Daya Tarik Wisata Bali Barat

Walau berita suram tentang kritisnya curik masih menghantui, kawasan Bali Barat kembali bergema berkat kehadiran resor baru, atraksi baru, dan magnet wisata baru. Angin segar bagi agenda pemerataan turis di Pulau Dewata.

Kiri-kanan: Jalak Bali yang diambang kepunahan; anggota Kelompok Manuk Jegeg.
Kiri-kanan: Jalak Bali yang diambang kepunahan; anggota Kelompok Manuk Jegeg.

Jalak Bali, burung endemis yang populer dengan nama curik, berhabitat di Bali Barat. Satwa ini telah didaulat sebagai ikon fauna Pulau Dewata pada 1991. Sosoknya sempat diukir pada koin 200 rupiah. Ironisnya, meski dipuja dan disanjung, burung-burung dengan “eyeliner” biru ini justru berada dalam status sekarat. Di alam liar, menurut organisasi Bird Life, populasinya kritis di bawah 50 ekor. Hanya di kandang-kandang kita bisa dengan mudah menyaksikannya.

Melalui paket-paket tur yang dikemas amatiran, Sumberklampok mengundang wisatawan melihat jalak Bali di penangkaran, menjelajahi habitatnya di hutan, juga mengintip telur-telur semut merah yang merupakan santapan favoritnya. “Wisata curik” ini dikemas santai dan menyenangkan, tapi di saat yang sama membuka mata: bahkan di dalam suaka, satwa hidup terancam.

Dipandu Ismu, saya meluncur ke Pos Lampu Merah, salah satu habitat jalak Bali. Jaraknya cuma 13 kilometer dari jalan utama, tapi medan yang berat membuat waktu tempuh molor hingga sejam. Mobil terguncang-guncang saat meniti jalur berbatu di tengah rimba. Di banyak ruas, monyet berbaris mengemis makanan dari pengendara. Mendekati tujuan, mobil menembus jalur berpasir di tepi pantai. Banyuwangi terlihat begitu dekat. Kapal-kapal kargo berlabuh di laut tenang. Bali Barat memang lebih dekat ke Jawa Timur ketimbang Denpasar.

Tiba di Pos Lampu Merah, saya duduk menanti burung-burung datang. Di depan saya, seekor babi dekil berguling-guling di kubangan lumpur. Di kejauhan, belasan ekor rusa merumput di padang lapang. Di Bali Barat, bahkan momen-momen melamun bisa berubah menjadi sebuah pengalaman safari.

Setelah 20 menit, seekor jalak Bali melayang rendah dan hinggap di sangkar. Tak lama berselang, seekor burung lainnya menclok di dahan pohon. “Dulu ada 20 ekor burung, tapi yang tersisa tinggal enam,” ujar penjaga pos. “Di sini ada banyak predator. Elang Jawa yang besar itu suka menyambar jalak Bali.”

Rusa-rusa di The Menjangan.
Rusa-rusa di The Menjangan.

Predator kerap dituding sebagai biang keladi dari menipisnya populasi jalak Bali. Selain elang, ancaman datang dari ular yang gemar menyantap telur-telur burung di sarang. Tapi tak sedikit orang yang percaya pencurian adalah pangkal masalah terbesarnya.

Meninggalkan Pos Lampu Merah, Ismu menuntun saya ke Pos Tegal Bunder. Mobil kembali mengarungi jalan bergelombang, kembali berpapasan dengan monyet-monyet yang malas mencari makan meski hutan begitu subur di balik punggung mereka. “Jalak Bali sangat membantu kehidupan warga,” ujar Ismu ketika mobil meraung-raung di tengah wana. “Banyak orang bisa menyekolahkan anak-anaknya. Saat butuh uang untuk hajatan, mereka bisa jual burung.”

Seperti cahaya yang selalu melahirkan bayangan, Bali Barat menyembunyikan gelap di balik keindahannya. Dibandingkan sentra penangkaran lainnya, Tegal Bunder adalah yang terbesar, terlengkap, dan termewah. Tapi pos ini juga menyimpan catatan paling kelam dalam sejarah pencurian jalak Bali. Pada suatu malam nahas 1999, gerombolan bandit menyelinap ke pos, mengalungkan celurit di leher penjaga, lalu menggondol semua burung di sangkar. “Hilang semua burungnya,” kenang Son Haji, jagawana yang sudah bekerja di Bali Barat selama seperempat abad. “Godaan mencuri memang besar. Dulu harga jalak Bali bisa 50 juta rupiah seekor.”

Elang dan uang. Predator dan pencuri. Jalak Bali seperti terimpit di dunia yang tak rela melihatnya terbang bebas dan lepas. Padahal pada nasib burung inilah nama baik Bali dipertaruhkan. Setelah harimau Bali divonis punah pada 1937, rapor pulau ini di bidang konservasi satwa tergantung pada kelangsungan jalak Bali.

Problem pelik itulah yang agaknya ingin diatasi melalui penangkaran partikelir. Pemerintah membuka pintu bagi publik untuk menangkarkan jalak Bali—sebuah solusi jalan tengah yang sepertinya berangkat dari prinsip bisnis: dengan menambah pasokan burung, maka harganya akan turun di pasaran dan para pencuri pun kehilangan minat. Berkat kebijakan inilah kelompok-kelompok pencinta jalak Bali terlahir, termasuk Manuk Jegeg.

