Menu progresif berbahan lokal di Inua, restoran garapan mantan kepala divisi riset Noma. (Foto: Inua)

1. Inua
Setelah hampir 10 tahun menjabat kepala divisi riset Noma, Thomas Frebel pada 2018 membuka Inua, restoran yang menyuguhkan hidangan berkarakter Nordik dengan bahan lokal. “Pengalaman makan di sini cukup unik,” jelas Kazumasa. “Kadang cita rasa masakannya belum pernah Anda rasakan, tapi sangat lezat.” 2-13-12 Fujimi, Chiyoda, Tokyo; inua.jp 

2. Azabu Kadowaki
“Setidaknya sekali seumur hidup harus makan di sini,” kata Kazumasa. Restoran Kadowaki, yang menyabet dua bintang Michelin pada 2019, cocok bagi penggemar kaiseki (degustation versi Jepang). “Harga menunya cukup menguras kantong,” tambah Kazumasa, “tapi sepadan dengan rasanya.” 2-7-2 Azabu-juban, Minato; azabukadowaki.com 

3. Tsurutokame
Dunia dapur profesional masih didominasi pria, termasuk di Jepang. Inilah yang membuat Tsurutokame fenomenal: seluruh koki dan stafnya wanita. Terlepas dari misi emansipasi yang diusung sang pemilik, Kazumasa merekomendasikan restoran ini lantaran “pilihan sakenya cukup lengkap dan atmosfernya tiada duanya.” 6-715 Ginza, Chuo; tsurutokame.jp 

4. Quintessence
Pada 2009, saat daftar Michelin dilansir di Tokyo, Quintessence langsung meraih tiga bintang. Satu dekade berselang, prestasi itu sukses dipertahankan. Kazumasa menyebutnya sebagai restoran Jepang-Prancis terbaik di Tokyo. “Masakannya membuat saya selalu ingin datang kembali,” ujarnya. 6-7-29 Kitashinagawa, Shinagawa; quintessence.jp 

Kazumasa Yazawa
Kazumasa Yazawa pernah bekerja untuk dua restoran berbintang Michelin di Tokyo—Beige alain Ducasse dan Les Creations de Narisawa. Sejak 2016, koki yang lazim disapa Kaz ini menjabat Executive Chef OKU, restoran Jepang kontemporer di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.