Adventures

Pulau Buru, Antara Pram dan Emas

Pesisir Pulau Buru, tempat penampungan orang-orang komunis atau dicap komunis pada masa Orde Baru.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Yoppy Pieter

[dropcap type=”default”]H[/dropcap]ampir setengah abad silam, Namlea hanyalah dusun yang sunyi, hening, seolah habis digerayangi perompak. “Tak tampak seorang pun di Namlea. Seperti dusun—kalau menggunakan ekspresi Melayu lama—sedang dikalahkan garuda,“ tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Di dusun pesisir itulah ratusan orang dibuang. Kaum komunis, atau yang dicap komunis, mendarat di pantainya dengan sebuah kapal besar pada 1969. Di pelabuhannya, Pram berlabuh sebagai tapol bersama ratusan orang lainnya. Sosoknya pesakitan berwajah pucat dan berpipi tirus. Sebentar lagi, saya akan merapat di pelabuhan yang sama.

Angin barat bertiup, mengempas feri yang membawa saya dari Ambon. Ombak di Laut Banda sedang mengamuk. Hati saya kecut memandang gulungan air. Laut ini juga yang dulu hampir mengaramkan kapal berkarat ADRI XV yang mengangkut Pram dan 800 narapidana lainnya. Kini, Namlea ramai dan sibuk bak sebuah kota kecil. Ketika kapal saya mendarat, pelabuhannya menyambut dengan cahaya suar yang semarak, lampu-lampu yang melambai-lambai di langit subuh. Para penumpang turun dengan mengangkut buntalan-buntalan dagangan. Mobil-mobil mewah keluar beriringan dari lambung kapal. Koridor pelabuhan dijejali barang yang menggunung. Buru memasok mayoritas kebutuhannya dari Ambon.

Kiri-Kanan: Pekerja memetik kelapa untuk kemudian diolah jadi kopra; Buah-buah kelapa hasil kebun.

Saya menginap di sebuah hotel yang dihuni para bidadari pesolek. Barang sebentar, pintu kamar saya diketuk perempuan bertubuh sintal dan beraroma wangi. Niatnya sederhana: menawarkan jasa pijat yang menggiurkan. Tentu saja, tidak gratis. “Itu harga su kasih murah, kakak,” seorang perempuan berkata dengan dialek lemah gemulai yang dipaksakan. “Itu tidak sampai satu gram emas, toh?” “Tapi saya bukan penambang,” kata saya menimpali. Perempuan itu berlalu, namun tak berapa lama, perempuan sintal lainnya mengetuk dan menawarkan jasa serupa. Namlea, pintu gerbang Buru, mencegah saya tertidur di malam pertama.

Selamat datang di Buru, “a happy land somewhere,” tulis Pram dengan nada satir ketika pertama kali menjejakkan kakinya di pulau kaum buangan yang sekarang sibuk bersolek ini—sebuah transisi yang dipicu oleh penemuan emas tiga tahun silam. Seperti kata wanita penggoda di hotel, emas memang telah menjadi ukuran untuk banyak hal. Kilaunya telah mengubah drastis pamor pulau dengan sejarah kelam ini.

Logam mulia pula yang membiayai pembangunan masif di sini. Buru yang kelam barangkali hanya tersimpan dalam catatan Pram. Di Namlea, jalan aspal mulus terentang. Saat berkendara, saya bersisian dengan mobil-mobil mewah yang dikendarai sopir dengan kemampuan mengemudi yang mencemaskan. Beberapa kali saya hampir diseruduk. Di kiri dan kanan jalan, kontraktor sibuk mengerek rumah-rumah besar. Sebagian telah rampung. Warna atap dan dindingnya menohok. Sejumlah pusat perbelanjaan berdiri jemawa. Hotel tumbuh seperti cendawan di musim hujan.

Kiri-Kanan: Datang ke Pulau Buru demi menyusul suaminya yang sempat berstatus tapol, Lasinem memutuskan menetap di sini; Tiang-tiang salib menjadi penanda area yang dihuni mayoritas warga Nasrani.

Dari Namlea, saya berkendara ke Kecamatan Waeapo, wilayah pengasingan orang-orang buangan pasca-Gestapu. Waeapo berjarak sejam berkendara ke utara Namlea. Dari atas kendaraan yang melaju kencang, sejauh mata memandang tampak perbukitan yang ditumbuhi kayu putih dan merbau.

