Maret silam, dari sekitar 52.000 kamar hotel di Bali, kurang dari 10 persennya kosong akibat pandemi Covid-19. Merespons kondisi genting itu, pemilik hotel pun menempuh beragam siasat. Sebagian berpikir kreatif dengan menelurkan terobosan bisnis. Beberapa mengalihkan energi untuk aktivitas sosial. Sisanya memilih menutup hotel sementara. Berikut contohnya:

Karyawan Hyatt Regency Sanur memproduksi masker dari bahan kain batik daur ulang.

Donasi Masker
Menjawab terbatasnya masker selama pandemi Covid-19, sejumlah hotel mengerahkan karyawannya untuk memproduksi masker, baik untuk keperluan internal maupun warga sekitar. Ambil contoh InterContinental Jimbaran. Setiap harinya, para penjahit terampil dari tim tata graha resor ini memproduksi 40-50 buah masker yang kemudian diberikan kepada pegawai resor dan keluarga mereka, juga disumbangkan kepada warga sekitar. Inisiatif sosial serupa ditempuh oleh Hyatt Regency Sanur lewat program Gift that Gives Back. Resor di Sanur ini memproduksi masker dari bahan kain batik daur ulang, yang kemudian dijual atau disumbangkan ke komunitas setempat. Modus yang sedikit berbeda ditempuh oleh Meliá Nusa Dua. Selain mengerahkan karyawan untuk memproduksi masker, hotel ini mendonasikan 250 buah sarung bantal kepada Bali Life Foundation untuk kemudian dipakai sebagai bahan masker. 

Chicken katsu donburi, salah satu menu dalam layanan pesan antar Nagisa Izakaya. (Foto: Nikko Bali Benoa Beach)

Pesan Antar Makanan
Tergantung jenis dan lokasi hotelnya, divisi F&B menyumbang rata-rata 20-40 persen pendapatan hotel. Khusus masa pandemi, divisi ini mengambil peran sentral sebagai sumber kas utama. April silam, The Westin Nusa Dua meluncurkan servis pesan antar makanan Eat Well From Westin, di mana ongkos kirim digratiskan untuk pembelanjaan minimum Rp500.000. Tetangganya, Mulia Nusa Dua, membuka layanan serupa dengan menawarkan lebih dari 50 menu, mulai dari kroasan hingga nasi Bali. Contoh lain, Nikko Benoa Beach, membuka layanan pesan antar makanan dari kedua restoran andalannya—Nagisa Izakaya dan Giorgio Italian.  

Kiri-Kanan: Artotel Sanur memberi diskon kamar 65 persen untuk durasi menginap tujuh malam (Foto: Putu Sayoga); Four Seasons Jimbaran merespons wabah dengan memberi paket promosi jangka panjang. (Foto: Danar Tri Atmojo)

Promo Menginap
Ada dua model promosi kamar yang populer. Pertama, obral kamar. Promo ini galibnya ditujukan untuk turis yang “terjebak” di Bali, warga yang bosan terkurung di rumah, atau kaum profesional yang butuh amenitas hotel (misalnya internet) untuk bekerja. Model kedua ialah book now stay later, yakni paket promosi untuk periode menginap selepas pandemi. Trans Resort menawarkan paket Stay Di Hotel Aja seharga Rp1,7 juta, serta menjual voucher Rp1,6 juta untuk tenggat menginap hingga April 2021. Contoh serupa terlihat di Artotel yang memberi diskon hingga 65 persen untuk durasi menginap tujuh malam, serta menjual voucher dengan tenggat pemakaian Februari 2021. Dua properti lain yang menawarkan promo menginap ialah Four Seasons Jimbaran (gratis satu malam jika menginap empat malam, hingga 21 Maret 2022); serta Indigo Seminyak Beach (Rp10 juta untuk tujuh malam).

The Samaya Seminyak, satu dari 10 hotel Grup Santika di Bali yang tutup temporer. (Foto: Santika Indonesia)

Tutup Temporer
Langkah terakhir (dan terpahit) yang diambil pemilik hotel dalam menghadapi pandemi ialah menutup sementara propertinya, baik atas pertimbangan biaya operasional ataupun demi mencegah penyebaran virus. Grup Santika Indonesia menutup 82 hotelnya dengan 10 di antaranya berlokasi di Bali, termasuk The Anvaya Beach Resort, The Kayana Seminyak, dan The Samaya Ubud. Beberapa hotel lain yang resmi memutuskan hiatus sejak Maret atau April 2020 ialah Le Méridien Jimbaran, Alaya Ubud, U Paasha Seminyak, serta Sudamala Sanur.