Banda menyimpan kisah tentang sebuah tanaman yang mengubah dunia. Kepulauan ini merupakan satu-satunya habitat pala, komoditas lukratif yang nilainya setara emas. Demi menguasainya, imperium-imperium Barat pun mengutus kapal-kapalnya ke Timur Jauh—rangkaian pelayaran akbar yang turut membentuk globalisasi.  

Tapi itu dulu. Selepas masa keemasan rempah, Banda mengerucut jadi tanah yang dilupakan. Awalnya sengit diperebutkan, gugusan di kaki Maluku ini justru memudar dari peta. Bahkan, selepas Indonesia merdeka, manisnya gula-gula pembangunan tak begitu terasa di sini. Hingga hari ini, Rhun, pulau di Banda yang dulu dibarter dengan Manhattan, hanya dialiri listrik beberapa jam per hari.   

Pasang surut nasib Banda itulah yang dirangkum dalam The Banda Journal. Buku terbitan 2021 ini menelusuri babad Banda di masa lalu dan kini, mencari apa yang hilang dan bertahan, menggali beragam dimensi dari sebuah tempat yang nasibnya terikat pada sebuah tanaman.

Buku ini dihasilkan dari proyek jangka panjang garapan fotografer Muhammad Fadli dan penulis Fatris MF sejak 2014. Duet asal Sumatera Barat ini punya portofolio yang cukup meyakinkan di bidangnya masing-masing. Fadli rutin berkontribusi untuk beragam media internasional, sementara Fatris telah menghasilkan tiga buku perjalanan.

Mencerminkan disiplin pembuatnya, The Banda Journal mengusung “genre” blasteran yang terbilang langka: buku foto yang sarat narasi, sekaligus jurnal perjalanan yang kaya visual. Dalam 240 halaman, terpajang 118 foto dan teks bilingual dalam delapan bab. Menambah keunikannya, buku ini mengadopsi tata letak naskah bergaya jurnal-jurnal lawas, tapi dengan sampul ngepop dan tipografi yang dinamis.

Tentu saja, ini bukan dokumentasi pertama tentang Banda. Pada 2017 misalnya, telah terbit The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature, bunga rampai yang disunting oleh Jan Russell. Pada tahun yang sama, tayang film Banda, The Dark Forgotten Trail arahan Jay Subyakto.

Akan tetapi, dibandingkan karya-karya pendahulunya, The Banda Journal mencoba menawarkan rasa dan warna yang berbeda. Fadli dan Fatris berupaya lepas dari jebakan glorifikasi sejarah dan dramatisasi masa silam. Perang dan genosida memang disinggung, tapi cerita renik soal ikan segar dan selai pala tak lantas dinafikan. 

Pendekatan dokumenter ialah tawaran lain buku ini. Tak hanya dijejali rentetan tahun dan nama, pembaca bisa menemukan narasi “basah” yang didasarkan pada reportase lapangan. Di antara peristiwa-peristiwa akbar, ada kisah orang-orang yang luput dari catatan kaki sejarah, termasuk siswa sekolah, keturunan imigran, hingga pemilik penginapan. Dengan kata lain, The Banda Journal berikhtiar memahami Banda dari perspektif warganya.Cristian Rahadiansyah