Oleh Yohanes Sandy

Pertumbuhan tempat makan di Bandung sangat cepat. Saban bulan hadir restoran-restoran baru yang siap menyambut turis, namun hanya segelintir yang konsisten menyajikan hidangan autentik Eropa. Alasannya mungkin simpel: karena penggemarnya tak banyak. Kami rekomendasikan empat restoran dengan menu Eropa yang khas. Beberapa di antaranya merupakan pemain baru.

Interior Welfed dengan jendela raksasa untuk memaksimalkan penetrasi cahaya alami.

Welfed
Jika kebanyakan pengusaha kuliner memilih lokasi di pusat kota untuk tempat usahanya, maka lokasi yang dipilih Welfed cukup janggal: Jalan Sersan Bajuri. Berjarak kurang lebih 30 menit berkendara dari pusat kota, Welfed bersemayam di dalam kompleks perumahan Vila Triniti—bertetangga dengan restoran legendaris Kampung Daun.

Welfed tak berdiri sendiri. Restoran yang baru beroperasi pada awal 2015 tersebut melebur dengan Gedong Putih, bangunan serbaguna yang kerap digunakan sebagai tempat melangsungkan resepsi pernikahan. Desain Gedong Putih sendiri cukup memesona yakni mengadopsi gaya rumah mansion dengan jendela-jendela raksasa. Welfed bersarang di lantai dua. Bangunannya dikerek menggunakan material kayu, sedangkan arsitekturnya menggabungkan ruang tertutup dengan balkon semi terbuka yang menyajikan pemandangan kebun rimbun di sekeliling bangunan. Konsep rustic diaplikasikan pada interiornya dengan kandil raksasa bergaya kontemporer disematkan di tengah bangunan. Dua buah meja komunal berdiri manis di bawahnya.

Salah satu menu dessert yang disediakan di jam ‘high tea.’

Karena lokasinya di perbukitan, udara dingin kerap menyerang. Namun, tak perlu khawatir. Pasalnya, Welfed menyediakan sebuah syal hangat yang bisa digunakan pengunjung di setiap kursinya. Dapur Welfed digawangi oleh Ryan Adi Permana, koki muda lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Untuk Welfed, pria yang pernah menyabet gelar The Best Asian Junior Chef di ajang Salon Culinaire 2011, ini tak banyak memberikan pilihan, namun kualitasnya tak perlu diragukan. Sebut saja steik black angus, hati angsa, hingga ikan kod. Masing-masing makanannya disajikan dengan presentasi yang cantik layaknya restoran fine dining seperti umumnya.

Welfed buka mulai pukul 15:00 hingga tengah malam. Dari pukul 15 hingga 18, restoran yang kerap penuh di akhir pekan tersebut hanya melayani sesi high tea dengan menu hidangan pencuci mulut serta beragam pilihan minuman mulai dari teh, kopi, jus, hingga koktail. Beranjak malam, dapurnya mulai melayani pemesanan hidangan makan malam. Villa Triniti, No.88, Jl. Sersan Bajuri; 0815-7225-2775; gedongputih.com.

‘Surf and turf’ dan ‘beef wellington‘ yang jadi andalan Royal Stag Bistro.

Royal Stag Bistro
Royal Stag Bistro adalah salah satu restoran khas Eropa di Bandung yang wajib dikunjungi. Beroperasi sejak 23 November 2013, alih-alih menyajikan hidangan Italia seperti restoran Barat kebanyakan, Royal Stag Bistro justru memilih kuliner khas Inggris yang masih asing.

Masuk ke restoran yang bersemayam di Jalan Bukit Dago Utara ini bagaikan bertamu ke kabin berburu khas Inggris. Kursi-kursi kayu dengan warna solid mendominasi. Di beberapa sudut disematkan sofa-sofa berlapis kulit khas Inggris. Salah satu pojok dindingnya dilapisi wallpaper bermotif loreng dan diramaikan dengan tengkorak kepala rusa. “Inspirasinya diambil dari gaya British vintage. Beberapa dekorasinya diimpor langsung dari Negeri Ratu Elizabeth,” ujar Agus Sulaiman, supervisor restoran yang kami temui, “Namun ada juga bahan-bahan yang dipesan langsung dari Yogyakarta. Misalnya tegel yang melapisi lantai restoran.”

Interior Royal Stag Bistro.

