Warga beraktivitas di lereng perbukitan.

Saya meninggalkan Solihin dan istrinya, lalu berkendara menuju Kecamatan Kayeli yang lokasinya lebih terisolasi. Jalan dipenuhi lubang layaknya habis dihujani roket. Sesekali warga Bupolo yang bersenjatakan tombak melintas dengan menggotong kuskus hasil buruan. “Tiga hari sudah, baru ini yang kitong dapat,” katanya sembari memperlihatkan seekor kuskus berbulu putih tebal.

Jauh di pedalaman Buru, di sebuah desa di Wamsait, di lembah-lembah datar yang dilingkungi pegunungan tandus, terserak barak penambang. Di perbukitan gundul, ribuan hektare situs tambang menganga. Polisi dan tentara mengawal gerbangnya dengan tiga lapis penjagaan. Saya berhenti di sebuah warung, lalu duduk menyeruput kopi di antara tiang penyangga yang menghunjam ke rawa penuh lintah dan ular. Rumah kayu berukuran delapan kali 12 meter ini disekat menjadi delapan ruang kecil. Dinding, sekat, juga atapnya berbahan terpal plastik warna biru. Awalnya, saya disambut dengan tatapan aneh tak bersahabat oleh para penambang. Setelah mengetahui saya bukan pesaing, kami pun lepas bercerita, saling tertawa. Mereka berkisah tentang aktivitas tambang yang baru beberapa hari ini ditutup akibat logam mulia yang menipis di rahim Buru.

Matahari condong ke barat. Gelap menutupi Wamsait. Suara musik berdentum dari barak hingga pagi menjelang. Hari Basuki datang ke warung dengan rambut basah. Dia salah satu dari puluhan ribu orang yang merantau ke Buru demi berburu emas. Tiga puluh tahun—berarti separuh dari umurnya—dihabiskan dari satu lokasi tambang ke lokasi lainnya, mulai dari Kalimantan, Sumbawa, hingga Papua. Dia ahli menembus lorong-lorong basah di perut bumi. Sedangkan Nasukat, yang duduk di pojok warung, sangat mahir memisahkan bijih emas dari bongkahan tanah.

Kiri-Kanan: Seorang pria membawa bahan kayu bakar; Foto usang seorang pendatang di Pulau Buru.

“Tapi, sekarang kami menunggu hal yang tidak pasti,” seorang lelaki muda menyela perbincangan kami. “Tambang menuai banyak konflik,” ujar pria lainnya, “baik konflik dengan pemerintah maupun warga suku.” “Kadang, saya merasa, nyawa dan kematian begitu dekat. Baik di dalam maupun di luar lubang galian,” tambah Hari. Semua yang duduk di warung meledakkan tawa, seolah menertawakan malaikat maut yang menanti di lubang-lubang tambang. Sebuah lawakan yang janggal memang.

Hari hidup dari bedeng ke bedeng. Sekali sebulan, Hari mengirimkan uang hasil jerih payah ke kampung. Dari tangan Hari, Nasukat, dan puluhan ribu penambang lainnya, Buru berubah dalam artian sebenarnya. Pembangunan menjamur, harga kebutuhan pokok melonjak, rumah-rumah megah berdiri dengan mobil mewah terparkir di garasinya. Bahkan, di sepanjang jalan menuju Kecamatan Namrole, mobil-mobil mewah teronggok di tengah gubuk reyot. Saya sedang berada di tengah Buru yang kontradiktif.

Di seberang jalan yang digenangi air, ada sebuah SD yang muram. Di sekolah ini, Sulaiman Nacikit mengajar. Murid-muridnya mengenakan seragam yang berbeda-beda, atau lebih tepatnya, seragam yang tak seragam. Usai mengajar, Sulaiman beralih ke “kantor” lainnya: lubang-lubang galian. Menambang merupakan pekerjaan utama bagi siapa saja. Sepulang sekolah, siswa membantu bapaknya di tambang. Guru mereka, bersama PNS lainnya, terjun ke titik-titik tambang yang tersebar mulai dari perbukitan tandus, lereng, hingga lembah.

