Gunung Papandayan
“Gunung Papandayan adalah salah satu gunung yang membuat saya hingga kini terus mendaki gunung”, kenang Riri Goddess, anggota Komunitas Perempuan Petualang Indonesia-Srikandi Nusantara. “Pada 2002, saya melihat bintang di atas Papandayan seperti melihat bintang melalui planetarium. Saat itulah pertama kalinya saya melihat bintang jatuh.”

Papandayan menyuguhkan panorama cantik alam Jawa Barat dari ketinggian 2.265 meter. Dibutuhkan waktu sekitar lima jam untuk mencapai puncaknya. Titik awal pendakian adalah Desa Cisurupan yang mudah dijangkau dengan kendaraan.

Panorama lembah dan kawah Papandayan dilihat dari jalur pendakian menuju Areal Blok Pondok Salada.

Erupsi Papandayan pada November 2002 meninggalkan jejak alam yang memikat: kemunculan sejumlah kawah baru. Beberapa kawah mengeluarkan asap sulfur berwarna putih. Selain kawah, ada banyak tempat menarik bisa disinggahi. Misalnya, area Blok Pondok Salada yang dialiri Sungai Cisalada, atau Blok Sumber Air Panas yang memiliki sumber air panas yang mengandung belerang. Objek wisata yang paling populer tentu saja kawasan hutan mati di mana ratusan pohon cantigi seolah tumbuh tanpa daun.

Sebelum mencapai puncak tertinggi Papandayan, sempatkan pula mengunjungi Tegal Alun, hamparan seluas 32 hektare yang menjadi habitat edelweiss. Tegal Alun berstatus cagar alam. Pengunjung hanya diizinkan melintasinya saat hendak menjangkau puncak gunung. Kamping dilarang di sini.