Agus mengatakan, sang pemilik restoran lama menetap di Inggris. Oleh karena itu, detail restorannya cukup diperhatikan, termasuk pilihan makanannya guna membawa aura autentik Inggris ke Kota Kembang. Beberapa hidangan yang wajib dicoba di sini adalah meat pie, beef wellington, serta sup Dame Alice. Untuk ukuran restoran lokal, kelezatan hidangannya cukup layak diacungi jempol. Daging steik yang kami coba lumer di mulut. Sausnya sangat memanjakan lidah. Sementara beef wellington-nya dibungkus pastry yang lembut dengan bumbu yang meresap di daging. Untuk urusan minuman, Royal Stag Bistro juga menyediakan sejumlah pilihan wine.

Selain makan siang dan malam, restoran yang sanggup menampung 100 tamu ini juga melayani acara-acara privat seperti resepsi pernikahan berskala kecil. Sementara itu, bagi mereka yang mencintai hal-hal berbau Inggris seperti kaus, keramik, atau tea set, Royal Stag Bistro juga memiliki toko suvenir yang terletak di samping restoran. Barangnya merupakan hasil karya desainer lokal. Jl. Bukit Dago Utara No. 2; 022/250-1595; royalstagbistro.com.

Salah satu sudut galeri seni yang menyambut tamu di Lumiere.

Lumiere
Lumiere mengadopsi konsep restoran yang lumayan marak belakangan ini, yakni mengawinkan galeri seni dan tempat makan. Terletak di Jalan Punawarman, restoran ini menempati bekas rumah tua. Fasadnya tak banyak diubah. Saat masuk, tamu akan disambut dengan galeri seni yang memajang lukisan-lukisan kontemporer karya sejumlah seniman Kota Kembang. “Lukisannya dijual. Tapi untuk detailnya saya tidak tahu,” ujar seorang pelayan yang mengantarkan makanan kami. Desain galeri seninya dibiarkan mengikuti bentuk bangunan. Hanya beberapa tembok dijebol guna menciptakan ruang yang lapang.

Area makan terpisah di bagian belakang. Interiornya mengadopsi gaya rustic dengan penggunaan material kayu dan besi yang cukup dominan. Mirip dengan restoran Ortolana di Auckland. Untuk menunya, restoran yang baru berdiri pada Desember 2014 tersebut menawarkan beragam pilihan hidangan Prancis. “Di sini yang paling laku adalah filet mignon,” kata sang pelayan memberikan rekomendasi. Menurutnya, seluruh makanan di Lumiere disiapkan oleh tim koki lokal dengan mengambil inspirasi dari Negeri Keju.

Area utama restoran Lumiere.

Selain filet mignon, menu khas Prancis lainnya yang bisa ditemukan di sini adalah escargot dan chicken cordon blue. Tersedia juga menu-menu brunch yang cukup menggoda. Meski tak mengukuhkan sebagai restoran fine dining, makanannya disajikan dengan tampilan yang cantik. Rasanya pun tak terlalu mengecewakan. Rupanya, beberapa menu cita rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang lokal. Meskipun namanya berbau Prancis, Lumiere juga menyajikan hidangan dari beberapa negara Eropa, seperti pasta dan menu sarapan ala Inggris. Jl. Punawarman No. 48; 022/420-8556; lumierebisto.com.

Pemandangan dari lantai tiga The Peak Resort Dining.

The Peak Resort Dining
Telah beroperasi selama lebih dari satu dekade, The Peak Resort Dining adalah salah satu restoran fine dining paling populer di Kota Kembang. Berdiri di ketinggian 1.210 di atas permukaan laut, The Peak menjanjikan panorama Bandung dari pegunungan.

The Peak dipecah menjadi tiga lantai dengan pilihan area indoor maupun outdoor. Di lantai teratas, bercokol area makan privat Sky Private Dining Room yang bisa digunakan oleh pasangan untuk menikmati sesi makan malam eksklusif. Dari sini, kota Bandung bisa dilihat tanpa halangan berarti.

Salah satu hidangan andalan The Peak Resort Dining.

Untuk menunya, The Peak fokus pada hidangan steik. Salah satu favoritnya adalah steik wagyu tenderloin yang menggunakan daging impor asal Amerika Serikat. Pilihan lainnya adalah pasta dan aneka daging bakar. Meskipun pangsa pasarnya terbatas, The Peak tetap punya penggemar setia. Restoran yang biasanya cukup ramai saat Hari Kasih Sayang ini sering menggelar sesi wine dinner menggandeng sejumlah produsen wine untuk pelanggan setianya. Tak heran bila koleksi winenya cukup lengkap. Jl. Desa Karyawangi, Ciwaruga Km. 6,8 No.388; 022/278-5429; thepeakresortdining.com.