Panorama laut dari sebuah kafe di kompleks sakral Sefa-Utaki.

Teks & foto oleh Kosuke Okahara

Daerah-daerah yang terpisah jauh dari pusat kekuasaan umumnya bernasib suram: tertinggal, terabaikan, tersisih. Kecuali tentu jika daerah itu memiliki posisi vital dalam peta geopolitik global. Okinawa contohnya. Menengok riwayatnya, gugusan pulau di tepi selatan Jepang ini tak ubahnya anak tiri yang terus diperebutkan.

Pada abad ke-15, tatkala Jepang dipimpin para shogun, Okinawa masih dikuasai oleh Kerajaan Ryukyu yang berafiliasi ke Tiongkok. Kepulauan ini baru direbut Jepang pada 1609 usai dianeksasi oleh Klan Satsuma. Selanjutnya, selepas Perang Dunia II, Okinawa berpindah tangan ke Amerika Serikat. Di periode sulit ini, warga lokal bahkan memerlukan paspor untuk melawat pulau-pulau tetangga. Okinawa baru resmi kembali ke pangkuan Jepang pada 1972, di masa ketika negeri ini tengah menikmati buah keajaiban ekonomi.

Kiri-kanan: Pengunjung Sefa-Utaki, pusat ziarah yang penting dalam kepercayaan orang Ryukyu; menu khas lokal berupa nasi yang dimasak dengan rumput laut.

Prefektur Okinawa, sekitar 1.500 kilometer di selatan Tokyo, terdiri dari 160 pulau yang berserakan di perbatasan bawah Jepang. Jaraknya lebih dekat ke Taipei dan Shanghai ketimbang ke Tokyo. Populasinya 1,4 juta jiwa, mayoritas menetap di Pulau Okinawa, pulau terbesar di prefektur ini. Di pulau ini jugalah saya berkelana di akhir Juni.

Perebutan kekuasaan sudah rampung di Okinawa. Kontak senjata telah lama berakhir. Tapi status siaga agaknya belum sepenuhnya dicabut. Usai perang, pasukan Amerika tak pernah benar-benar hengkang. Alih-alih, mereka justru menjadikan Okinawa semacam pos jarak jauh guna memantau para seteru sekaligus sekutunya di Asia.

Kiri-kanan: Mural di American Village; bendera Amerika dan Jepang di markas marinir Camp Foster.

Saya datang saat musim panas sedang melanda Jepang. Dari Naha, gerbang internasional Okinawa, saya berkendara solo ke arah utara, meniti aspal panas yang diapit oleh pagar besi. Rasanya seperti berada di dalam kerangkeng. Tak jarang, jet-jet tempur melintas gesit di udara, menyayat langit dengan suara knalpotnya yang luar biasa bising.

Amerika menempatkan pangkalan udaranya di Kadena, instalasi militer terbesar milik Paman Sam di Asia Pasifik, sekaligus bandara terbesar di Jepang (bahkan lebih besar dari Bandara Narita di Tokyo). Tempat ini dilengkapi dua landasan udara dengan panjang masing-masing 3,7 kilometer.

Dua fotografer memotret pesawat militer Amerika di pangkalan udara Kadena.

Singgah di bangunan empat lantai Road Station Kadena, saya menemukan belasan fotografer amatir yang sedang sibuk memotret. Beberapa menenteng lensa gigantik 400mm. Road Station memang tempat wisata yang populer, walau “wisata” mungkin bukan kata yang sepenuhnya tepat untuk menggambarkannya. Atraksi utama tempat ini adalah menonton alutsista dari jarak dekat. “Ini wadah yang menakjubkan bagi mereka yang mencintai pesawat. Tak ada tempat lain seperti ini,” ujar salah seorang fotografer.

Road Station Kadena menyuguhkan pameran persenjataan yang terbuka gratis, hampir setiap hari sepanjang tahun. Namun tak semua orang menyukainya. Bagi warga lokal, kehadiran jet-jet tempur telah memicu banyak problem pendengaran akibat suaranya yang memekakkan telinga.

