Dulu sekali, pada musim semi 1861, Alfred Russel Wallace berkunjung ke Dili. Kala itu, Portugis menguasai seluruh lini. Selama enam bulan di sini, Wallace mencatat. “Pemerintahan Portugis di Timor sangat buruk,” tulisnya dalam The Malay Archipelago. “Setelah tiga ratus tahun menjajah, tidak satu mil pun jalan yang dibuat menuju pedalaman. Semua pegawai pemerintah menindas dan memeras penduduk sesuka hati.” Sekarang, catatan itu seperti bergeming. Gedung-gedung tua, gereja-gereja sepuh, juga agama yang dibawa Portugis bersama sekelompok misionaris pada 1566 bagai tidak bisa lepas dari Timor-Leste. Bahkan, mereka dianggap sebagai daya tarik yang akan mendatangkan wisatawan. Bahasa Portugis diajarkan di bangku-bangku sekolah sejak mata pelajaran Bahasa Indonesia dihentikan pengajarannya. Lebih dari satu setengah abad sejak Wallace menginjakkan kakinya di Timor-Leste, saya datang, walau negeri seluas 15 ribu kilometer persegi ini tidak lagi dijajah Portugis.

Kiri-kanan: Koki di Discovery Inn; Sajian berkelas di Discovery Inn.

Saya mengayuh sepeda menuju penginapan, membelah gerimis. Entah kenapa imajinasi saya kembali ke museum itu, membuat saya tidak ingin melewati kompleks pemakaman Santa Cruz. Entah mengapa saya menuliskannya untuk sebuah catatan perjalanan. Dalam laporan media, kerusuhan di kompleks pemakaman Santa Cruz 1991 itu disamakan dengan Insiden Sharpeville 1960 di Afrika Selatan. Masa-masa berdarah Timor Timur itu berlanjut hingga ia berdiri sebagai negara merdeka.

Ombak di Aeria Branca atau Pantai Pasir Putih di Dili.

Di masa-masa genting 1999, kerusuhan kembali merebak di Dili. Geoffrey Robinson dalam bukunya If You Leave Us Here, We Will Die menceritakan dengan sangat detail tentang kerusuhan itu. “Empat ratus ribu orang mengungsi dan tujuh puluh persen infrastruktur dibakar dan dirusak.” Salah satu korban kebakaran itu adalah Hotel Galaxy di pusat Kota Dili. Di atas reruntuhan Galaxy, Discovery Inn dan restoran mewahnya berdiri anggun dengan konsep butik. Jaraknya cuma lima menit bersepeda dari istana negara. Tony Blair memilih Discovery Inn sebagai tempat menginap ketika berkunjung ke negara ini. Restoran Discovery Inn yang diberi nama Diya Restaurant, menawarkan makanan bercita rasa Pakistan. “José Ramos Horta dan Presiden Xanana sering makan siang di sini,” ujar Ilham, manager harian Discovery Inn. Hotel ini tidak merasakan penurunan pengunjung seperti beberapa hotel yang saya masuki di Dili.

Kiri-kanan: Sajian berkelas di Discovery Inn; koleksi wine di Discovery Inn.

Dari Discovery Inn, saya bertolak ke Distrik Baucau yang dipisahkan jarak 130 kilometer dari Dili. Saya berkendara—kali ini dengan sepeda motor—di jalan berliku dengan kondisi rusak parah dan penuh tanjakan, kontras dari alam sekitarnya yang begitu menggugah. Tanah lapang, bukit-bukit hijau yang ditumbuhi cendana, pantai berpasir putih yang seperti tak pernah dijamah, rawa hutan bakau yang dihuni buaya, bangunan kolonial indah yang terhindar dari konflik 1999—semuanya menghiasi lanskap menuju Baucau.

Jalanan sepi. Hanya satu dua mobil berlabel UN melintas. Saya berhenti di salah satu gereja di Manatuto, disapa anak-anak sekolah yang kemudian menertawakan saya yang memakai bahasa Indonesia. Bahasa yang telah dicabut dari kurikulum dan tidak lagi diajarkan di sini.

Kiri-kanan: Penjual ikan segar di Dili; salah satu penduduk asli Timor di Pantai Wataboo di Osolata, Baucau.

“Walaupun begitu, kami masih suka masakan Padang, kami masih memakai batik. Semua yang telah lalu, biar berlalu,”ujar Aquillno Santos Caeiro, National Director of Marketing for Tourism. “Pariwisata sebetulnya andalan Timor Timur dari dulu, namun ketika di tangan Indonesia, tidak terbuka untuk wisatawan,” tambahnya.