Kiri-Kanan: Emas murni hasil penambang di sebuah toko pengumpul emas; Usai tambang ditutup, para pekerja mencari sumber hidup dengan memancing di rawa.

Dulu, sebelum emas ditemukan dan digali di Bumi Bupolo, Sulaiman punya cita-cita mendidik kaumnya. Dia mengabdi di kampung-kampung adat yang terpencar di sekeliling Danau Rana. Untuk sampai ke sana, di musim hujan seperti ini, dia butuh empat hari perjalanan. Sulaiman pernah mengajar selama delapan tahun di Kecamatan Air Buaya dan daerah Danau Rana. “Kapan kita ke sana?” tanya saya sekenanya. “Banyak guru tidak betah di sana,” jawabnya, “apalagi setelah lokasi tambang tercipta; semua mengubah profesi.”

Buru bagaikan membuka halaman baru riwayatnya. Kilau emas telah menyulap pedalaman sunyi menjadi wilayah gaduh yang sarat uang, pertikaian, juga perampokan. Bukit-bukit tandusnya yang memproduksi minyak kayu putih digerayangi penambang dari penjuru negeri.

Menurut warga Bupolo, air Danau Rana bersumber dari Gunung Date. Keduanya wilayah sakral, sumber kehidupan, karena itu dijaga ketat oleh serangkaian aturan dan pantangan. Tapi tatanan bijak itu kini terancam. Emas, bagaikan gula, memikat gerombolan semut dari mana saja. Perantau datang membawa perubahan. Ambisi mengejar uang menggerus tradisi.

Ternak melewati pesisir dengan latar perahu-perahu nelayan. Sebelum emas ditemukan, beternak dan melaut adalah dua sumber hidup andalan warga.

Matahari bertengger tinggi. Hari dan para penambang lainnya masih menyeruput kopi. Lalu datang seorang lelaki paruh baya tanpa alas kaki, bersama dua pemuda berbadan tegap. Warung yang tadi ramai canda tiba-tiba berubah senyap. “Lahan kami berburu, tanah tempat

kami bertanam ubi, semua hilang,” Warohi, lelaki paruh baya itu, membuka perbincangan sembari menuang kopi panas ke lepek. Tamu warung lain enggan menatapnya. Warohi berkicau sendiri tentang eksploitasi tanah yang menyisakan merkuri, limbah yang merusak lahan pangan dan tempat berburu kaumnya.

“Habis sudah, kami mau makan apa?” tanya Warohi geram, kali ini dibarengi gebrakan ke meja. Kain batik kusam yang melingkari kepalanya terlepas hingga menutupi sebelah matanya. Kain itu merupakan bagian dari identitas. Fungsinya membedakan antar-fam (sebutan untuk klan), juga antara dia dan puluhan ribu pendatang.

Kiri-Kanan: Tiang-tiang penyangga jaring nelayan; Jejak kaki anak-anak yang bermain di pantai.

Warohi masih mengoceh berang di warung, di antara kaum perantauan dari Sulawesi, Jakarta, Sumatera, dan berbagai daerah lainnya. Giginya menghitam. Gusinya merah pekat akibat pinang dan sirih. Dia kesal dengan penambang yang enggan mengurus kartu izin menimbang yang diterbitkan atas seizin pucuk pimpinan adat. Warohi adalah Kepala Soa, daerah adat setingkat desa. Dia kepala suku dari sebuah fam besar, Waimese.

Dering telepon seluler menyeruak dari tas kumal Warohi. Seorang perempuan dengan suara mendayu-dayu meneleponnya. “Aku dan kamu seperti kuku dan daging sudah. Dong bisa dipisahkan lagi,” katanya dalam bahasa Indonesia setengah gagap. Warohi menggombal dengan loudspeaker menyala. Orang-orang di warung kontan menghela napas. Teror dari Warohi dan dua lelaki muda yang mengiringinya, untuk sementara, rampung.

