Intervensi Berbekal Empati

Dokumentasi foto rentan terjerumus dalam eksploitasi. Empati bisa mengurangi risikonya.

(Foto: Yoppy Pieter)

Oleh Lucia Dianawuri

Kamera adalah medium yang penuh risiko. Ia bisa membentuk realitas, dan pada beberapa kesempatan bisa mengusik kenyataan orang lain. “To photograph people is to violate them,” tulis Susan Sontag dalam On Photography. Ketika kita memotret orang lain, bisa jadi kita mengganggu mereka atau melanggar batas-batas privasi mereka.

Memotret juga berpotensi mengubah subjek yang kita foto menjadi objek, dan secara simbolik apa yang kita potret itu menjadi milik kita. “It turns people into objects that can be symbolically possessed,” tulis Sontag lagi. Yang kita potret itu membeku, dan tersimpan dalam kamera kita.

Di masa awal ketika kamera masuk Nusantara, muncul duet Walter Woodbury dan James Page yang membekukan wajah Nusantara. Lewat foto-foto mereka, imaji “bumi rempah” merambah Eropa dan belahan dunia lain. Kasus serupa terjadi pada Kassian Cephas, fotografer pertama dari kalangan pribumi, yang mendokumentasikan Yogyakarta.

Lewat mereka, Mooi Indie pun menjangkiti dunia. Wajah-wajah eksotis “Timur Jauh” tertempel pada ruang-ruang imaji. Gambaran tentang perempuan berkulit sawo matang dengan payudara ranum tak terbungkus, juga sawah nan hijau yang terhampar luas, semua itu menghiasi bayang-bayang Eropa tentang Nusantara. Mooi Indie menjadi begitu indah dan berjarak. Selalu menarik untuk dipandang, dikunjungi, tanpa benar-benar terlibat, masuk ke jelaganya.

Semua bangsa-bangsa poskolonial pasti memahami hal itu. Kita punya imaji-imaji yang menubuh dalam kesadaran tentang apa yang dianggap elok. Ini gejala umum, di mana “yang berbeda” akan dipandang sebagai objek yang menarik untuk dilihat, lalu diabadikan. “Yang berbeda” dan menarik untuk divisualkan itulah yang disebut “eksotis.” Kita pun acap kali tanpa disadari turut merayakannya.

Kebanyakan dari kita, jika mendengar kata Asia, maka yang terlintas adalah benua penuh bumbu, Dunia Ketiga yang penuh warna. Dan jika mendengar Eropa, yang terlintas adalah peradaban maju dan modernitas. Pada masing-masing ruang menempel stereotip. Ketika salah satu pihak memegang kamera, maka gambar yang akan tercipta adalah gambar yang sesuai dengan imaji si pemegang kamera. Gambar-gambar itulah yang akan menjadi realitas.

Tentu, tidak ada yang benar-benar salah dengan realitas semacam itu. Apalagi itu sudah menjadi kewajaran. Namun, sebelum kembali mereproduksi realitas semacam itu, ada baiknya kita berpikir kritis dan memahami konteks ruang. Contohnya saat kita berkunjung ke rumah orang lain, tentu sebaiknya kita mengikuti aturan rumah itu, misalnya dengan melepas sepatu. Jika kita mengabaikan aturan, tentu laku itu boleh disebut tidak etis. Selanjutnya, jika kita berempati dengan si pemilik rumah, tentu sebelum bertandang kita akan mencari tahu konteks ruang yang kita kunjungi, sehingga mengurangi risiko merasa tidak enak dengan si pemilik rumah. Hal serupa berlaku ketika memotret. Berbekal empati terhadap apa yang kita foto, serta pengetahuan atas konteks yang difoto, maka kita akan meminimalisasi risiko.

Baca juga: Sebelum & Sesudah Cetak; Pelajaran dari Perpignan

Sekali lagi, memotret berarti mengintervensi ruang yang dipotret. Kita masuk ke ruang personal subjek. Ini yang dimaklumi oleh fotografer senior Don Hasman saat mengatakan, “untuk memotret diperlukan etika. Sebagai tamu kita juga harus punya tujuan yang baik, dan menjelaskan dengan jujur mengenai tujuan datang ke daerah mereka.” Yang paling penting, kita harus tahu bahwa tidak semua orang, atau semesta lain, bisa menerima bahwa apa yang kita anggap kebenaran, berarti kebenaran bagi mereka juga.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Intervensi Berbekal Empati”).

Lucia Dianawuri
Sempat menjadi wartawan LKBN Antara, penulis, dan editor lepas untuk beberapa penerbit, Lucia kini bekerja sebagai editor insist Press. luciadianawuri.blogspot.com

Comments