Menuju Batu Lubang menggunakan ketinting membelah arus deras.

Teks & foto oleh R. Heru Hendarto

Kata-kata Taufik terus terngiang. Dia berbicara tentang gua yang interiornya dipercantik ornamen natural. “Kitorang main Batu Lubang saja ka? Bagus dia punya ornamen itu!” katanya. Untuk menjangkau gua, dia hendak meminjam ketinting, perahu kayu bermesin tempel. Dengan membonceng sepeda motor, saya meluncur ke Desa Sagea. Tubuh terus terguncang. Roda berjuang menapaki tanah keras yang kadang diselingi batu, kadang dikubur lumpur. Setengah jam kemudian, penderitaan itu berakhir, tapi ekspedisi masih jauh dari selesai. Sebuah ketinting telah menanti. Dua kru dan enam batang obor sudah disiapkan untuk etape kedua.

Malam harinya, saya hendak mencari tahu lebih banyak tentang Batu Lubang. Sayangnya, kabel internet belum tersambung ke tempat terpencil ini. Sumber informasi yang tersedia hanyalah cerita rakyat dan foto-foto pada kalender yang sudah dua tahun kedaluwarsa. Kata warga, perjalanan ke  atu Lubang akan membawa saya menyusuri sungai, menembus tebing, lalu memasuki mulut gua yang konon tak berujung. Petualangan seru tampaknya telah menanti.

Kiri-kanan: Penduduk menyeberangi Sungai Sagea menggunakan sampan tradisional; deretan perahu di Muara Sagea.

Desa Sagea berada di tepian timur Kecamatan Weda, sebuah daerah yang terjepit di selangkangan pulau berbentuk huruf “K”—Halmahera. Di wilayah utara Nusantara ini, di mana sinyal GSM kerap samar dan kendaraan umum beroperasi hanya sekali sehari (jika tidak hujan), komunikasi verbal memegang peran utama dalam menyebarkan berita. Dari berita yang melompat mulut ke mulut itulah saya mengetahui Batu Lubang memiliki nama alias: Boki Moruru. Artinya kurang-lebih, “putri yang menghanyutkan diri.” Alkisah, di Sungai Sagea, seorang putri dari Kesultanan Tidore pernah mandi sambil menghanyutkan diri mengikuti arus sungai hingga ke hilir. Di Maluku Utara, legenda tak bisa lepas dari imperium-imperium Islam yang dulu menguasainya.

Stalagmit berbentuk mirip mahkluk Dementor yang dikenal penduduk lokal sebagai Batu Sembahyang.

Pagi datang. Di bawah langit kelabu, saya menanti ketinting di muara sungai. Sinyal telepon perlahan naik, mungkin karena saya berada segaris dengan menara BTS perusahaan nikel di Weda. Tak lama, suara cempreng mendekat dan babak kedua petualangan ini pun dimulai. Digerakkan mesin tunggal yang sudah berkarat, ketinting membelah sungai secara perlahan. Setelah 10 menit, arus makin deras. Beberapa batu seukuran meja memblokade aliran air dan menciptakan pusaran. Tur perahu yang santai ini berubah menjadi atraksi arung jeram. Tiba-tiba, suara hantaman terdengar. Ketinting hanyut ke air dangkal dan kandas. Air pun seketika meluap dan memenuhi lambungnya. Semua penumpang berhamburan menyelamatkan diri.

Nakhoda menarik ketinting ke tepi sungai, menantinya mengering, lalu berusaha menghidupkan mesinnya. Setelah sempat berjalan kaki 100 meter karena ketinting harus ditarik dalam kondisi kosong, kami memasuki celah di tubuh tebing yang menjulang. Celah ini begitu sempit hingga sinar surya sukar menembus. Air dari langit-langit terus menetes membasahi badan. Tak ada yang tahu dalamnya sungai dan kondisi arusnya. Selang beberapa saat, sungai dengan ajaibnya lenyap ke bawah tebing. Hilang begitu saja ditelan bumi.

