu teori “jiwa ketok,” hobi bertamu ke vila milik Toeti di Bandung. “Saya dilukis di rumah Sudjojono di Pasar Minggu,” kenang ibu berusia 82 tahun ini. Lukisannya sangat berkesan, sehingga Toeti membawanya saat melanjutkan studi psikologi ke Belanda. Tak jauh dari lukisan tersebut, terpajang Bambu Kering karya Affandi. Lucunya, aset berharga ini dibeli Toeti seharga Rp2 juta, itu pun dengan mencicil 10 kali. “Sopir Pak Affandi yang selalu datang menagih ke Jakarta,” ujar Toeti.

Di antara lukisan maestro yang berjejer di dinding, Toeti memperlihatkan lukisan berobyek dirinya yang lain: sebuah drawing hitam putih karya Srihadi Soedarsono. Lukisan buatan 1994 itu dikerjakan sambil lalu oleh pelukisnya tanpa memberi tahu Toeti. Usai Toeti menyampaikan pidato pengukuhan guru besar Filsafat UI, lukisan kelar dan diserahkan kepadanya.

Tak jauh dari lukisan tersebut terdapat lukisan abstrak Tumpah Darahku dari Basoeki Abdullah. Mungkin ini satu-satunya lukisan abstrak Basuki. Toeti mendapatkannya langsung dari Basuki, sebulan sebelum sang pelukis mangkat di kamarnya.

Lalu, apa alasan Toeti mendirikan museum?

“Saya hanya punya dua lukisan Affandi. Anak saya banyak, nanti kalau dibagikan tidak cukup. Jadinya saya berikan kepada publik saja lewat museum ini,” ujar anggota Akademi Jakarta ini. Memang tak semua lukisan dibelinya dengan harga selangit. Sebagian bahkan diperoleh berkat kemurahan hati si pembuat. Lukisan pertamanya, Perempuan dan Ikan, misalnya, adalah hadiah dari perupa Mochtar Apin yang bersahabat dengannya sejak studi di Belanda.

Suatu kali Kartika Affandi juga menghibahkan sebuah lukisan. Saat itu, Kartika sedang menggelar pameran di Jakarta dan tak satu pun karyanya terjual. Toeti kemudian memberikan ongkos Kartika pulang ke Yogya dengan balasan sebuah lukisan.

Kini lukisan ekspresionis hitam putih Kartika bersanding tak jauh dari dua lukisan ayahnya. “Saya dapatkan koleksi ini saat bank dan properti belum memborong lukisan. Jika sekarang mengoleksi, saya tak mampu,” ujar Toeti merendah.

Menariknya, aneka koleksinya ditata secara personal. Di barisan depan museum, kita seolah diajak berkenalan dengan Toeti sebagai orang yang membumikan banyak teori feminis, mendirikan Suara Ibu Peduli, terlibat di Mitra Perempuan, dan menerbitkan Jurnal Perempuan. Di antara vas bunga, piano, dan foto-foto kenangan, Toeti menata lukisan karya Umi Dachlan, Ratmini Soedjatmoko, hingga Yanuar Ernawati. Tak ketinggalan karya generasi yang lebih belia, seperti patung-patung dari Dolorosa Sinaga dan Iriantine Karnaya.

Dalam Pencarian Belum Selesai, buku memoir yang terbit saat Toeti berusia 70 tahun, Toeti menulis kenangannya akan Paris. Dia menggambarkannya sebagai kota yang penuh cinta dan filsafat. Di sini pula dia menjalin persahabatan dengan Salim, pelukis yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di flat sederhana.

Pada 1990-an, Toeti menawarkan Salim berpameran di Jakarta. Salim kemudian mengirim 54 karyanya. Tapi komunikasi Dewan Kesenian Jakarta dengan Salim kurang lancar. Seluruh karyanya masuk tanpa membayar bea, sehingga dilarang dijual. “Saya benar-benar merasa tertekan saat itu. Apalagi Salim sebenarnya sudah tidak melukis karena ada sakit ‘alergi’ warna biru,” kenang Toeti.

Di saat yang hampir bersamaan, Toeti mendapat tawaran membeli mobil baru dari perusahaan keluarga Biro Oktroi Roosseno yang didirikannya. Kebetulan pagu yang ditawarkan perusahaan sama dengan uang yang harus dikeluarkan guna membeli seluruh lukisan Salim, yakni Rp137 juta. “Saya kemudian minta mentahnya saja,” ujarnya. Tapi untuk itu ada syarat yang mesti dipenuhi: karya bisa dibeli jika untuk kepentingan umum. Akhirnya Toeti pun mengerek Galeri Cemara 6 pada 1993.

Atmosfer rumahan membuat museum bercorak semi-Mediterania ini terasa intim dan akrab. Di antara barisan bingkai, kita mendapati pernak-pernik pemilik rumah. Jika mendambakan suguhan yang lebih aktual, pengunjung bisa melihat pameran di Galeri Cemara 6. Tempat ini meninggalkan banyak catatan dalam sejarah politik nasional. Di ujung kekuasaan Orde Baru, halaman tengah galeri aktif menyuguhkan teater, pembacaan puisi, hingga rapat gelap demonstran. Toeti juga menggelar rapat pendirian PAN dan Suara Ibu Peduli di sini.

