Pemerintah Vietnam akhirnya memberlakukan penguncian wilayah selama 15 hari di ibu kota, Hanoi, demi mengatasi lonjakan kasus infeksi virus corona. Pada Jumat silam, Hanoi melaporkan 70 infeksi yang dikonfirmasi, tertinggi di kota itu, bagian dari rekor 7.295 kasus di negara tersebut dalam 24 jam terakhir. Aturan ini akan melarang pertemuan lebih dari dua orang, dan hanya kantor pemerintah, rumah sakit, dan bisnis penting yang diizinkan tetap buka. Namun, masyarakat sangat mendukung keputusan tiba-tiba dari pemerintah untuk mengunci kota.

Keputusan ini cukup mengejutkan mengingat Vietnam menjadi satu dari sedikit negara yang berhasil menahan virus selama gelombang pertama pandemi. Salah satu pemicu lonjakan kasus ini disebabkan oleh pemberian vaksin yang lambat karena mereka berharap bisa mencapai kekebalan komunal (herd immunity) pada awal 2022. Selain itu, Vietnam juga memiliki kebijakan untuk merawat semua penderita COVID-19 di rumah sakit, sehingga kekurangan jumlah pekerja medis dan rumah sakit.

Baca juga: Sein Kiri, Belok Kanan: Komunisme ala Vietnam

Pusat ibu kota yang biasanya ramai itu kosong dan toko-toko tutup saat penguncian mulai berlaku, meskipun orang-orang masih terlihat di jalan-jalan di pinggiran kota. Namun, di Kota Ho Chi Minh, penularan wabah telah menunjukkan sedikit tanda-tanda penurunan, karena sebagian besar warga tunduk pada peraturan pemerintah untuk tetap berada di dalam rumah. Pihak berwenang juga telah memulai kampanye untuk mendisinfeksi seluruh kota, yang akan memakan waktu seminggu. Karina Anandya