Inrehab. Begitu pemerintah menyebut wilayah pengasingan di Waeapo. Sedangkan masyarakat setempat menjulukinya “unit.” Di sinilah para tapol dulu meneroka belukar, menggali saluran irigasi, menciptakan lahan-lahan pertanian. Berkah kerja keras mereka barangkali kian terasa sekarang: Buru menjadi salah satu pemasok utama beras untuk Maluku.

Seekor nuri merah melintas di hadapan saya. Kicauannya bergema dalam sunyi. Saya kini tiba di Desa Savana Jaya, masih bagian dari “unit.” Desa dengan rumah-rumah kayu tua yang berjejer rapi. Di tengahnya ada gedung kesenian tua yang berlantai tanah. Di sisi lainnya, sebuah gereja, dengan tiang menghitam dan dinding compang-camping.

Sapi mencari makan di lereng bukit. Terutama bagi pendatang, beternak adalah salah satu sumber nafkah populer di Pulau Buru.

“Di sinilah kami bekerja di bawah moncong bedil,” kata Senen mengejutkan saya. Senen berbeda dari koleganya, Pram, yang melahirkan beberapa buku, termasuk Tetralogi Pulau Buru yang terkenal itu. Senen juga berbeda dari tokoh intelek Dokter Bhisma dalam novel Amba karya Laksmi Pamuntjak. Senen hanyalah seorang buta huruf, yang hingga saat ini masih saja bertanya-tanya: kenapa dia sampai dikirim ke sini? Tapi dia tidak sendiri. Ratusan atau mungkin ribuan orang hidup dengan dihantui tanda tanya yang sama.

Siang ini, hujan turun dengan tergesa. Bersama kawanan sapi dan kambing, saya berteduh di bawah atap gedung kesenian hasil karya kaum buangan, seraya membayangkan lakon-lakon wayang yang dimainkan para tapol dari Jawa. “Beginilah keadaan kami, tidak ada lagi kesenian yang dipentaskan di sini,“ kata Solihin, berusaha membuka obrolan. Lelaki sepuh itu bercerita tentang masa lalu, lalu mengajak saya singgah di rumahnya yang berjarak hanya beberapa meter dari gedung kesenian.

Di rumah berdinding papan lusuh, Solihin meniup seruling bambu. Saya diminta menyimak alunan nada yang memicu lena. Setelah itu kami bercerita, karena hanya itu yang bisa dilakukan dua orang dengan usia dan masa lalu yang berjarak. Dia seorang seniman panggung, yang ketika itu berafiliasi dengan Lekra—institusi yang dianggap bernaung di bawah panji PKI. Ketika revolusi meletus, Solihin ditangkap, dituduh pengkhianat bangsa, lalu dibuang.

Kiri-Kanan: Seorang pria lokal yang hidup berdampingan dengan kaum pendatang, tak seperti banyak saudaranya yang memilih tinggal di pedalaman; Sirih pinang digemari penduduk pulau.

Pada 1979, para tapol Buru, termasuk Solihin, dikembalikan ke tempat asalnya. Tapi dunia saat itu sudah berubah. Tapol bukan cuma mudik, tapi memasuki “peradaban baru”: sebuah negara yang tengah fobia pada ajaran komunis. Begitu fobia hingga cap tapol dilekatkan pula pada keluarga mereka. “Anak saya tidak mengakui saya sebagai bapaknya,” gerutu Solihin.

Tidak tahan hidup di tengah lingkungan sosial yang menatap miring, Solihin, Senen, dan puluhan tapol lainnya, kembali ke Buru. “Saya malu kalau di kampung,” kata Solihin dengan nada lunak dan datar, sedatar Savana Jaya dengan sawah-sawahnya yang luas membentang. Sekarang, ketika usia tua menggerogotinya, Solihin masih bersikukuh mengajar.

Di sekolah-sekolah, pria renta itu diminta menjadi guru honorer untuk mengajar bidang studi kesenian. “Buru inilah kampung saya. Di sini saya mendidik orang-orang, di sini saya merasa berharga. Suku Alifuru yang pertama-tama jadi sarjana adalah murid kami,” kenangnya bangga.

Kiri-Kanan: Perahu tertambat di pantai dengan latar kapal penumpang; Seorang anak bermain di pantai.

