Jagawana bersama anak gajah di Kenya—foto karya Ami Vitale dalam Union of Concerned Photographers. (Foto: Ami Vitale/WeTransfer)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Di penjuru bumi, ribuan fotografer merekam dampak pemanasan global. Mulai 1990-an, beberapa dari mereka memutuskan bergerak lebih jauh: tak hanya menjadi saksi dan pelapor, tapi juga berkampanye melawan krisis lingkungan. Berikut sebagian contoh inisiatif mereka:    

Klaus Thymann, anggota liga elite Hasselblad Ambassadors sekaligus pendiri Project Pressure. (Foto: Hasselblad)

1. Project Pressure
Akibat kenaikan suhu bumi, glester di puncak-puncak dunia terancam raib—dan Project Pressure berdedikasi untuk mendokumentasikannya. Mengusung moto Visualizing Climate Crisis, platform ini bermitra dengan NASA dan WGMS (World Glacier Monitoring Service) untuk menyediakan foto-foto gletser dan memonitor penyusutannya secara akurat, baik secara daring maupun luring, contohnya lewat pameran Meltdown pada 2019 di Wina dan London. Project Pressure diluncurkan pada 2008 oleh Klaus Thymann, fotografer lingkungan asal Denmark sekaligus anggota liga elite Hasselblad Ambassadors. project-pressure.org  

2. Everyday Climate Change
Terinspirasi proyek visual Everyday Africa, fotografer James Whitlow Delano meluncurkan akun Everyday Climate Change sebagai wadah berbagi foto bertema perubahan iklim. Misinya sederhana: menunjukkan krisis alam adalah bencana yang riil, bukan hoaks. Hingga November 2020, lebih dari 50 fotografer berkontribusi bagi platform ini, termasuk Palani Mohan, Victor Moriyama, Nina Berman, serta Veejay Villafranca. Selain lewat Facebook dan Instagram, Everyday Climate Change sesekali memajang karya para kontributor lewat pameran, contohnya di Marseille pada 2015 dan Tuscany pada 2019. @EverydayClimateChange 

Hutan yang didesak perkebunan—bagian dari seri Earth from Above buatan Frans Lanting, anggota Union of Concerned Photographers. (Foto: Frans Lanting/WeTransfer)

3. Union of Concerned Photographer
Saban bulannya, WeTransfer dipakai sekitar 60 juta orang untuk mengirim dokumen. Sejak 2018, perusahaan ini mengajak para fotografer mengirimkan foto bertema lingkungan. Inisiatif ini dimulai dengan mendirikan Union of Concerned Photographers (UCP), kolektif beranggotakan fotografer kondang sekaliber Ami Vitale, Luca Locatelli, dan Mandy Barker. Mereka memajang foto yang mengajak orang peduli pada krisis lingkungan. Setelah itu, WeTransfer membuka peluang bagi fotografer lain untuk mengirimkan foto bertema serupa. Menurut Lucy Pike, Photography Director WeTransfer, proyek ini bertujuan “memanfaatkan kekuatan fotografi guna menegaskan urgensi krisis yang sedang kita hadapi.” wetransfer.com  

4. Artists & Climate Change
Platform ini lahir dari kegelisahan: apa kontribusi seniman dalam mengampanyekan pemanasan global? Bertolak dari sini, Artists & Climate Change mengumpulkan beragam inisiatif, wawancara, dan karya para artis (termasuk penulis, penari, musisi, dan fotografer) yang mengusung isu lingkungan. Konsepnya mirip portal berita, tapi dengan fokus memantik imajinasi publik agar tergerak dan terlibat. Salah satu kru Artists & Climate Change, Joan Sullivan, adalah seorang penulis dan “renewable energy photographer” asal Kanada. artistsandclimatechange.com  

Staf Kementerian Agrikultur AS memanen madu di Washington D.C. (Foto: USDA/Climate Visuals)

5. Climate Visuals
Konsepnya mirip agensi foto khusus tema lingkungan, tapi dengan bahasa visual yang mengutamakan sisi humanis. Alih-alih memajang foto miris beruang kutub atau es meleleh, Climate Visuals fokus pada kisah-kisah manusia, demi menciptakan relevansi bagi publik. Jasa yang ditawarkan lembaga ini antara lain kurasi dan pembelian foto (termasuk dari Magnum Photos), penugasan fotografer, serta penyusunan konsep komunikasi. Proyek sampingannya ialah ajang penghargaan Climate Visuals Photography Award. climatevisuals.org 

6. Conservation Heroes
Fungsi Conservation Heroes seperti penyeimbang. Saat banyak platform fokus mendokumentasikan dampak buruk perubahan iklim, International League of Conservation Photographers (iLCP) bertekad menumbuhkan harapan: menampilkan kisah para pahlawan lingkungan. Guna menambah konten dan gaungnya, inisiatif ini mengundang publik sebagai kontributor dengan menceritakan para jagawana bumi di sekitar mereka. conservationphotographers.org  

Fotografer Brock Cahill mendokumentasikan bahaya jaring untuk kampanye lingkungan SeaLegacy. (Foto: Paul Nicklen/SeaLegacy)

7. SeaLegacy
Selain rajin menggelar ekspedisi dokumentasi lautan, SeaLegacy bertindak layaknya aktivis konservasi maritim. Organisasi ini pernah melobi Senat AS untuk melarang pukat harimau, berkampanye menolak Lofoten Oil & Gas Exploration, serta mendukung nelayan tradisional di British Columbia. SeaLegacy didirikan pada 2014 oleh fotografer lingkungan Cristina Mittermeier dan Paul Nicklen. Mereka juga telah mendirikan kolektif berisi 20 fotografer dan videographer, termasuk Shawn Heinrichs, Andy Mann, John Weller, serta Keith Ladzinski. sealegacy.org 

8. The Earth Issue
The Earth Issue, kolektif seniman dan pekerja kreatif, menggunakan seni dan fotografi untuk mengeksplorasi isu-isu lingkungan kontemporer. Medium utamanya ialah majalah berkala yang mengusung tema spesifik per edisinya, serta dicetak menggunakan tinta nabati dan kertas daur ulang. Hingga kini, sudah tiga edisi yang diterbitkan, masing-masingnya digarap puluhan kolaborator. Khusus edisi keempat, A Dream of Tomorrow, sudah bisa dipesan di situs web mereka. Bagi fotografer yang ingin terlibat, The Earth Issue membuka peluang pengiriman karya dengan tema meliputi alam, konservasi, dan ekologi. theearthissue.com