Kapal pinisi yang jadi salah satu fasilitas Plataran Menjangan.
Kapal pinisi yang jadi salah satu fasilitas Plataran Menjangan.

Ismu dan kawan-kawannya hingga kini sukses mengembangbiakkan lebih dari 100 ekor burung. Jumlah penangkar di desanya mencapai 18 orang, tiga di antaranya mantan pencuri burung. Saban tahun, mahasiswa dan peneliti singgah guna mempelajari kisah sukses Manuk Jegeg, dan penduduk desa menyambut mereka dengan membuka delapan unit homestay. Siapa sangka, burung-burung yang membutuhkan pertolongan ini justru bisa menolong hidup banyak orang. “Sebenarnya sedih melihat tempat aman bagi burung bukanlah di hutan, tapi kandang,” tutur Ismu lirih. “Tapi mau bagaimana lagi?”

Kembali ke resor, “safari” saya berlanjut, kali ini lewat jalur laut. Menaiki pinisi buatan Bira, saya berpesiar ke Pulau Menjangan untuk melewati sore. Melayangkan pandangan dari atas geladak, Bali terlihat begitu purba. Hutan lebat membungkus daratan, memolesnya dengan hijau yang pekat. Di jantung taman nasional, Gunung Klatakan menjulang dengan atap melengkung seperti tongkonan. Nun jauh di batas cakrawala, matahari meringkuk di balik Gunung Merapi. Betapa menggetarkan. Dari atas sekunar kayu yang berakar dari abad ke-17, saya menatap sepenggal alam yang dijaga semenjak zaman diperintah oleh gusti prabu dan babad ditulis para empu.

Bali Barat memang berjarak empat jam berkendara. Perjalanannya panjang dan melelahkan. Tiba di sini, kita mesti membayar retribusi taman nasional. Jika ingin menyelam, ongkosnya dua kali lipat harga rata-rata di Bali. Tapi Bali Barat juga menawarkan alam yang asri, burung-burung eksotis kegemaran kolektor, juga resor-resor mewah yang menyepi dalam rahim hutan. Di mana lagi di Bali kita bisa bersafari di kawasan konservasi, lalu kembali ke resor untuk berenang di kolam dan menghabiskan senja bersama rusa?

Perahu warga lokal yang tengah merapat di dermaga Menjangan.
Perahu warga lokal yang tengah merapat di dermaga Menjangan.

Detail

Rute
Taman Nasional Bali Barat terletak di pojok barat Bali, persisnya di bagian pulau yang menyerupai jengger ayam. Kecuali Anda mendapatkan izin mendarat di Bandara Letkol Wisnu di Buleleng, jalur darat adalah satu-satunya cara menjangkaunya. Waktu tempuhnya sekitar empat jam dari bandara. Pilih jalur yang melewati Desa Pupuan jika mendambakan panorama yang fotogenik. Opsi lain ke Bali Barat adalah melalui Banyuwangi dengan menyeberangi selat sempit yang memisahkan Bali dan Jawa Timur.

Kiri-kanan: Akomodasi nyaman di The Menjangan; restoran di The Menjangan.
Kiri-kanan: Akomodasi nyaman di The Menjangan; restoran di The Menjangan.

Penginapan
Menjangan hanyalah sebuah pulau di samping Taman Nasional Bali Barat, tapi berkat popularitasnya di kalangan turis, namanya kerap disematkan sebagai nama resor. Bali Barat mengoleksi tiga resor, yakni Nusa Bay Menjangan (nusabaymenjangan.com; doubles mulai dari Rp1.400.000 untuk cottage) yang mesti dicapai menaiki perahu, serta The Menjangan (themenjangan.com; doubles mulai dari Rp1.850.00 untuk kamar deluxe) dan Plataran Menjangan (plataran.com; doubles mulai dari Rp3.600.000 untuk vila) yang bertetangga di tepian Teluk Terima. Persis di luar pagar taman nasional terdapat beberapa penginapan, salah satunya Menjangan Dynasty (mdr.pphotels.com; doubles mulai dari Rp2.100.000 untuk tent) yang baru beroperasi September 2016.

Aktivitas
Safari di hutan adalah kegiatan baku di Bali Barat. Tapi kehadiran resor-resor telah membuat aktivitas di sini lebih variatif. Menginap di The Menjangan, bagian dari Grup Lifestyle Retreats, tamu bisa bersepeda, bertamasya dengan mobil tenggiling, atau menyelam bersama operator Blue Season (blueseasonbali.com). Jika menginap di Plataran Menjangan, resor terbaru di Bali Barat, tamu bisa bertualang dengan jip atau ATV, berpesiar menaiki pinisi buatan Bira, atau bersantai di beach club Octagon. Untuk melihat jalak Bali, kunjungi Bali Starling Sanctuary di dekat resor Plataran atau Desa Sumberklampok (Ismu: 0812-3861-1911) yang menampung 18 penangkar burung.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2016 (“Kembali ke Barat”).

Comments