Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

4 Tips Ciptakan Resepsi Ramah Lingkungan

Demi kurangi sampah, sisa bunga pesta pernikahan bisa disumbangkan kepada komunitas Daur Bunga. (Foto: Jeremy Wong)

Sunat Sampah
Menurut The Green Bride Guide, pesta pernikahan rata-rata meninggalkan 181 kilogram sampah, dan angka ini didasarkan pada resepsi standar Barat yang umumnya minim tamu. Ada beragam solusi untuk problem sampah saat resepsi, misalnya dengan memakai undangan format digital dan menghindari prosesi melepas balon. Khusus dekorasi pelaminan, gunakan tanaman yang bisa dibawa pulang untuk ditanam kembali. Sementara untuk sisa bunga, sumbangkan kepada komunitas Daur Bunga yang kemudian akan mengirimnya ke panti jompo dan panti asuhan.

Smog Free Ring dihiasi mata yang dibuat dengan menyerap polusi. (Foto: Pim Hendriksen/Studio Roosegaarde)

Cincin Terpuji
Pada 2003, usai berita bombastis “blood diamond” mencuat, lahir sertifikasi Kimberley Process yang bertujuan mencegah conflict diamond asal Afrika melingkari jari manis Anda. Seiring itu pula, banyak butik perhiasan lebih waspada dalam menjaga kemurnian berlian mereka. Brilliant Earth, Taylor & Hart, dan John Hardy adalah beberapa contoh yang mengklaim menjual batu mulia bebas konflik dan bisa dilacak sumbernya. Untuk alternatif yang lebih eksentrik, pilih Smog Free Ring yang dihiasi mata berisi partikel polusi. Membeli tiap butirnya berarti menyumbang 1.000 meter kubik udara bersih.  

Apurva Chapel memanfaatkan cahaya natural untuk menerangi interior. (Foto: Akiphotograph/The Apurva Kempinski)

Hemat Energi
Demi menekan polusi karbon, utamakan vendor terdekat. Sedangkan untuk mengurangi konsumsi listrik, pilih format resepsi outdoor atau gedung hemat energi. Beberapa kapel di Bali kini didesain transparan atau diterangi cahaya natural, contohnya Apurva Chapel dan The White Dove. Anda juga bisa memilih ballroom di hotel ramah lingkungan. Sheraton Surabaya dan Ayana Bali memiliki sertifikat Eco-Hotel, Bintan Lagoon Resort menyabet sertifikat LEED, sementara Alila Uluwatu mengimplementasikan program Zero Waste to Landfill.

Penjual peralatan makan berbahan biodegradable telah tersedia di Indonesia, contohnya Avani Eco dan Zero Waste Indonesia. (Foto: Good Soul Shop)

Katering Bijak
Dalam hajatan di Indonesia, leftover food bukan isu besar, berhubung sisa makanan galibnya ludes dibungkus panitia. Problem lingkungan biasanya muncul dari vendor katering. Hindari peralatan makan berbahan plastik atau satu kali pakai, atau setidaknya gunakan peralatan yang bersifat biodegradable. Penjualnya sudah tersedia di Indonesia, contohnya Avani Eco dan Zero Waste Indonesia. Khusus pesta kebun yang dilengkapi bar, datangkan minuman dalam drum ketimbang botol atau kaleng, lalu terapkan kebijakan “satu tamu satu gelas.”

Show CommentsClose Comments

Leave a comment

0.0/5