Instalasi buatan I Wayan Sujana Suklu di kompleks ABBC Building. (Foto: Danang Sutasoma/Art Bali)

Oleh Cristian Rahadiansyah  

Pada awal abad ke-20, seni berperan vital dalam meroketkan pamor Bali. Karya-karya para artis generasi tersebut, contohnya Nyoman Lempad dan Walter Spies, ibarat “iklan pariwisata” pertama dari pulau ini untuk khalayak dunia. 

Kini, pamor seni memang sudah surut sebagai magnet utama. Sulit mencari maestro asing yang mondok di Bali, sementara banyak perupa lokal justru bersinar di daerah lain, terutama Yogyakarta. Kendati begitu, Bali masih memiliki tempat-tempat yang merayakan kreativitas para artis. Ini 10 contohnya:    

1. Museum Rudana, Ubud
Dalam hal variasi koleksi, museum ini sulit disaingi. Selain karya artis lokal seperti Lempad dan Nyoman Gunarsa, Museum Rudana menghidangkan kreasi maestro nasional sekaliber Affandi, Basuki Abdullah, serta Srihadi Soedarsono. Banyak tamu agung, termasuk kepala negara asing, singgah di sini. Museum Rudana, yang dimiliki oleh kolektor Nyoman Rudana, beroperasi sejak 1995 dan menampung lebih dari 400 lukisan dan patung. Jl. Peliatan, Ubud; museumrudana.org 

Kiri-kanan: Interior Le Mayeur Museum, Sanur; Patung Le Mayeur dan Ni Nyoman Pollok. (Foto: Putu Sayoga)

2. Le Mayeur Museum, Sanur
Selain beragam lukisan, foto hitam putih, hingga mebel kayu sarat ukiran, museum berbentuk rumah tradisional ini menyimpan kisah cinta klasik antara seniman asing dan gadis lokal Bali. Syahdan, Adrien-Jean Le Mayeur, juru sungging asal Belgia, datang ke Pulau Dewata pada 1932 dan jatuh hati dengan Ni Nyoman Pollok, seorang penari Legong. Mereka menetap di Sanur saat daerah ini masih dimitoskan keramat, hingga Le Mayeur meninggal pada 1958, disusul oleh istrinya pada 1985. Jl. Hang Tuah, Sanur 

Halaman belakang Blanco Museum, kompleks yang merekam kisah dan karya Antonio Blanco. (Foto: Eugenia Clara)

3. Blanco Museum, Ubud
Eksentrik sekaligus magnetik, Antonio Blanco kerap dijuluki “Dali versi Bali.” Museum miliknya di Ubud memancarkan pesona serupa: kombinasi arsitektur Bali dan modern, dinding dan mebel berwarna semarak, serta permainan kriya dan ornamen abstrak. Di dekat area parkirnya, ada restoran eksperimental Blanco par Mandif yang menyuguhkan menu Indonesia dalam presentasi treatrikal. Jl. Raya Tjampuhan, Ubud; blancomuseum.com 

Kiri-kanan: Template Gate buatan Arie Smit di Museum Neka; Pengunjung memotret lukisan di Museum Neka. (Foto: Putu Sayoga)

4. Museum Neka, Ubud
Di antara koleksinya yang memukau, contohnya lukisan tua dari Ubud hingga wayang abad ke-17, kanvas-kanvas “ceria” buatan Arie Smit adalah magnet utama Museum Neka. Smit, perintis aliran Young Artists, memang bersahabat dengan sang pemilik museum, Suteja Neka, bahkan menghabiskan hari-hari terakhirnya di vila milik Neka. Dibuka pada 1982, Museum Neka juga merupakan salah satu museum seni tertua di Bali. Jl. Raya Tjampuhan, Ubud; museumneka.com 

Karya-karya dalam Art Bali 2018 di ABBC Building, Nusa Dua. (Foto: Art Bali)

5. ABBC Building, Nusa Dua
Kehadirannya pada 2018 memberi suntikan segar bagi dunia seni kontemporer Bali. Dilengkapi fitur modern, gedung ini memberi keleluasaan dalam presentasi karya, termasuk untuk pemasangan instalasi berukuran besar dan pameran multimedia. Di luar hajatan utama Art Bali, ABBC Building rutin menghadirkan ajang temporer, contohnya pameran bertajuk Balinese Masters pada 2019. Jl. Kawasan Nusa Dua Resort; abbcbuilding.com 

Suasana pameran seni di Santrian Art Gallery, Sanur. (Foto: Griya Santrian)

6. Santrian Art Gallery, Sanur
Sesuai namanya, galeri partikelir ini bersemayam di kompleks Griya Santrian, hotel yang dikelola oleh salah satu keluarga paling berpengaruh di Sanur. Pamerannya cukup beragam, mulai dari lukisan, sketsa, hingga foto. Tahun lalu misalnya, ada pameran 31 foto bertema bambu hasil jepretan 31 fotografer. Jl. Danau Tamblingan 47, Sanur; santrian.com  

Kiri-kanan: Agung Rai, pemilik ARMA; Lukisan Arie Smit yang berjudul Dreaming Boy di ARMA. (Foto: Putu Sayoga)

7. Agung Rai Museum of Art, Ubud
Basis strategis untuk berkenalan dengan seni rupa Bali, Agung Rai Museum of Art (ARMA) menampilkan lukisan klasik Kamasan, lukisan langgam Batuan, hingga karya para maestro lokal dan artis asing yang mondok di Bali, contohnya Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Selain karya seni, museum yang diresmikan pada 1996 ini menyajikan pentas tari dan teater. Jl. Raya Pengosekan, Ubud; armabali.com 

8. Museum Puri Lukisan, Ubud
Museum seni tertua di Bali ini didirikan pada 1956 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati, dengan Rudolf Bonnet sebagai kuratornya. Bertekad mengumpulkan karya bertema Bali, museum ini menampung sampel dari hampir setiap aliran atau kolektif yang mewarnai skena seni lokal, termasuk Pita Maha, Sanur, Batuan, Young Artists, serta Keliki. Jl. Raya Ubud; museumpurilukisan.com 

Area taman di Museum Pasifika, kompleks yang menampung sekitar 600 karya. (Foto: Museum Pasifika)

9. Museum Pasifika, Nusa Dua 
Dalam bangunan rancangan Popo Danes, Museum Pasifika menampung sekitar 600 karya yang disebar dalam 11 ruangan. Selain lukisan dari para maestro seperti Raden Saleh dan Lempad, museum ini memiliki zona khusus artis Eropa yang pernah mampir di Indonesia, termasuk Miguel Covarrubias dan Theo Meier. Daya tarik lainnya yang cukup langka ialah aneka patung dan pahatan dari negara-negara kepulauan di Pasifik. Kompleks BTDC Nusa Dua; museum-pasifika.com 

Pameran di Sudakara ArtSpace, galeri milik resor Sudamala Sanur. (Foto: Putu Sayoga)

10. Sudakara ArtSpace, Sanur
Galeri ini berada di kompleks Sudamala Sanur, resor yang didirikan oleh seorang kolektor seni. Acaranya cukup variatif. Pada 2013 misalnya, ruangan seluas 250 meter persegi ini memajang karya-karya Kemal Ezedine, Bambang Juliarta, serta Putu Edy Asmara Putra. Tahun lalu, ada pameran Patience is Earth yang mengeksplorasi rice paper. Jl. Sudamala 20, Sanur; sudamalaresorts.com