Tradisi minum teh Ochamori.
Features

Ochamori, Sensasi Minum Teh dari Mangkuk Raksasa

Tidak seperti di Tōdai-ji atau Kasuga Taisha, Saidai-ji sama sekali tidak dipadati wisatawan. Saya bahkan bisa mendengar daun berbisik dan angin yang sesekali berembus membelai rambut; dan meski musim semi hampir berakhir, kelopak bunga sakura terlihat masih memberi warna di kompleks kuil, membuatnya semakin kontemplatif nan cantik.

Saidai-ji. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)

“Saidai-ji memang tidak seramai kuil lain. Ramainya hanya di perayaan tertentu saja,” ujar Makoto (General Manager Novotel Nara). Namun justru di tengah kesunyian itulah, tradisi kuno bernama Ochamori terasa semakin sakral.

Kami kemudian diarahkan menuju sebuah bangunan machiya yang masih mempertahankan nuansa autentiknya. Di sana, Sasao Shouken—biksu di Kuil Saidai-ji, telah menunggu untuk memandu kami menyelami ritual yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Sebelum upacara dimulai, ia menyuguhkan sebutir wagashi, yaitu kue manis dengan bentuk menyerupai koin emas tertua di Jepang yang ditemukan di area kuil. Sembari menikmati wagashi, Sasao-san mulai menceritakan sejarah panjang Saidai-ji yang telah berdiri sekitar 1.250 tahun lalu.

Sasao Shouken, biksu di Saidai-ji. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)

“Tradisi Ochamori sendiri bermula sekitar 800 tahun silam, saat kuil direnovasi oleh seorang biksu bernama Eison,” ujar Sasao memulai penjelasannya. Pada masa itu, masyarakat Nara tengah menghadapi wabah penyakit dan kelaparan. Di tengah situasi tersebut, Eison memanjatkan doa agar masyarakat dapat hidup dengan damai, tanpa pertikaian, dan tetap memiliki alasan untuk tersenyum.

“Sebagai bentuk syukur, ia mempersembahkan teh kepada para dewa, sesuatu yang pada masa itu tergolong mewah dan hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan,” tambahnya.

Yang membuat Ochamori begitu menarik adalah semangat kesetaraan yang dibawa Eison. Alih-alih menyimpan teh tersebut untuk kalangan tertentu, ia memilih membagikannya kepada siapa saja tanpa memandang status sosial.

Mangkuk raksasa untuk minum teh
Karena jumlah cangkir saat itu terbatas, Eison menggunakan wadah berukuran besar agar semua orang dapat minum dari bejana yang sama secara bergiliran. Sasao menjelaskan bahwa tradisi berbagi wadah ini menjadi simbol kepercayaan yang mendalam. “Minum dari wadah yang sama berarti kita saling percaya bahwa tidak ada racun di dalamnya,” ujarnya, “sebuah bentuk dukungan satu sama lain, melampaui status maupun ras.”

Dalam budaya Jepang, perjamuan besar dengan minuman alkohol biasanya disebut sakamori. Namun karena alkohol tidak diperbolehkan dalam tradisi kuil, kata saka diganti menjadi ocha atau teh. Dari situlah istilah Ochamori lahir. Ochamori sendiri berarti sebuah perjamuan teh yang dirayakan dengan sukacita bak dalam pesta.

Ritual kemudian dimulai ketika Sasao perlahan mengaduk bubuk matcha yang dipanen dari Uji di dalam mangkuk keramik raksasa. Mangkuk tersebut bukan sekadar peralatan minum biasa, melainkan benda bersejarah yang telah digunakan selama puluhan tahun. Beberapa koleksi mangkuk bahkan berumur puluhan hingga ratusan tahun. Ukurannya begitu besar dan berat.

Minum teh Jepang dari Mangkuk Besar, Ochamori
Tradisi meminum teh dari mangkuk besar (Ochamori). (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)

Ketika mangkuk itu akhirnya berpindah ke tangan saya, lengan dan jemari terasa sedikit bergetar menahan beratnya. Saya harus menggunakan kedua tangan untuk menopangnya dengan hati-hati. Dahulu, konon hingga 100 orang dapat berkumpul dan berbagi teh hangat dari wadah yang sama seperti ini.

Di balik ukurannya yang besar, Ochamori menyimpan pengingat sederhana tentang kemanusiaan. Delapan abad lalu, Eison mengajarkan bahwa di dalam satu bejana teh, tidak ada kasta ataupun perbedaan. Yang tersisa hanyalah kebersamaan dan kerendahan hati yang dibagikan secara setara kepada sesama.

Hingga kini, tradisi Ochamori masih terasa begitu relevan sebagai simbol kebersamaan. Di tengah gempuran budaya modern, ritual minum teh ini menjadi pengingat sederhana tentang kesetaraan, saling menghargai, dan bagaimana sebuah perjamuan dapat menghadirkan rasa kebersamaan tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Bagi yang ingin merasakan langsung pengalaman ini, Saidai-ji membuka reservasi untuk kunjungan grup dengan biaya ¥2.000 per orang untuk satu sesi. Namun pengunjung dengan jumlah kurang dari 20 orang tetap dapat melakukan reservasi, tergantung persetujuan dari pihak kuil.

Bagaimana, apakah Anda tertarik menyesap teh dari mangkuk raksasa? (chs)