Seorang nenek tergopoh-gopoh minta maaf karena tak sanggup menyediakan minuman. Istri Solihin adalah seorang guru agama asal Bandung, yang dikirim ke sini dua tahun setelah suaminya ditahan. Ingatan saya lalu terbang ke perempuan-perempuan yang jauh lebih dulu diangkut ke Buru. Kala itu, Perang Pasifik berkobar dan Buru dipilih sebagai salah satu sentra pertahanan tentara Nippon. Di pulau kelam ini, puluhan perempuan cantik dipaksa menjadi jugun ianfu. Awalnya didatangkan dari berbagai daerah untuk disekolahkan ke Jepang, mereka justru bernasib tragis sebagai Tawanan sekaligus budak seks.

Setelah perang berakhir, para gadis remaja itu ditinggalkan Jepang begitu saja di pulau yang luas wilayahnya hampir dua kali Bali ini. Di tengahnya ada Danau Rana, sebuah danau sakral yang tak terpindai Google Map. Sebuah danau yang dikelilingi perbukitan tempat bermukimnya Bupolo, suku pedalaman yang kemudian disebut dengan konotasi negatif Alifuru. Jugun ianfu yang tidak tahu jalan pulang memilih menikah dengan pria Bupolo. Bukan keputusan yang mudah. Suku Bupolo menganut tradisi purba berburu kepala.

Indonesia kemudian merdeka, pembangunan menjadi panglima, dan Buru terlupakan. Namun, beberapa tahun setelah revolusi berdarah 1965, sosok Buru kembali mengemuka. Ke pulau inilah Pemerintah Orde Baru mengirimkan “orang-orang merah” dengan kapal-kapal besar.

Warga beraktivitas di lereng perbukitan.

Saya meninggalkan Solihin dan istrinya, lalu berkendara menuju Kecamatan Kayeli yang lokasinya lebih terisolasi. Jalan dipenuhi lubang layaknya habis dihujani roket. Sesekali warga Bupolo yang bersenjatakan tombak melintas dengan menggotong kuskus hasil buruan. “Tiga hari sudah, baru ini yang kitong dapat,” katanya sembari memperlihatkan seekor kuskus berbulu putih tebal.

Jauh di pedalaman Buru, di sebuah desa di Wamsait, di lembah-lembah datar yang dilingkungi pegunungan tandus, terserak barak penambang. Di perbukitan gundul, ribuan hektare situs tambang menganga. Polisi dan tentara mengawal gerbangnya dengan tiga lapis penjagaan. Saya berhenti di sebuah warung, lalu duduk menyeruput kopi di antara tiang penyangga yang menghunjam ke rawa penuh lintah dan ular. Rumah kayu berukuran delapan kali 12 meter ini disekat menjadi delapan ruang kecil. Dinding, sekat, juga atapnya berbahan terpal plastik warna biru. Awalnya, saya disambut dengan tatapan aneh tak bersahabat oleh para penambang. Setelah mengetahui saya bukan pesaing, kami pun lepas bercerita, saling tertawa. Mereka berkisah tentang aktivitas tambang yang baru beberapa hari ini ditutup akibat logam mulia yang menipis di rahim Buru.

Matahari condong ke barat. Gelap menutupi Wamsait. Suara musik berdentum dari barak hingga pagi menjelang. Hari Basuki datang ke warung dengan rambut basah. Dia salah satu dari puluhan ribu orang yang merantau ke Buru demi berburu emas. Tiga puluh tahun—berarti separuh dari umurnya—dihabiskan dari satu lokasi tambang ke lokasi lainnya, mulai dari Kalimantan, Sumbawa, hingga Papua. Dia ahli menembus lorong-lorong basah di perut bumi. Sedangkan Nasukat, yang duduk di pojok warung, sangat mahir memisahkan bijih emas dari bongkahan tanah.

Kiri-Kanan: Seorang pria membawa bahan kayu bakar; Foto usang seorang pendatang di Pulau Buru.

“Tapi, sekarang kami menunggu hal yang tidak pasti,” seorang lelaki muda menyela perbincangan kami. “Tambang menuai banyak konflik,” ujar pria lainnya, “baik konflik dengan pemerintah maupun warga suku.” “Kadang, saya merasa, nyawa dan kematian begitu dekat. Baik di dalam maupun di luar lubang galian,” tambah Hari. Semua yang duduk di warung meledakkan tawa, seolah menertawakan malaikat maut yang menanti di lubang-lubang tambang. Sebuah lawakan yang janggal memang.