Kami mulai menyalakan obor. Senter tak banyak membantu, karena sorot cahayanya tak sanggup menggapai ujung gua. Lumpur menggenangi lantai gua. Entah lumpur yang berasal dari tanah bebatuan atau tumpukan kotoran ribuan kelelawar yang bergelayutan di atas kepala. Yang pasti, baunya menyesakkan napas, dan tak seorang pun membawa masker. Terlepas dari segala tantangannya, Boki Moruru sangat menawan. Interiornya ditumbuhi stalaktit dan stalagmit berbentuk unik.

Dinding gua yang dihiasi stalaktit dan stalagmit indah.

Saya memotret stalagmit yang menyerupai Dementor. “Batu sembahyang,” demikian orang-orang Sagea menjulukinya. Kata mereka pula, eksplorasi gua ini akan membawa saya ke sebuah rongga berisi bebatuan kristal. Sayangnya, langkah kami harus terhenti akibat medan yang terlalu berat. Peralatan kami jauh dari memadai. Ancaman juga datang dari kalajengking dan laba-laba yang berkeliaran di dinding dan celah lembap. Tapi, bagi Taufik, serangga mematikan bukanlah sumber kekhawatiran terbesar. Dia lebih takut pada makhluk-makhluk gaib penghuni gua. Yang tak terlihat memang selalu lebih menakutkan.

Hutan perawan terhampar luas. Pepohonan setinggi gedung berlantai 10 masih mudah ditemukan, menjulang dalam formasi berantakan dan membentuk tirai alami yang menyaring sinar mentari. Suhu senantiasa teduh. Dalam dekapan rimba lebat, siang dan sore kerap sulit dibedakan. Berita positif bagi negeri yang rutin diterpa isu penebangan liar. Saya mendekati jantung Halmahera, sekitar 25 kilometer dari bibir pantai. Di kejauhan tampak Kota Maba dan Tanjung Buli di Halmahera Timur. Butuh satu hari penuh untuk menjangkau keduanya dengan berjalan kaki. Banyak ruas jalan di sini telah putus tergerus air. Bahkan sepeda motor tak sudi melewatinya. Bisa jadi, isolasi inilah yang membuat pohon-pohon di hutan Halmahera belum dipangkas menjadi mebel atau kertas.

Sarang semut yang terbuat dari buah.

Gemuruh sungai memanggil dari kejauhan. Dibandingkan Sungai Sagea, Sungai Jiguna tampil lebih asri, lebih galak, juga lebih menakutkan. Bebatuan sebesar kerbau bertaburan menantang arus kencang. Kata warga, saat hujan mengguyur daerah hulu, permukaan air bakal naik setinggi empat meter dan sungai pun mustahil diseberangi.

Riko datang membawa sarang semut. Bentuknya mirip otak yang terbelah. Setelah ditelisik, ternyata benda absurd itu tidak dikonstruksi oleh kawanan semut, melainkan sejenis tanaman epifit yang hidup dengan menempel di inang. Nama resminya, Myrmecodia pendans. Bentuknya mirip umbi dengan perut berongga yang dibelah-belah lorong. Arsitektur yang ideal bagi koloni semut.

Oleh warga, sarang semut lazimnya dipotong-potong, dikeringkan, lalu digiling halus untuk dikonsumsi. Saat direbus, residu airnya kadang ditenggak. Saya pernah mencobanya. Rasanya hambar dan sepat. Tradisi memanen bahan makanan dari lantai hutan adalah ciri masyarakat di sini. Di Desa Sepo, penganan yang juga populer adalah buah pala. Daging buah diolah menjadi manisan. Bijinya ditanam. Bagian yang tidak dimanfaatkan adalah kulit buah. Penduduk di sini belum mengenal metode yang dikuasai saudara-saudara mereka di Banda Neira, pulau di selatan Halmahera, di mana kulit pala direbus lalu diolah menjadi selai lezat.