Jejak perang lain yang telah menjelma jadi objek wisata terletak sekitar 15 menit dari Kadena Airbase. American Village, kompleks megah yang populer di kalangan remaja, menampung butik, restoran, bar, serta bianglala dan mal. Di antara para pengunjung, kita bisa menemukan serdadu Amerika yang sedang pelesir bersama keluarganya. Okinawa kerap menjadi bola panas dalam perpolitikan nasional, tapi tak bisa dimungkiri pulau ini memiliki keunikan yang memikat turis.

Kiri-kanan: American Village, kompleks megah yang menampung sejumlah butik hingga bianglala dan
mal; suasana pasar ikan Makishi, tempat populer untuk mencicipi seafood.

Berkendara ke arah selatan, saya mengunjungi jejak perang dengan tawaran yang kontras. Himeyuri Peace Museum, bangunan yang mengulas salah satu drama terpedih dalam Perang Dunia II, lebih memicu tangis ketimbang tawa.

Museum ini didirikan pada 1989 oleh para pelajar perempuan yang dulu dipaksa bekerja sebagai staf paramedis bagi pasukan Jepang. Mobilisasi anak-anak ke kancah perang, termasuk sebagai serdadu, merupakan sesuatu yang jamak saat itu. Battle of Okinawa memang episode keji yang meninggalkan banyak catatan hitam. Sekitar 25 persen populasi Okinawa menjadi korbannya.

Himeyuri Museum mengundang kita memahami dampak konflik pada kehidupan para siswi. Saat banyak rekan-rekan sebayanya menikmati keindahan masa remaja, banyak gadis Okinawa justru mesti bertaruh nyawa di antara desing peluru. Terinspirasi kisah dramatis itu pula, banyak sekolah di Jepang rutin menggelar darmawisata ke Himeyuri Museum, walau belakangan jumlah mereka menyusut hingga mencemaskan pihak pengelola.

Kiri-kanan: Gua artifisial yang terhubung ke dinding berisi kompilasi potret para siswi yang terlibat dalam Battle of Okinawa; Momoko Yonaha, salah seorang penyintas Battle of Okinawa.

“Museum ini merupakan objek persinggahan utama dalam trip-trip sekolah,” jelas Chokei Futenma, kurator museum. “Tapi jumlah pelajar yang datang makin hari makin sedikit. Bagaimanapun, saya percaya saya mesti terus menceritakan segala yang terjadi dalam perang agar kelak kita tak mengalami tragedi serupa.”

Koleksi museum ditata apik. Salah satu suguhannya yang paling menyentuh adalah testimoni dari para siswi yang terjebak dalam pertempuran. Ada yang nyaris tewas, menyaksikan rekannya terbunuh, serta mengenang temannya yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Kendati suguhannya memilukan, museum ini memberikan kesempatan langka untuk menyimak langsung kisah malang para gadis penyintas.

Okinawa bukanlah tipikal destinasi wisata di Jepang yang lazim dibayangkan turis. Riwayat perang, posisi geografisnya, serta pengaruh budaya asing telah memberi Okinawa karakter unik yang sulit ditemukan bandingannya. Dalam aspek spiritual, Okinawa juga menyimpan sistem kepercayaan yang berbeda dari kawasan lainnya.

Kiri-kanan: Interior Tubarama, restoran di Naha yang menghidangkan masakan halal; ; sepasang patung
shisa, ornamen khas kepercayaan Ryukyu, di muka sebuah rumah.

Di bawah terik yang menyengat, saya mengunjungi Sefa-Utaki, sebuah kompleks sakral peninggalan Kerajaan Ryukyu. Suasananya hening. Atmosfernya menyejukkan. Tempat yang dibalut alam rindang ini menyimpan cerita tentang keyakinan tua yang dianut penduduk Ryukyu. Sefa-Utaki dipercaya sebagai tempat mendaratnya dewi penciptaan Amamikyu.

