LATAM Airlines di Belo Horizonte, Brasil. Maskapai terbesar Amerika Latin ini bangkrut pada Mei 2020. (Foto: Claudio Luiz Castro)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Virus mengguncang angkasa. Hingga Oktober 2020, lebih dari 40 maskapai menjadi korban pandemi Covid-19. Ada yang ditutup, dibekukan, hingga dijual. Ada pula yang menyatakan gagal bayar dan bangkrut, lalu diambil alih pemerintah. Berikut sebagian contohnya:

1. Air Italy
Air Italy, semacam Lion Air versi Italia, membekukan seluruh operasionalnya pada 11 Februari 2020. Upaya menyelamatkannya gagal setelah salah satu pemilik saham terbesarnya, Qatar Airways, juga tengah menghadapi problem pelik. Air Italy merupakan maskapai terbesar kedua di Italia. Usai dilikuidasi, perusahaan yang bermarkas di Sardinia ini menjual bertahap seluruh asetnya.   

Armada A330 Cathay Dragon, anak usaha Cathay Pacific yang ditutup pada Oktober 2020. (Foto: Cathay Pacific)

2. Cathay Dragon
Sang naga telah tewas pada 21 Oktober 2020. Rute-rutenya akan diambil alih oleh induk usahanya, Cathay Pacific, atau maskapai berbiaya rendah HK Express. Cathay Dragon bagi Cathay Pacific ibarat Citilink bagi Garuda Indonesia. Maskapai dengan kode KA ini melayani destinasi “sekunder” di kawasan Asia. 

3. AtlasGlobal
Maskapai ini sudah lama mengalami kesulitan keuangan. Pandemi bisa dibilang hanyalah pukulan terakhir yang membuatnya tumbang permanen. AtlasGlobal, maskapai yang berpusat di Istanbul, menyatakan bangkrut pada awal Februari 2020, kemudian menghentikan seluruh operasional.

Sayap armada AirAsia Japan, maskapai yang tutup usia pada Oktober 2020.

4. AirAsia Japan
Diluncurkan pada 2011, dibekukan pada 2013, dihidupkan lagi pada 2014, AirAsia Japan akhirnya tutup usia pada 5 Oktober 2020 akibat pandemi. Penerbangan berikutnya ke Jepang dari Malaysia, Thailand, dan Filipina diambil alih oleh maskapai lain yang dioperasikan oleh AirAsia Group. 

5. NokScoot
Didera problem keuangan sejak 2014, NokScoot limbung diganyang pandemi, hingga akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada Juni 2020. Duet pemilik sahamnya, Singapore Airlines dan Nok Air, tak lagi melihat masa depan maskapai bujet ini. Berbasis di Bangkok, NokScoot melayani destinasi regional di Asia, termasuk Singapura, Taipei, dan New Delhi.

American Eagle, kode yang dipakai oleh Compass Airlines, maskapai yang gulung tikar April 2020. (Foto: Marcio Jumpei Nakatsui/Embraer)

6. Compass Airlines
Gagal mencari suntikan dana segar, Compass Airlines gulung tikar pada 5 April 2020. Sebelumnya, maskapai ini terbang dengan nama American Eagle and Delta Connection. Pemiliknya, Trans States Holdings, juga mengoperasikan GoJet Airlines dan Trans States Airlines. Maskapai yang terakhir ini juga sudah ditutup akibat pandemi.  

7. Trans States Airlines
Korban pertama pandemi di Amerika Serikat, Trans States Airlines resmi tutup usia pada 1 April 2020. Maskapai regional yang berbasis di Missouri ini melayani rute-rute “terusan” dari United Airlines. Usai ditutup, armadanya dialihkan ke ExpressJet Airlines. 

Pramugari Virgin Australia dengan latar A320. April 2020, maskapai ini dibeli oleh Bain Capital. (Foto: Virgin Australia)

8. Virgin Australia
Lama digerogoti utang, maskapai terbesar kedua di Australia ini tumbang pada April 2020 usai diterjang badai pandemi. Untungnya, sebelum obituarinya rampung ditulis, Virgin Australia disuntik energi baru. Akhir Juni, ia dibeli oleh Bain Capital, firma investasi AS yang didirikan oleh senator Mitt Romney.  

9. TAME
Maskapai BUMN Ekuador ini dilikuidasi pada 21 Mei 2020. Pemerintah berencana memelihara beberapa rutenya, walau belum ada kejelasan rute mana yang dimaksud. Hingga artikel ini ditulis, situs web TAME menyatakan seluruh penerbangan masih dibekukan hingga pemberitahuan lebih lanjut. 

Buntut pesawat A320neo milik LATAM Airlines, maskapai yang sedang merestrukturisasi utangnya. (Foto: JV Reymondon/Airbus)

10. LATAM Airlines
Digoyang pandemi, maskapai terbesar di Amerika Latin ini menyatakan bangkrut pada 26 Mei 2020. LATAM Airlines, yang bermarkas di Cile, kini sedang merestrukturisasi utang dan perusahaannya, sembari melayani beberapa destinasi yang telah dibuka kembali.

11. One Airlines
Selain penumpang umum, maskapai asal Cile ini melayani penerbangan carter untuk perusahaan tambang, terutama di kawasan utara negeri. Pada 24 Juni 2020, maskapai ini menghentikan seluruh operasionalnya, selain karena pandemi, juga akibat kalah bersaing dari SKY Airline, JetSMART, serta LATAM Airlines. 

Interior Flybe, maskapai yang berjaya di pasar domestik Britania Raya, tapi kini terkapar akibat wabah. (Foto: Thomas de Luze)

12. Flybe
Walau menguasai hampir 40% pasar penerbangan domestik Britania Raya, Flybe sebenarnya terus digerogoti masalah. Pada 2019, ia diakuisisi oleh konsorsium Virgin. Maret 2020, akibat pandemi, Flybe terkapar dan diambil alih pemerintah. Kabarnya, maskapai ini akan kembali mengangkasa tahun depan. 

13. Avianca
Lahir pada 5 Desember 1919, Avianca adalah maskapai tertua kedua di dunia. Pada 10 Mei 2020, perusahaan legendaris ini menyatakan kolaps akibat dilindas pandemi. Sembari membereskan dapurnya, maskapai ini sudah terbang kembali, bahkan sempat menggelar konser di kabin salah satu penerbangannya pada Oktober 2020.  

Armada A330-900 Air Mauritius, maskapai yang menyerahkan nasibnya pada pemerintah usai kewalahan menghadapi pandemi. (Foto: H. Gousse/Master Films/Airbus)

14. Air Mauritius
Pada 22 April 2020, maskapai nasional Mauritius ini menyerahkan nasibnya pada otoritas setempat, usai kewalahan menghadapi paceklik penumpang. Rencananya, organisasi dan utangnya akan direstrukturisasi, dengan harapan Air Mauritius bisa terbang kembali di 2021.   

15. Ravn Alaska
Usai menyatakan bangkrut pada 5 April 2020, maskapai regional Alaska ini mengoperasikan penerbangan carter, sembari mencari pemilik baru. Ravn (dibaca “Raven”) melayani penerbangan ke 115 destinasi di Alaska. Belum ada kejelasan kapan ia akan terbang normal. Situs webnya menyatakan maskapai ini sedang menanti persetujuan penerbangan berjadwal dari Departemen Transportasi AS.