Hari hidup dari bedeng ke bedeng. Sekali sebulan, Hari mengirimkan uang hasil jerih payah ke kampung. Dari tangan Hari, Nasukat, dan puluhan ribu penambang lainnya, Buru berubah dalam artian sebenarnya. Pembangunan menjamur, harga kebutuhan pokok melonjak, rumah-rumah megah berdiri dengan mobil mewah terparkir di garasinya. Bahkan, di sepanjang jalan menuju Kecamatan Namrole, mobil-mobil mewah teronggok di tengah gubuk reyot. Saya sedang berada di tengah Buru yang kontradiktif.

Di seberang jalan yang digenangi air, ada sebuah SD yang muram. Di sekolah ini, Sulaiman Nacikit mengajar. Murid-muridnya mengenakan seragam yang berbeda-beda, atau lebih tepatnya, seragam yang tak seragam. Usai mengajar, Sulaiman beralih ke “kantor” lainnya: lubang-lubang galian. Menambang merupakan pekerjaan utama bagi siapa saja. Sepulang sekolah, siswa membantu bapaknya di tambang. Guru mereka, bersama PNS lainnya, terjun ke titik-titik tambang yang tersebar mulai dari perbukitan tandus, lereng, hingga lembah.

Kiri-Kanan: Emas murni hasil penambang di sebuah toko pengumpul emas; Usai tambang ditutup, para pekerja mencari sumber hidup dengan memancing di rawa.

Dulu, sebelum emas ditemukan dan digali di Bumi Bupolo, Sulaiman punya cita-cita mendidik kaumnya. Dia mengabdi di kampung-kampung adat yang terpencar di sekeliling Danau Rana. Untuk sampai ke sana, di musim hujan seperti ini, dia butuh empat hari perjalanan. Sulaiman pernah mengajar selama delapan tahun di Kecamatan Air Buaya dan daerah Danau Rana. “Kapan kita ke sana?” tanya saya sekenanya. “Banyak guru tidak betah di sana,” jawabnya, “apalagi setelah lokasi tambang tercipta; semua mengubah profesi.”

Buru bagaikan membuka halaman baru riwayatnya. Kilau emas telah menyulap pedalaman sunyi menjadi wilayah gaduh yang sarat uang, pertikaian, juga perampokan. Bukit-bukit tandusnya yang memproduksi minyak kayu putih digerayangi penambang dari penjuru negeri.

Menurut warga Bupolo, air Danau Rana bersumber dari Gunung Date. Keduanya wilayah sakral, sumber kehidupan, karena itu dijaga ketat oleh serangkaian aturan dan pantangan. Tapi tatanan bijak itu kini terancam. Emas, bagaikan gula, memikat gerombolan semut dari mana saja. Perantau datang membawa perubahan. Ambisi mengejar uang menggerus tradisi.

Ternak melewati pesisir dengan latar perahu-perahu nelayan. Sebelum emas ditemukan, beternak dan melaut adalah dua sumber hidup andalan warga.

Matahari bertengger tinggi. Hari dan para penambang lainnya masih menyeruput kopi. Lalu datang seorang lelaki paruh baya tanpa alas kaki, bersama dua pemuda berbadan tegap. Warung yang tadi ramai canda tiba-tiba berubah senyap. “Lahan kami berburu, tanah tempat

kami bertanam ubi, semua hilang,” Warohi, lelaki paruh baya itu, membuka perbincangan sembari menuang kopi panas ke lepek. Tamu warung lain enggan menatapnya. Warohi berkicau sendiri tentang eksploitasi tanah yang menyisakan merkuri, limbah yang merusak lahan pangan dan tempat berburu kaumnya.

“Habis sudah, kami mau makan apa?” tanya Warohi geram, kali ini dibarengi gebrakan ke meja. Kain batik kusam yang melingkari kepalanya terlepas hingga menutupi sebelah matanya. Kain itu merupakan bagian dari identitas. Fungsinya membedakan antar-fam (sebutan untuk klan), juga antara dia dan puluhan ribu pendatang.

Kiri-Kanan: Tiang-tiang penyangga jaring nelayan; Jejak kaki anak-anak yang bermain di pantai.

Warohi masih mengoceh berang di warung, di antara kaum perantauan dari Sulawesi, Jakarta, Sumatera, dan berbagai daerah lainnya. Giginya menghitam. Gusinya merah pekat akibat pinang dan sirih. Dia kesal dengan penambang yang enggan mengurus kartu izin menimbang yang diterbitkan atas seizin pucuk pimpinan adat. Warohi adalah Kepala Soa, daerah adat setingkat desa. Dia kepala suku dari sebuah fam besar, Waimese.

