Lisbon menyimpan banyak bangunan-bangunan uzur dengan desain menarik.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Ulet Ifansasti
Penata gaya oleh Peter Zewet

Rabu malam, Atiqah Hasiholan menyempil di antara tamu, saling bersinggungan siku, duduk canggung di sebuah kafe remang yang diterangi lilin. Seorang wanita dan dua gitaris lalu tampil ke muka. Pintu ditutup. Telepon genggam dibungkam. Hening mengembang. Pentas agaknya bakal segera dimulai. Pentas paling membius di tanah Lisbon.

Sang biduan membawakan nomor-nomor andalannya. Dia bernyanyi dalam bahasa Portugis. “Lagu ini mengisahkan kekasihnya yang tergoda wanita lain di bar,” Ricardo, seorang pengunjung, berbisik pelan. Katanya lagi, Fado senantiasa mendendangkan lirik-lirik yang melankolis, menyuarakan ratapan dan jeritan hati, menuturkan rindu yang tak sampai atau hari-hari yang murung. “Pentas yang berkesan,” ujar Atiqah. “Saya tak mengerti liriknya, tapi bisa merasakan maksudnya.”

Fado adalah salah satu ikon budaya Portugal. Oleh UNESCO, seni rakyat ini dinobatkan sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2011. Dan layaknya seni rakyat, penciptanya tak jelas, hikayatnya kabur. Salah satu versi cerita mengklaim Fado dipengaruhi oleh seni tari asal Afrika. Portugal memang memiliki riwayat panjang dengan bangsa muslim Moor asal Afrika Utara. Kata Fado berarti “takdir,” dan lagu-lagunya kerap disertai ekspresi “oxala,” serapan dari kata insya-Allah.

Di Lisbon, Fado dipentaskan di banyak ruang seni. Tapi suguhan paling autentik hanya tersaji di tanah kelahirannya, Desa Alfama, tempat Atiqah malam ini berada. Alfama adalah desa elok yang bertengger di lereng dan dibelah-belah oleh gang sempit bagaikan labirin. Salah satu desa terindah di tengah Lisbon yang metropolis.

Atiqah mendarat di Lisbon di ujung musim dingin. Aktris yang pernah berperan dalam 17 film ini melompat-lompat ke banyak tempat, berusaha menyelami keindahan kota terbesar di tepian barat Eropa ini. “Sebelumnya saya tidak mengenal Lisbon, juga Portugal. Ketika akhirnya sampai, saya cukup terkejut mendapati kota ini ternyata sangat siap menyambut wisatawan,” ujarnya.

Kiri-kanan: Desa historis Alfama dengan latar Gereja São Vicente de Fora. Busana dan sepatu oleh Hermès; Terreiro do Paço, alun-alun utama yang dihuni banyak monumen, kafe, serta sebuah toilet umum ‘terseksi’ di Lisbon. Busana dan sepatu oleh Michael Kors.

Lisbon punya hikayat yang panjang dan akbar. Ia adalah salah satu kota tertua di dunia, bahkan jauh lebih tua dari London dan Paris. Dari sinilah dulu para petualang dunia—mulai dari Vasco da Gama hingga Bartolomeu Dias—bertolak dengan kapal layar guna memetakan bumi sekaligus melebarkan sayap imperium Portugal hingga ke Afrika, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia.

Sejak abad ke-13, Lisbon menyandang status Ibu Kota Portugal. Luasnya 85 kilometer persegi, kira-kira separuh luas Jakarta Timur, sementara populasinya mencapai 550.000 jiwa, ditambah 2,5 juta jiwa lainnya yang hidup tersebar di kawasan satelit Metropolitan Area.

“Lisbon menampilkan desain yang menarik. Tata kotanya sangat dijaga. Rumah dan bangunan terlihat memiliki tema senada,” jelas Atiqah. “Kelebihan lainnya, turis belum terlalu banyak. Berjalan-jalan di kota ini sangat menyenangkan.” Tapi Lisbon yang kini dilihatnya sebenarnya Lisbon yang “baru.” Selain Desa Alfama, hampir sekujur kota merupakan produk rekayasa sipil yang digelar pada abad ke-18. Syahdan, pada 1 November 1755, gempa mengguncang Lisbon, mengirimkan tsunami yang menyapu kota, dan mencabut 60.000 nyawa—seperempat populasi kota kala itu.

Dan bencana itu tak cuma mengoyak bumi, tapi juga iman. Di hari nahas itu, warga sedang memperingati All Saints’ Day dengan menggelar beragam ritual. Gereja sesak oleh jemaah. Lilin-lilin disulut di penjuru kota. Lilin ini jugalah yang kemudian mengakibatkan banyak gedung terbakar setelah bumi bergoyang. Pascagempa, orang-orang mulai mempertanyakan Tuhan. Benarkah Dia maha penyayang? Apalagi, ketika banyak gereja rata dengan tanah, sejumlah rumah bordil justru selamat.

Pascagempa, Lisbon dibangun ulang. Kota ini melakoni operasi rekonstruksi wajah paling monumental dalam sejarah Portugal. Di bawah titah Raja Joseph I, beberapa bagian kota dicetak ulang dalam semangat Zaman Pencerahan yang sedang membasuh Eropa. Dari puing dan bara, Lisbon terlahir kembali. Tapi ia bukan Lisbon yang sama, baik dalam hal penampilan maupun keyakinan. >>