Kiri-kanan: Etha Widiyanto, pengelola Omah Apik; sarkofagus di Museum Arkeologi Gedong Arca.

Ibarat ajang world music versi Indonesia, Festival Tepi Sawah mengeksplorasi khazanah musik Nusantara. Balawan, Bonita, dan Trie Utami pernah mengisi panggungnya. Di luar nama-nama beken itu, ada musisi gamelan Made Agus Wardana dan Sanggar Ceraken. “Idenya berangkat dari kesadaran tentang minimnya pengetahuan kita seputar musik Indonesia,” jelas Etha, wanita asal Purbalingga yang menetap di Bali sejak 1993. “Banyak musisi kita terkenal di luar negeri, tapi justru kurang dikenal di negerinya sendiri.”

Selain Festival Tepi Sawah, Pejeng memiliki Fascinating Rhythm, sesi kumpul musisi yang bergulir saban bulan sejak 2016, juga di Omah Apik. Di tiap jilidnya, Etha dan kawan-kawan mengundang musisi untuk unjuk kebolehan dan berbagi pengetahuan. “Aliran seninya harus unik,” tambah Etha tentang sistem kurasinya. “Kami pernah menggelar misalnya kelas musik Kuba dan gamelan mulut.”

Kehadiran ajang-ajang musik itu tak ayal menciptakan pemandangan yang kontras sekaligus janggal. Di atas tanah desa yang mengandung penggalan-penggalan masa silam ini, kita diajak menyimak nada racikan masa kini. Rajaraja yang dulu bertakhta di Pejeng mungkin tak pernah menyangka wilayah kekuasaannya akan dijadikan wadah penjelajahan musik.

Ketika ditanya tentang kemungkinan ajang musik membuat Pejeng kian laris di kalangan turis, Etha memberi jawaban yang ambivalen. Dia ingin Pejeng berkembang, tapi juga berharap desa ini “begini-begini saja.” Dari diskusi dengan sejumlah warga, pandangan terbelah itu ternyata juga bagian dari keunikan desa ini. Pejeng

Dewa Suamba misalnya, sudah lama berupaya mempromosikan desanya. Mantan wartawan Bali Post yang mengurus portal resmi Pejeng ini aktif memberitakan desanya, termasuk jika ada situs sejarah yang rusak. Studio foto miliknya bahkan difungsikan layaknya pusat informasi turis. “Kami ingin dapat limpahan turis dari Ubud,” katanya. “Banyak turis melewati Pejeng, tapi sedikit sekali yang menginap di sini.”

Kiri-kanan: Salah seorang tamu di Omah Apik; restoran di Omah Apik.

Kontradiktif dari harapan itu, Tjokorda Gde Agung, Perbekel Desa Pejeng, memandang cemas prospek pariwisata. “Saya tidak tertarik lagi bicara pariwisata,” kata pria yang gaya bicaranya frontal seperti Ahok ini. Atas alasan itu pula, Cok Agung pernah menolak memfasilitasi pengusaha yang ingin membangun resor, juga menampik proposal penelitian desa wisata. Alih-alih menjaring investor dan turis, Pak Kades memilih mengalokasikan energinya untuk mengembangkan sistem irigasi dan bank desa. “Bali tidak butuh lagi pertumbuhan, melainkan keseimbangan,” tambahnya.

Perbedaan sikap itu terkesan janggal lantaran Pejeng sebenarnya sudah mengambil kuda-kuda untuk memasuki industri pariwisata. Pada 2015, desa ini merumuskan peta biodiverseni yang merangkum aset sosial dan hayatinya, sebagai landasan bagi pariwisata yang ramah lingkungan. Di dalamnya tercantum antara lain informasi satwa, situs sejarah, hingga warung tradisional. Menurut redaktur majalah Epicure, Eve Tedja, yang dulu memimpin proyek peta biodiverseni, Pejeng “asetnya luar biasa kaya, tapi tidak tergali dan terpetakan dengan baik.”

Suasana Festival Tepi Sawah, ajang yang mengeksplorasi khazanah musik Nusantara.

Peta biodiverseni sangatlah langka untuk standar Bali. Setidaknya di Gianyar, hanya Pejeng yang memilikinya. Sayang, peta ini berhenti di atas kertas. Rute-rute wisata yang dirancang merujuk pada peta, kini mangkrak sebagai himpunan garis dan data. Promosinya mandek dan pemandu turnya sampai sekarang belum tersedia.

Saat ditanya soal kelanjutan peta bioiverseni, Cok Agung berkelit dengan mengatakan pentingnya merawat alam. Jika dicerna lebih cermat argumennya, Pak Kades sejatinya tidak anti-turis. Dia hanya belum menemukan formula realistis untuk merealisasikan idealismenya soal pariwisata. “Saya ingin Pejeng seperti taman nasional saja,” lanjut pria berdarah bangsawan ini. “Turisnya kalau bisa hanya 20 orang per hari.” Baginya, “Ubud versi lengang” ini jangan sampai berubah jadi Ubud jilid dua.

Kiri-kanan: sastrawan gaek Made Taro menghadiri Festival Tepi Sawah 2019; tampak seorang petani yang sedang berada di salah satu sawah di Desa Pejeng.

Pejeng mungkin bukan cuma teka-teki dari masa lalu. Desa ini juga memunculkan pertanyaan valid untuk masa kini: seperti apa pariwisata yang ideal di Bali?

PANDUAN

Informasi
Bagian dari Kabupaten Gianyar, Desa Pejeng (pejeng.desa.id) berjarak sekitar empat kilometer dari pusat keramaian Ubud. Ada beberapa penginapan di sini, salah satunya Omah Apik (Jl. Kenyem Bulan; 0361/944-324; omahapik.com; mulai dari Rp700.000), sebuah resor butik yang melingkar di tepi sawah. Ini tipikal penginapan sederhana di mana tamu menulis sendiri daftar minuman yang dikonsumsi, sementara kopi dan teh tersedia gratis di restoran. Tiap bulan, Omak Apik menanggap Fascinating Rhythm, tempat musisi unjuk kebolehan dan berbagi pengetahuan. Saban tahunnya, ada ajang Festival Tepi Sawah (festivaltepisawah.com) yang didedikasikan untuk mengeksplorasi khazanah musik Nusantara.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Pejeng Partikular”)