Dibutuhkan sekitar 45 menit untuk menziarahi semua situs di Sefa-Utaki. Beberapa petilasan di sini dulu tertutup bagi kaum pria. Bahkan raja pun mesti berdandan seperti wa- nita jika ingin singgah. Tempat-tempat ibadah di Sefa-Utaki, termasuk sejumlah kastel dan monumen batu, telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Meninggalkan Sefa-Utaki, saya mendinginkan tubuh dengan menyeruput es kopi di Umi- no-Isukia, sebuah kedai elok yang tersembunyi dan jarang diketahui pengunjung. Kedai yang baru dibuka beberapa tahun silam ini dilengkapi taman yang menatap laut. Sebuah tempat yang fotogenik untuk mengobati peluh akibat udara lembap.

Aspek lain yang menjadikan Okinawa unik adalah khazanah kulinernya. Ada banyak restoran yang menjajakan masakan lokal, terutama di kota Naha. Seperti apa karakter masakan lokal sebenarnya? Pertanyaan ini sukar dijawab. Satu yang pasti, masakan Okinawa memakai banyak daging babi dan sayur. Di luar itu, kita bisa menemukan sejumlah inovasi ganjil yang dipengaruhi tradisi asing.

Kiri-kanan: Taco-rice, menu yang diciptakan di masa pendudukan Amerika; umibudo (anggur laut), komoditas lokal.

Saat Okinawa dikuasai oleh Amerika, penduduk setempat mengembangkan tradisi dapur yang menyempal dari pakem umum. Salah satu kreasinya adalah taco-rice. Isinya daging, saus, keju, dan selada, yang kemudian ditindih di atas nasi.

Taco-rice diciptakan oleh Matsuzo Gibo, seorang koki lokal. Berniat memuaskan para pelanggannya yang mayoritas tentara muda asal Amerika, Matsuzo meracik hidangan yang sanggup menawar kerinduan mereka akan kampung halaman, tapi tetap dengan sentuhan Jepang. Versi orisinal taco-rice memakai daging sapi, walau kadang dicampur dengan daging hewan lainnya. Seiring perkembangan selera, versi vegetarian kini tersedia, seperti yang saya temukan di restoran Ukishima Garden di Naha.

Layaknya daerah kepulauan, Okinawa juga menyajikan seafood, dan salah satu wadah terbaik untuk mencicipinya adalah Pasar Makishi. Semacam Tsukiji versi mini, tempat yang sudah beroperasi lebih dari 60 tahun ini menjajakan beragam seafood segar dan menampung banyak kedai. Cukup menunjuk ikan atau kepiting yang disukai, maka sang koki akan langsung memasaknya.

Kiri-kanan: Okinawa adalah satu-satunya tempat di Jepang yang memiliki gerai A&W; panorama malam Naha, gerbang internasional Okinawa.

Salah satu komoditas laut yang populer di Okinawa adalah umibudo (anggur laut), sejenis rumput laut yang menyerupai rangkaian anggur mungil. Tak jauh dari Naha, saya mampir di Uminchi, sentra budidaya umibudo yang berlokasi di pesisir cantik. Di luar Okinawa, umibudo sukar ditemukan dan harganya lumayan mahal.

Dalam perjalanan kembali ke Naha, saya melewati A&W, restoran drive-thru pertama di Jepang. Okinawa adalah satu-satunya tempat di Jepang yang memiliki gerai A&W. Awalnya berkiblat ke Tiongkok, lalu dikuasai Amerika, kemudian kembali ke Jepang, Okinawa sepertinya telah terbiasa menerima tamu asing. Identitas kebudayaan pulau ini bahkan lazim dirangkum dengan kata champuru yang artinya “mencampur aduk.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Batas Bawah”).