Dering telepon seluler menyeruak dari tas kumal Warohi. Seorang perempuan dengan suara mendayu-dayu meneleponnya. “Aku dan kamu seperti kuku dan daging sudah. Dong bisa dipisahkan lagi,” katanya dalam bahasa Indonesia setengah gagap. Warohi menggombal dengan loudspeaker menyala. Orang-orang di warung kontan menghela napas. Teror dari Warohi dan dua lelaki muda yang mengiringinya, untuk sementara, rampung.

Malam turun lagi di Wamsait, membuat terpal-terpal yang tersebar di atas bukit terciprat sinar bulan. Saya menumpang menginap di bedeng milik penambang. Saya akan meninggalkan pedalaman Buru, meninggalkan ladang emasnya yang “panas,” lalu kembali ke kota pesisir Namlea.

Kiri-Kanan: Seorang penambang emas, profesi lukratif di Pulau Buru; Ikan-ikan hasil melaut siap dimasak.

Pantai Jikumerasa melintang di hadapan laut biru. Saya mengunjungi pantai pasir putih di Namlea ini pada sore hari. Langit Buru tampak cerah sempurna bagaikan kanvas Mooi Indie. Desa Ubung, tempat kayu putih disulap menjadi minyak, terletak tidak jauh dari pantai ini. Ketika demam emas melanda tiga tahun silam, sebagian tukang petik daun dan penyuling minyak kayu putih di Ubung beralih menjadi penambang.

Semua orang tergiur. Kini, ketika demam emas meletupkan api konflik di mana-mana, mereka kembali ke profesi semula. Ketika saya mengunjungi Ubung, wangi kayu putih berpendar di udara, terbawa angin dan tercium sampai jauh. Kapal yang akan saya tumpangi merapat di pelabuhan. Sebentar lagi saya akan meninggalkan Buru. Laut di depan membentang tak berujung. Sunyi menyergap, tapi di belakang saya Namlea terus sibuk. Sirene kapal menjalar di udara.

Manusia berduru-duru menaiki tangga kapal dengan mengusung buntalan-buntalan besar. Hendak ke manakah mereka? Saya membayangkan sebuah hari di 1979 saat Pram dikapalkan ke Jawa. Buru didatangi, ditinggalkan, lalu kembali didatangi. Barangkali benar kata Pram dulu, pulau menawan ini tak ubahnya stasiun persinggahan dalam perjalanan hidup.

PANDUAN
Rute
Tidak jelasnya nasib Merpati Nusantara menyebabkan status rute Ambon-Buru terkatung-katung. Akhir 2014, rencananya, Trigana Air (trigana-air.com) berniat mengisi jalur lowong ini. Moda yang lebih bisa diandalkan adalah feri (tiket Rp62.000) yang berangkat setiap pukul 18 dari Pelabuhan Galala, Ambon, dan tiba di Namlea pukul empat. Dengan kapal cepat (Rp300.000) dari Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, durasi perjalanan bisa dipersingkat menjadi empat jam.

Penginapan
Di Namlea ada cukup banyak penginapan, tapi tidak ada kelas luks. Opsi terbaik adalah hotel dua lantai Grand Sarah (Jl. Jenderal Ahmad Yani; 0913/21301; mulai dari Rp250.000).

Aktivitas
Anda bisa datang ke Buru kapan saja, tapi sebaiknya hindari periode musim hujan di akhir dan awal tahun yang kerap mengganggu pelayaran kapal feri. Salah satu obyek wisata yang menarik dikunjungi di Buru adalah Danau Rana, sekitar 80 kilometer dari Kota Kecamatan Namlea. Dari danau, Anda bisa bertualang ke bukit-bukit botak di sekitar untuk menyaksikan para penambang atau singgah di unit-unit bekas tahanan politik yang tersisa. Tak sampai setengah jam berkendara dari Namlea, terdapat Pantai Jikumerasa yang berpasir putih. Usai lelah berenang di laut, Anda bisa menyambangi Desa Ubung untuk mencicipi mandi dengan minyak kayu putih, terapi yang cukup ampuh untuk menghilangkan lelah di tubuh.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2014 (“Buru Baru”)