Rendahnya penguasaan teknologi membuat banyak kekayaan alam di sini belum tersentuh. Tapi, dalam beberapa kasus, kondisi itu justru berkontribusi positif. Di Teluk Weda, kita bisa menemukan alam bawah laut yang memukau. Area selam di perairan ini diiklankan dengan semboyan: “There are no other divers 300 Km around.” Andai warga mengadopsi teknologi perikanan modern yang kerap brutal, mungkin diversitas laut di sini sudah jauh menyusut.

Kiri-kanan: Senja di pesisir Desa Sepo; karang lunak yang melambai-lambai di sisi Pulau Tete.

Tak mengantongi lisensi menyelam, saya lebih memilih menuju Desa Sepo untuk mencari perahu dan menjelajahi perairan beralas cantik. Target pertama: Pulau Tete. Sebuah ketinting mengangkut saya dan dua nelayan. Cadik di kedua sisinya menjinakkan goyangan yang ditimbulkan ombak. Setelah 20 menit, laut gelap bertransformasi menjadi perairan dangkal berwarna cerah. Mata saya langsung membelalak di hadapan belantara koral aneka rupa dan warna. Di sela-selanya berlarian kawanan ikan dengan tubuh berwarna biru, seolah hendak menyaingi birunya laut.

Saya tak menemukan koral yang mati, rusak, ataupun patah. Mungkinkah teluk ini terlindung dari serangan El Niño? Atau barangkali siklus air di sini begitu sehat sehingga karang bisa pulih dengan cepat? Yang jelas, kerusakan akibat tangan manusia tak berbekas. Air hari ini masih dangkal. Bukan momen yang pas untuk snorkeling. Saya hanya bisa menonton ikan yang berkelebat dan karang bertubuh sehat dari atas ketinting. Panorama semacam ini bisa ditemukan dari Teluk Weda, terus ke timur hingga Pulau Pasi, Tete, hingga pulau kecil lainnya di sekitar Waleh.

Kiri-kanan: Bila sungai terlalu dangkal, perahu harus ditarik; Untuk menjangkau tempat tujuan dibutuhkan mobil berpenggerak empat roda karena jalannya yang buruk.

Di selatan Tete, ombak mulai ganas. Jauh di hadapan, terhampar Laut Seram. Di timur, bertaburan pulau-pulau dalam gugusan Raja Ampat. Niat saya untuk singgah di titik snorkeling lain dibatalkan. Ketinting harus segera berputar. Cadiknya tak lagi sanggup menahan hempasan gelombang. Di selangkangan Halmahera, di daerah yang dijuluki Bumi Fagogoru, alam memang masih berkuasa.

PANDUAN
Rute
Penerbangan ke Ternate dilayani antara lain oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com), Lion Air (lionair.co.id), serta Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id). Dari Jakarta, pesawat umumnya transit satu kali di Manado atau Makassar. Weda, Ibu Kota Halmahera Tengah, dapat dijangkau selama dua jam menggunakan kendaraan umum berbentuk Kijang atau Panther. Menuju Boki Moruru atau pulau-pulau kecil di Teluk Weda, Anda bisa menyewa ketinting di desa terdekat. Tarif sangat tergantung kemampuan menawar.

Penginapan
Hotel terbaik hanya bisa ditemukan di Weda. Jika ingin mencoba diving, sebaiknya menginap di Weda Resort (SawaiItepo, Weda Tengah, 0812-4433-754; wedaresort.com; double $100 untuk bungalo). Resor ini juga menawarkan paket birdwatching untuk melihat ikon aviator lokal, cenderawasih Halmahera. Di Desa Sagea dan Sepo, tidak ada akomodasi. Tamu bisa bermalam di rumah warga dengan memberi imbalan sekadarnya.

Dipublikasikan pertama kali di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jan/Feb 2014. (“Sumbu Fagogoru”)