Kiri-kanan: Suasana salah satu kamar Hurawalhi; ikan torpedo merah di restoran 5.8.

Hurawalhi Island Resort
Properti premium perdana dari grup   hotel lokal Crown & Champa ini dilansir Desember silam. Didesain sebagai resor khusus dewasa, Hurawalhi ideal bagi pasangan bulan madu dan mereka yang mendambakan privasi. Tapi bukan berarti mereka yang semata ingin bersenang-senang bakal diabaikan. Jadwal menyelam bersama tim Manta Trust senantiasa terpampang di papan tulis, ruang permainan menawarkan mesin pinball Game of Thrones, sementara bar di restoran Canneli menyuguhkan nobar dan pentas DJ.

Hurawalhi dirangkai dari banyak bahan natural. Desain inilah yang agaknya membuat tamu malas mengenakan kemeja dan sepatu. Lobinya yang megah dan restorannya yang dinaungi  kandil berbahan koral, dirancang oleh Yuji Yamazaki, arsitek kondang yang berbasis di New York.

Restoran 5.8 di Hurawalhi yang diklaim sebagai restoran kaca bawah air terbesar di dunia.

Restoran adalah amunisi andalan Hurawalhi. Meniti dermaga yang melengkung di atas laut, kita akan singgah di Aquarium yang menghidangkan seafood dan teppanyaki.  Menyusuri dermaga lainnya yang menjulur ke kompleks vila, kita akan mendarat di sebuah pondok kecil yang menyajikan sesi sampanye. Tentu saja, magnet terbesar resor ini adalah 5.8, restoran kaca bawah air terbesar di dunia. Tempat inilah yang membuat Hurawalhi disinggahi tamu dari banyak resor tetangga.

Nama 5.8 melambangkan 5,8 meter jarak restoran dari permukaan air. Artinya, sembari bersantap, tamu bisa menonton satwa laut berseliweran. Makan malam di sini menyuguhkan lima hidangan, misalnya ikan torpedo dengan kuskus kembang kol; serta lobster-roll yang dijepit meringue. Kualitasnya setara restoran di kota besar yang menerapkan aturan pakaian. Bedanya, 5.8 membebaskan tamu bertelanjang kaki. Restoran ini, sebagaimana seantero Maladewa, menganut moto barefoot luxury. Pulau Hurawalhi, Lhaviyani Atoll; hurawalhi.com; mulai dari Rp5.500.000.

Kiri-kanan: The Deli yang menyajikan es krim, kopi, dan beragam camilan; salah seorang butler di Kanuhura.

Kanuhura Maldives
Kanuhura berarti “pulau pojok,” nama yang merefleksikan lokasinya: sudut utara Lhaviyani Atoll. Di masa lalu, pulau ini adalah tempat transit favorit nelayan lokal sebelum mengarungi samudra. Pada 2000, sebuah resor didirikan di sini dan sejak itu pula profil tamu pulau pun berubah.

Dulu, Kanuhura lebih dikenal lewat promosi dari mulut ke mulut. Resor ini memiliki banyak penggemar setia.  Tahun ini, mereka punya alasan segar untuk kembali datang. Berkat proyek rombak wajah senilai $42 juta, Kanuhura seperti memiliki nyawa baru. Resor ini sekarang mengoleksi 80 unit vila dengan kombinasi warna putih, biru, dan  jambon. Hirsch Bedner, komandan proyek renovasi, menerapkan gaya desain “gypset.” Mereka menyematkan karya-karya seni berwarna cerah di vila, menghadirkan sepeda Electra untuk menjelajahi pulau, serta mendirikan tenda-tenda sebagai pengganti kabana di pantai.

Tamu Kanuhura bersantai di hammock.

Usai proyek bedah estetika, Kanuhura mengusung slogan anyar “surga tanpa kekangan,” walau kita bisa memelesetkannya menjadi “surga penuh kebugaran.” Selain membeli “roket air” Jetlev Flyer, resor ini mengakuisisi pulau tetangga Masleggihura bagi tamu yang ingin leluasa berkeliaran di pantai. Robert Hauck, general manager resor yang pernah mengikuti 38 ajang maraton, juga memperkenalkan beragam aktivitas kesehatan baru. Tamu bisa mencicipi kamp pelatihan tenis dan fitness asli Maladewa di mana exercise ball diganti oleh batok kelapa, sebelum kemudian menyegarkan tubuh di Kokaa Spa yang menawarkan menu perawatan setebal 50 halaman. Kelak, Robert akan menggelar maraton di Kanuhura dan merekrut juara dunia Muay Thai Irshaad Sayed guna merancang akademi bela diri pertama di Maladewa.

Saya tak tahu wujud resor dulu, tapi tawarannya kini cukup menghibur. Bagi pelanggan resor, beberapa magnet lawas tetap dipertahankan, misalnya seprai linen, bunga  anggrek di kamar, dan  makan malam romantis di kebun. Pulau Kanuhura, Lhaviyani Atoll; kanuhura.com; mulai dari Rp6.600.000.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017(“Manjapada Maladewa”).