Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Pada 2020, bandara ini menyambut sekitar 418.000 turis asing. (Foto: Eugenia Clara)

Seperti 2019, Bandara I Gusti Ngurah Rai kembali bertengger sebagai gerbang wisman tersibuk di Indonesia pada 2020. Akan tetapi, akibat pandemi, jumlah riil wismannya susut drastis, dari 6,2 juta menjadi hanya satu juta.

Defisit serupa terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, peringkat dua gerbang wisman tersibuk. Pada 2019, loket-loket imigrasi di terminalnya menstempel 2,4 juta paspor asing. Pada 2020, jumlahnya turun signifikan menjadi 418.000.

Secara kolektif, seluruh bandara di Indonesia menyambut 1,6 juta turis asing pada 2020. Mayoritas mendarat di Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta, sisanya mendarat antara lain di Husein Sastranegara (Bandung), Juanda (Surabaya), dan Kualanamu (Medan).

Dibandingkan 2019, arus wisman di bandara itu drop hingga 83%—penurunan terparah dalam sejarah. Periode paling kronis berlangsung dari April-Juli 2020. Di April misalnya, setidaknya delapan bandara tak menerima satu pun penumpang asing. Di Mei, ada 10 bandara di mana petugas imigrasi menganggur.  

Armada Garuda Indonesia dengan livery kampanye pakai masker di Soekarno-Hatta. Pada 2020, kedatangan wisman di bandara Indonesia susut 83%. (Foto: Garuda Indonesia)

Namun begitu, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat pada akhir tahun. Di sejumlah bandara, angka wisman merangkak naik. Ngurah Rai misalnya, menyambut 127 wisman asing di Desember, meningkat dari hanya dua wisman di November. Di Juanda, ada 85 turis asing di Desember, meningkat dari 69 di November. Cristian Rahadiansyah