Koleksi produk Umeshu Wakayama yang tersedia di Ume Domaine.
Features

Mencicipi Umeshu di Wakayama, Jantung Produksi Ume Jepang

Wakayama di bayangan saya adalah satu prefektur kuno tempat kecap Jepang lahir, atau jeruk mikan tumbuh. Saya sempat mendengar bahwa daerah ini juga terkenal sebagai penghasil ume, tetapi belum benar-benar memahami mengapa buah itu menjadi identitas Wakayama. Mungkin karena alasan itu, pemandu wisata yang membawa saya menyelipkan satu agenda untuk berkunjung ke sebuah rumah produksi umeshu di Minabe.

Saya tiba di Ume Domaine ARIMOTO, sebuah rumah produksi yang letaknya tidak jauh dari tempat saya menginap. Bukan pabrik besar atau bangunan dengan cerobong menjulang, tempatnya lebih menyerupai rumah produksi keluarga dengan plang bertuliskan “Ume Domaine Farm”, dikelilingi suasana pedesaan yang tenang.

“Welcome to Ume Domaine Farm,” sambut Yohei Arimoto—pemilik pabrik—dengan sumringah. “Ramah, ceria, wajahnya blushing, apa habis minum ume?” guyon saya dalam hati; karena yang saya tahu, produk umeshu mengandung alkohol.

Ume Domaine ARIMOTO. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)

Begitu memasuki areanya, aroma manis langsung menyergap. Di sekeliling saya, pohon-pohon ume sedang dipenuhi buah. Sebagian masih berwarna hijau segar, sementara sebagian lainnya mulai memunculkan semburat jingga, tanda bahwa musim panen semakin dekat.

Sebelum datang ke Minabe, saya mengenal umeshu hanya sebagai minuman beralkohol khas Jepang. Ternyata ceritanya jauh lebih panjang dari itu. Secara sederhana, umeshu dibuat dengan merendam buah ume dalam alkohol dan gula selama beberapa bulan hingga menghasilkan minuman bercita rasa manis, segar, dan asam. Di Jepang, umeshu bahkan menjadi salah satu minuman rumahan yang paling populer. Banyak keluarga membuatnya sendiri setiap kali musim panen ume tiba.

Saya kemudian diajak melihat ruang produksi. Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar, beberapa tong berisi buah ume tampak sedang difermentasi dalam rendaman gula dan alkohol. Masing-masing ditutup rapat dengan plastik tebal. Di sudut lain, botol-botol umeshu berjajar rapi di rak kayu, siap dipasarkan.

Di sela-sela penjelasannya mengenai proses produksi, Arimoto mulai bercerita tentang buah yang menjadi bahan utama minuman tersebut.

Yang mengejutkan, buah ume matang ternyata dapat dimakan langsung. Sebelumhya, saya pikir buah ini sekadar bahan baku umeshu atau umeboshi.

“Rasanya memang tidak manis seperti buah pada umumnya, tetapi tetap enak dimakan saat matang sempurna,” ujarnya. Menurutnya, buah tersebut memiliki tekstur lembut dengan tingkat keasaman yang khas.

Dari percakapan bersama Arimoto, saya menyadari bahwa Wakayama bukan sekadar salah satu daerah penghasil ume di Jepang. Daerah ini adalah pusatnya.

Menurut data dari Japan National Tourism Organization, Wakayama menghasilkan lebih dari 60 persen produksi ume Jepang. Sementara Minabe, kota kecil yang saya kunjungi hari itu, dikenal sebagai sentra produksi ume terbesar di negara tersebut. Dari sinilah lahir Nanko-Ume, varietas premium yang dianggap sebagai salah satu ume terbaik untuk diolah menjadi umeshu maupun umeboshi.

“Di Jepang, kalau orang menyebut ume, hampir pasti yang mereka bayangkan adalah Nanko-Ume,” ujar Arimoto.

Varietas tersebut lahir di Minabe dan kini menjadi salah satu jenis ume paling dikenal di Jepang. Keunggulannya terletak pada kulit yang tipis dan daging buah yang lembut.

“Karena itu Nanko-Ume sangat cocok untuk diolah menjadi umeshu maupun umeboshi,” katanya.