Malam turun lagi di Wamsait, membuat terpal-terpal yang tersebar di atas bukit terciprat sinar bulan. Saya menumpang menginap di bedeng milik penambang. Saya akan meninggalkan pedalaman Buru, meninggalkan ladang emasnya yang “panas,” lalu kembali ke kota pesisir Namlea.

Kiri-Kanan: Seorang penambang emas, profesi lukratif di Pulau Buru; Ikan-ikan hasil melaut siap dimasak.

Pantai Jikumerasa melintang di hadapan laut biru. Saya mengunjungi pantai pasir putih di Namlea ini pada sore hari. Langit Buru tampak cerah sempurna bagaikan kanvas Mooi Indie. Desa Ubung, tempat kayu putih disulap menjadi minyak, terletak tidak jauh dari pantai ini. Ketika demam emas melanda tiga tahun silam, sebagian tukang petik daun dan penyuling minyak kayu putih di Ubung beralih menjadi penambang.

Semua orang tergiur. Kini, ketika demam emas meletupkan api konflik di mana-mana, mereka kembali ke profesi semula. Ketika saya mengunjungi Ubung, wangi kayu putih berpendar di udara, terbawa angin dan tercium sampai jauh. Kapal yang akan saya tumpangi merapat di pelabuhan. Sebentar lagi saya akan meninggalkan Buru. Laut di depan membentang tak berujung. Sunyi menyergap, tapi di belakang saya Namlea terus sibuk. Sirene kapal menjalar di udara.

Manusia berduru-duru menaiki tangga kapal dengan mengusung buntalan-buntalan besar. Hendak ke manakah mereka? Saya membayangkan sebuah hari di 1979 saat Pram dikapalkan ke Jawa. Buru didatangi, ditinggalkan, lalu kembali didatangi. Barangkali benar kata Pram dulu, pulau menawan ini tak ubahnya stasiun persinggahan dalam perjalanan hidup.

PANDUAN
Rute
Tidak jelasnya nasib Merpati Nusantara menyebabkan status rute Ambon-Buru terkatung-katung. Akhir 2014, rencananya, Trigana Air (trigana-air.com) berniat mengisi jalur lowong ini. Moda yang lebih bisa diandalkan adalah feri (tiket Rp62.000) yang berangkat setiap pukul 18 dari Pelabuhan Galala, Ambon, dan tiba di Namlea pukul empat. Dengan kapal cepat (Rp300.000) dari Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, durasi perjalanan bisa dipersingkat menjadi empat jam.

Penginapan
Di Namlea ada cukup banyak penginapan, tapi tidak ada kelas luks. Opsi terbaik adalah hotel dua lantai Grand Sarah (Jl. Jenderal Ahmad Yani; 0913/21301; mulai dari Rp250.000).

Aktivitas
Anda bisa datang ke Buru kapan saja, tapi sebaiknya hindari periode musim hujan di akhir dan awal tahun yang kerap mengganggu pelayaran kapal feri. Salah satu obyek wisata yang menarik dikunjungi di Buru adalah Danau Rana, sekitar 80 kilometer dari Kota Kecamatan Namlea. Dari danau, Anda bisa bertualang ke bukit-bukit botak di sekitar untuk menyaksikan para penambang atau singgah di unit-unit bekas tahanan politik yang tersisa. Tak sampai setengah jam berkendara dari Namlea, terdapat Pantai Jikumerasa yang berpasir putih. Usai lelah berenang di laut, Anda bisa menyambangi Desa Ubung untuk mencicipi mandi dengan minyak kayu putih, terapi yang cukup ampuh untuk menghilangkan lelah di tubuh.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2014 (“Buru Baru”)