Tontonan lain di Cemara 6 adalah kamar tidur Raden Ayu Oentari dan ruang Roosseno. Kedua orang tua Toeti merupakan sahabat dekat mendiang Presiden Soekarno. Roosseno, seorang pakar teknik beton terapan, sempat tiga kali menjadi menteri di zaman Soekarno. Di tengah ruangan ada maket Candi Borobudur. Bersama UNESCO, Roosseno terlibat merestorasi candi itu.

Berpaling ke kamar tidur RA Oentari, kita disuguhi lemari, kursi, sejumlah foto keluarga, juga sebuah lukisan potret diri RA Oentari karya Basoeki Abdullah. “Museum ini ke depannya bisa menjadi sejarah keluarga,” ujar Toeti. Museum ini juga dilengkapi tiga kamar berkonsep homestay yang artistik dengan tarif Rp300 ribu per malam. “Setiap bangun tidur, hati saya tenang karena rumah saya semakin tertata baik,” tambahnya.

November lalu, Museum Cemara 6 genap berusia setahun. Tiket untuk pengunjung sangat terjangkau, hanya Rp10 ribu, itu pun sudah mencakup minuman dingin dan camilan di kafe. Tempat ini memang tak sedang memburu laba, tapi bukan berarti sang pemilik kebal dari ongkos operasional. “Saya harus membeli genset agar saat mati lampu lukisan tetap terawat,” katanya. Jl. Hos Cokroaminoto No.9-11, Menteng; 021/3911-823; cemara6galeri.wordpress.com. >>

Lebih Bersinar di Shanghai
Pintu Yuz Museum tertutup rapat. Pada dinding kaca, terpasang sebait pengumuman: “museum ditutup untuk persiapan sebuah pameran.” Tapi, usai pintu diketuk, seorang pria muncul dan mengatakan museum ini tak punya rencana pameran apa pun.

Sambutan yang tak diduga. Saya membayangkan Yuz akan sesak oleh manusia. Pemiliknya, Budi Tek, sedang menjadi buah bibir. Yu De Yao, nama Budi Tek di Cina, diberitakan telah menggelontorkan Rp3 triliun guna berbelanja karya seni.

Majalah Art+Auction menempatkan Budi Tek dalam daftar 10 kolektor paling berpengaruh. Namanya disejajarkan dengan figur-figur kondang pengumpul karya seni semacam Roman Abramovich dan Sheikha Al Mayassa. Pada 2010, Budi Tek membuat geger ketika membeli lukisan Chapter of a New Century-Birth of the People’s Republic of China II (1992) karya Zhang Xiaogang. Harganya bukan main, $6,7 juta. Tak heran jika masuk daftar rekor transaksi terbesar oleh kolektor berdarah Indonesia di balai lelang Sotheby’s Hong Kong.

Budi Tek punya ketertarikan menggebu pada karya perupa Cina, sebut saja Yue Minjun, Fang Lijun, dan Wang Guangyi. Karya-karya mereka dipajang di rumahnya di Shanghai. Pengusaha yang sukses dari berjualan pakan ternak ini memang cukup patriotik. “Saya orang Cina. Saya mengagumi seniman Cina dan karya-karya mereka,” ujarnya dalam wawancara dengan sebuah media.

Lewat Budi Tek pula banyak perupa kontemporer Cina dikenal di Indonesia. Dia pernah mengajak Fang Lijun dan Yue Minjun ke Jakarta, lalu melawat ke OHD Museum di Magelang. Budi Tek punya hubungan khusus dengan pemilik OHD Museum, Oei Hong Djien, orang yang membuat Budi Tek membangun minat pada seniman Indonesia. “Saya bilang, banyak juga loh karya perupa kontemporer kita yang bagus,” ujar Oei Hong Djien padanya suatu kali.

Berkat pengaruh OHD, Yuz Museum Jakarta pun tak cuma rajin mengusung karya perupa Cina. Tiga tahun lalu, tempat ini menggelar pameran retrospektif Dadang Christanto. Karya-karya politis sang eksponen Gerakan Seni Rupa Baru itu disebar di lima lantai. Judul acaranya: Mengingat Senyap. Mei tahun lalu, Budi Tek menghebohkan dunia dengan membangun sebuah museum pribadi di Shanghai.

Yuz Museum Shanghai disebut majalah The Economist sebagai satu dari lima museum di dunia yang pembukaannya paling dinanti pada 2014. Gebrakan perdana Yuz Museum Shanghai adalah Myth/History, pameran yang memajang 100 karya pilihan Profesor Wu Hung. Sangat disayangkan, setelah liputan gemebyar di Shanghai, Yuz Museum Jakarta justru meredup. Darmawangsa Square Lt.2, Jl. Darmawangsa VI; 021/7278-8272; yuzf.org. >>

Pameran seni di Art:1, kompleks yang didesain untuk pameran berskala besar.

