Berstatus kritis, badak hitam tersisa hanya 5.500 ekor, sebagian hidup di Afrika Selatan. (Foto: David Clode)

Lewat penjualan obligasi, Bank Dunia bertekad kumpulkan dana publik demi selamatkan badak hitam Afrika. Obligasi konservasi pertama di dunia ini tersedia di pasar mulai medio 2021 dan dicanangkan berdurasi lima tahun, dengan nilai total $45 juta (sekitar Rp650 miliar).

Dana yang terkumpul akan disalurkan ke dua lokasi di Afrika Selatan, yakni Addo Elephant National Park dan Great Fish River Nature Reserve. Dikutip dari Bloomberg, profit investor akan didasarkan pada kenaikan populasi badak hitam di kedua tempat tersebut setelah lima tahun, dengan target pertumbuhan 4% per tahun.  

Menurut IUCN, lembaga monitor satwa, badak hitam berada dalam status kritis. Populasinya tersisa hanya 5.500 ekor, dengan 2.000 di antaranya hidup di Afrika Selatan. Ancaman kepunahan mereka disebabkan oleh perburuan liar demi mendapatkan cula badak, komoditas yang laris di pasaran, terutama di Tiongkok dan Vietnam.

Safari udara di Kenya. Akibat pandemi, Afrika terancam kehilangan miliaran dolar pendapatan dari bisnis safari. (Foto: Sutirta Budiman)

Inisiatif Bank Dunia untuk menolong badak hitam awalnya diumumkan pada 2020, lewat kemitraan dengan Global Environment Facility. Setelah tertunda akibat pandemi, obligasi ini akhirnya akan ditawarkan ke pasar, persis di momen yang urgen. Akibat susutnya turis, Afrika terancam kehilangan miliaran dolar pendapatan dari bisnis safari. Situasi suram ini berpotensi mendorong orang mengambil jalan pintas dengan memburu satwa yang dilindungi. 

Andaikan “obligasi badak” ini sukses, Bank Dunia akan menawarkan investasi sejenis untuk penyelamatan satwa lain, termasuk singa dan gorila, juga melebarkan fokus wilayahnya. Dikutip dari Earth.org, dana obligasi tahap kedua kemungkinan akan disalurkan ke tiga suaka di Kenya, yakni Lewa Borana Conservancy, Ol Pejeta Conservancy, serta Tsavo West National Park.Cristian Rahadiansyah