Nanko-Ume varietas ume khas Wakayama. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)

Setelah mendengar penjelasan itu, saya mulai memahami mengapa ume dapat ditemukan hampir di setiap sudut Wakayama. Buah ini tidak sekadar menjadi komoditas pertanian, tetapi telah membentuk identitas daerah selama beberapa generasi.

Ketika saya datang pada April, musim bunga ume telah berlalu. Namun hampir setiap orang yang saya temui di Minabe selalu bercerita tentang bulan Februari, ketika perbukitan berubah menjadi hamparan bunga putih dan merah muda dengan aroma manis yang konon dapat tercium hingga puluhan kilometer jauhnya.

Saya memang tidak datang pada musim berbunga, tetapi aroma buah ume yang memenuhi area Ume Domaine ARIMOTO hari itu cukup untuk membuat saya membayangkan seperti apa semerbak perkebunan di sepanjang bulan Februari.

Bunga plum mekar di bulan Februari. (Foto: C. M./Pexels)

Arimoto bercerita bahwa beberapa minggu setelah bunga-bunga itu gugur, pohon-pohon akan dipenuhi buah.

“Satu pohon bisa menghasilkan sekitar 10.000 buah dalam satu musim,” ujarnya.

Angka itu terdengar luar biasa sampai saya membayangkan ribuan buah menggantung di setiap pohon yang memenuhi perbukitan Minabe.

Keistimewaan ume Wakayama rupanya juga diakui dunia. Sistem pertanian ume di kawasan Minabe-Tanabe telah ditetapkan sebagai Globally Important Agricultural Heritage System (GIAHS) oleh FAO. Selama berabad-abad, masyarakat setempat mengembangkan sistem yang memadukan hutan, lebah penyerbuk, dan kebun ume di lereng pegunungan. Sistem ini tidak hanya menghasilkan buah berkualitas tinggi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.

Namun mempertahankan tradisi tersebut bukan tanpa tantangan.

“Kami sekarang harus menghadapi serangga invasif yang sebelumnya tidak pernah ada di sini. Ada kalanya pohon-pohon harus ditebang karena kerusakannya terlalu parah,” kata Arimoto.

Perubahan cuaca juga mulai memengaruhi hasil panen. “Dalam beberapa tahun terakhir kami mengalami embun beku selama beberapa tahun berturut-turut. Untuk hal-hal seperti itu, petani sebenarnya hampir tidak bisa berbuat apa-apa.”

Meski kebunnya tahun ini masih relatif aman, beberapa wilayah lain di Wakayama disebut mengalami kerusakan yang jauh lebih besar.

Mencicipi Umeshu langsung di pabriknya

Tentu saja, bagian yang paling saya tunggu adalah mencicipinya.

Gelas demi gelas disajikan di hadapan saya. Salah satu yang saya coba adalah Plumity Black, produk andalan Ume Domaine ARIMOTO yang dibuat dari Nanko-Ume. Karakternya terasa cukup kompleks dengan rasa buah yang bertahan lama setelah diteguk.

Saya juga mencicipi Plumity Green yang menggunakan varietas langka bernama Suiko. Karakternya terasa lebih ringan – karena difermentasi dengan gula, tanpa alkohol – dengan aroma yang mengingatkan pada jus pir dan buah-buahan tropis.

Awalnya saya datang ke Wakayama dengan bayangan tentang kecap dan mikan. Namun beberapa jam yang saya habiskan di Minabe membuat catatan dan kesan saya tentang Wakayama bertambah.

Di balik perbukitan yang tenang itu, ada tradisi panjang yang dibangun oleh satu buah kecil bernama ume.

Dan mungkin itu yang paling saya ingat dari kunjungan ini. Bukan hanya rasa manis-asam umeshu yang saya cicipi, melainkan cara masyarakat Wakayama menjaga hubungan mereka dengan buah yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama berabad-abad.

Tempat lain di wakayama untuk mencicipi Umeshu

Bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya umeshu lebih jauh, Minabe dan kawasan sekitarnya menawarkan beberapa tempat yang dapat dikunjungi dengan reservasi terlebih dahulu. Selain Ume Domaine ARIMOTO, peta GI Wakayama Umeshu juga mencantumkan produsen lain seperti Nakata Foods di Minabe, Kishu Homare di Tanabe, hingga Heiwa Shuzou di Kainan. Masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam memperkenalkan salah satu produk paling ikonik Wakayama ini.