Seni Untuk Semua
Instalasi Sunaryo berupa kesibukan pekerja konstruksi, langsung mencolok mata begitu memasuki Art:1 New Museum. Kompleks seluas 6.000 meter persegi ini terdiri dari dua gedung. Yang pertama bertindak sebagai museum dan menampung koleksi Martha Gunawan, sang pemilik Art:1. Gedung lainnya yang berbentuk oval difungsikan sebagai art space.

Martha merupakan pecandu seni dengan jejak yang panjang. Sebelum mendirikan museum, dia selama hampir tiga dekade bergelut di bidang seni rupa. Pada 1983 di Gajah Mada Plaza, dia mendirikan Mon Décor yang cukup legendaris karena menjadi pelopor galeri komersial. Kehadiran tempat ini bersamaan dengan tumbuhnya minat publik pada seni rupa modern.

Martha juga memopulerkan poster seni (artwork repro) untuk interior. Saat itu, karya-karya replika Salvador Dali, Rembrandt, van Gogh, atau Renoir mempercantik rumah-rumah kaum kaya di Jakarta. Martha punya andil besar dalam menciptakan boom seni rupa Indonesia, terutama ketika Mon Décor menggelar pameran 70 Tahun Seni Lukis pada 1989. Saat itu, Martha menaikkan seluruh harga lukisan para maestro semacam Affandi, Hendra, Sudjojono, Antonio Blanco, Arie Smith, serta Lee Man Fong. Hasilnya, karya-karya itu justru laris manis. “Karena saat itu harga lukisan karya perupa kita masih sangat rendah dibandingkan harga perupa Asia,” kata Martha.

Kini, melalui Art:1, Martha hendak mengembalikan apa yang telah diperolehnya dari publik. Koleksinya terbentang luas, mulai dari karya maestro hingga perupa kontemporer seperti Putu Sutawijaya, Agus Suwage, hingga Heri Dono. “Saya selalu berusaha membeli karya yang punya wacana, konsep, dan konteks,” jelas Martha.

Koleksinya menampung karya yang penting dalam memetakan sejarah seni rupa nasional. Misalnya Kamar Ibu dan Anak dari Jim Supangkat. Karya 1975 dari eksponen Gerakan Seni Rupa Baru itu penting karena bersifat arsip kebudayaan. Kita bisa melihat pergulatan seniman muda yang merasa terkungkung oleh tradisi dan institusi seni mapan. Sejumlah karya Heri Dono yang pada masanya begitu menguasai wacana kontemporer juga terpajang. Karya-karyanya disandingkan dengan lukisan para perintis seni rupa modern Indonesia, sebut saja Love and Peace dari Srihadi Soedarsono.

Sejumlah koleksi favorit Martha ditempatkan di ruang khusus. Di ruang kerjanya, dia memasang dua lukisan karya kurator seni Bung Karno, Lee Man Fong, dan Cristiano. “Kedua karya ini selalu jadi inspirasi bisnis saya,” ujarnya. Instalasi Anusapati bertajuk Nenek Moyangku Orang Pelaut berupa perahu terbalik juga terpasang.

Art:1 juga patut diapresiasi atas fasilitasnya yang lengkap. Dinding art space yang melingkar tanpa sudut memudahkan seniman untuk berpameran. Heri Dono pernah melukis Art Odyssey sepanjang 30 meter pada dinding ini. Aneka figur absurd, mistis, dan naif buatannya begitu mencekam. Berkat pencahayaan yang prima, kreasi rumit Heri Dono yang melibatkan suara, gambar, dan gerak dapat dipresentasikan secara menggugah.

Usai menyerap koleksi seni, pengunjung bisa bersantai di kafe di muka gedung. Peneliti dan akademisi bisa melahap buku-buku seni rupa yang cukup lengkap di perpustakaan. Fasilitas lainnya adalah ruang konsultasi untuk restorasi dan konservasi lukisan yang diasuh oleh Monica, putri Martha, yang berguru ilmu restorasi di Italia. Dari tangannya, lebih dari 600 lukisan, mulai dari karya Affandi, Hendra, Sudjojono, hingga Pablo Picasso, pernah “diremajakan.”

Martha memiliki program satu pameran besar per tahun, di luar pameran rutin setiap tiga bulan. Pameran besar ini umumnya menyoroti hanya satu tokoh. Dua nama yang pernah diangkat adalah Srihadi Soedarsono dan Heri Dono. Buku yang mengupas keduanya diluncurkan saat pameran.

Atas segala keunggulannya itu, Art:1 diganjar Museum Award 2012 untuk kategori sarana dan fasilitas pengunjung. Dalam konteks nasional, tempat ini juga punya peran penting dalam mengatasi masalah kelangkaan wadah pameran berskala besar di Jakarta. Pameran yang sifatnya retrospektif selama ini hanya bisa digelar di Galeri Nasional, padahal tempat ini senantiasa penuh sepanjang tahun. Jl. Rajawali Selatan Raya No.3; 021/6470-0168; mondecor.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Ruang Relikui”)