Kiri-kanan: Raw garden wrap, menu dengan bahan lokal di restoran; Sarinbuana berdiri di lanskap rimbun di ketinggian 700 meter.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

Di bungalo, tidak ada AC maupun televisi. Di kamar mandinya, sabun dibuat dari bahan minyak kelapa dan kedelai. Beralih ke restoran, sedotan diharamkan dan nyaris seluruh menu diracik memakai bahan-bahan setempat, baik yang dipetik di kebun sendiri ataupun dipasok desa di sekelilingnya, sehingga konsumsi bensin untuk distribusi bisa ditekan.

Sarinbuana Eco Lodge berusaha menerjemahkan secara harfiah konsep hotel ramah lingkungan. Properti yang sepertinya bakal dipuji oleh Al Gore atau Emil Salim. “Konsep ramah lingkungan mencakup banyak hal, mulai dari arsitektur, manajemen, hingga dampak yang diberikannya kepada area sekitar,” ujar sang pemilik, Linda van’t Hoff.

Tapi ramah lingkungan bukan berarti “menderita.” Aspek-aspek kenyamanan sebuah hotel modern tidak dinafikan. Sarinbuana dilengkapi shower dengan air panas, tapi daya semburnya dibatasi. Kolam renang juga tersedia, namun wujudnya laguna alami berdinding batu di dasar lembah. Airnya segar dan bebas kaporit, karena tercurah langsung dari mata air di perut gunung. “Warga di sini biasanya langsung meminum airnya, tidak dimasak lagi,” kata Putri, staf resor.

Kiri-kanan: Agus, pemandu trekking binaan resor; Teras bungalo menyuguhkan panorama lembah dan kawasan selatan Bali.

Sarinbuana terletak di kaki Batukaru, gunung tertinggi kedua di Bali. Sejak beroperasi sembilan tahun silam, resor ini pernah menerima dua penghargaan dalam Wild Asia Responsible Tourism Awards. Di situs environmentallyfriendlyhotels.com, resor ini memenuhi 29 kriteria dari total 33.

Jaraknya hampir tiga jam dari bandara. Banyak tamu datang untuk menyepi, sekaligus menikmati sinyal telepon yang kerap raib total. Di kaki Batukaru, hanya satu-dua mobil lewat per harinya. Ada lebih banyak pohon ketimbang manusia. Di malam hari, kita hanya akan mendengar orkestra jangkrik dan tonggeret. Andaikan beberapa serangga mampir ke kamar, tamu tak perlu khawatir. Menurut keterangan resmi resor ini, “kehadiran serangga tidak merefleksikan standar kebersihan yang rendah. Alih-alih, itu tanda sebuah ekosistem yang sehat.”

Ritual menebar canang di pagi hari oleh staf resor.

Sarinbuana memang tempat menyepi yang ideal, tapi resor ini bukan semata wadah untuk merayakan individualisme. Setiap orang senantiasa digoda untuk ikut mendukung visi utama resor, yakni memberi dampak signifikan pada lingkungan. Ada banyak caranya. Salah satunya: donasi pohon. Dengan mengalokasikan Rp25.000, tamu berarti membeli satu tunas dari petani. Tiga kali per tahun, tunas-tunas hasil sumbangan itu ditabur di lereng Batukaru. Hingga kini, sudah 600 pohon yang ditanam.

Contoh aktivitas lainnya: mengikuti Rainforest Walk. Sarinbuana melatih lima warga lokal untuk menjadi pemandu trekking. Mereka akan mengajak tamu mendaki lereng Batukaru dan menyapa para penghuninya, mulai dari burung hingga anggrek. Tur mulia ini punya faedah ganda: membuat warga bisa merasakan manfaat ekonomi dari hutan, serta mengurangi aktivitas penebangan. Pertanyaannya kini, apakah hotel semacam itu menguntungkan secara bisnis?

“Sebenarnya justru lebih murah dalam hal operasional,” jawab Linda. “Bohlam LED bisa mengurangi konsumsi listrik. Jika memasak dengan bahan lokal, biaya distribusi bisa disunat. Banyak yang bisa dihemat. Tapi banyak orang masih ingin menikmati kemewahan dengan cara-cara lama: handuk diganti setiap hari, makanan diimpor, dan seterusnya. Pelaku industri punya tanggung jawab untuk mengedukasi publik.”

Kiri-kanan: Menu sarapan di Sarinbuana; Sayur-sayuran yang dipetik langsung dari kebun di kompleks resor.

Berita baiknya, kesadaran industri mulai tumbuh. Linda dan suaminya pernah disewa sebagai konsultan oleh investor hotel yang menganut visi sejalan. Ada tiga properti yang pernah mereka tangani, yakni Bali Eco Stay, Sumber Sari Eco Villas, serta LooLa Resort di Bintan. Di hari terakhir di resor, saya trekking di pinggang Batukaru. Agus, remaja desa setempat, memandu saya. “Sarinbuana tak cuma menawarkan opsi lapangan kerja di desa ini, tapi juga membuka wawasan warga tentang pariwisata,” ujarnya.

Dengan fasih Agus membeberkan fauna dan flora hutan, termasuk memperlihatkan pohon-pohon donasi tamu resor. Kata sebuah petuah bijak, seorang traveler sepatutnya tidak meninggalkan apa pun kecuali jejak. Di Sarinbuana, kita justru diajak meninggalkan sesuatu, tapi dalam wujud yang bermanfaat bagi alam.

Jl. Arjuna, Banjar Biyahan, Tabanan, Bali; 0828-9700-6079; baliecolodge.com; bungalo isi dua orang mulai dari Rp1.000.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Jun 2014 (“Ramah Buana”)