Updates

10 Alasan Baru ke Singapura

Suasana senja di Marina Bay (Foto oleh Visit Singapore).

Teks dan foto oleh Muhammad Hafiz Abd Raub

Dengan luas menyamai Jakarta, dengan tiap jengkal tanahnya yang telah terpetakan, dengan tiap objek wisatanya yang telah terpampang di brosur, masihkah Singapura memiliki tempat yang tersembunyi dari radar turis?

Singapura adalah destinasi luar negeri pertama bagi banyak orang Indonesia. Akan tetapi, negeri ini kerap diterjemahkan sebatas kombinasi antara mal dan taman rekreasi. Sirkuit turis jarang sekali menyimpang dari kawasan Orchard, Marina Bay, atau Sentosa. Padahal, sebagaimana Jakarta, Singapura terustumbuh, bergerak, melebar dan mencipta. Inovasi segar muncul hampir saban bulan.

Singapura mungkin tak mengenal istilah “tempat yang tersembunyi,” tapi ia pastinya memiliki banyak “tempat yang menanti ditemukan.” Saya mengumpulkan 10 di antaranya. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Singapura tapi menghabiskan sepertiga hidup di Indonesia, saya berharap rekomendasi saya memperlihatkan pemahaman yang memadai atas selera pelancong Indonesia.

Lanjutkan ke halaman selanjutnya untuk lihat daftar lengkapnya: 

Gerbang utama Wheeler’s Yard, toko sepeda yang juga menampung sebuah kafe.
Kiri-kanan: Beragam rangka sepeda yang dijadikan hiasan di Wheeler’s Yard; suasana kafe Wheeler’s Yard.

Wheeler’s Yard
Bagi anggota komunitas Bike to Work atau Ngagowes Nusantara, Wheeler’s Yard adalah wadah yang sempurna untuk melebarkan jaringan pertemanan, berbagi kisah, atau mungkin merancang tur-tur bersama. Tentu saja, tempat yang berlokasi di wilayah Balestier ini juga pas untuk berbelanja suku cadang dan aksesori, sekaligus berkonsultasi dengan para mekanik. Wheeler’s Yard menempati sebuah gudang tua yang megah. Desainnya menarik. Selain toko sepeda, tempat yang mirip hanggar ini memiliki kafe yang didesain bergaya kombinasi industrial-chic–vintage. 28 Lorong Ampas; 65/9726-1183; wheelersyard.com.

Bangunan MINT Museum yang bergaya minimalis modern.

MINT Museum
Tempat ini tak cuma mengajak Anda bernostalgia ke masa kecil, tapi juga mengundang Anda menembus mesin waktu ke dunia anak-anak di masa silam. Moment of Imagination & Nostalgia with Toys (MINT) Museum memiliki koleksi ekstensif dolanan dari era 1800-an hingga abad modern yang didatangkan dari 40 negara. Kita bisa menemukan, umpamanya, tumbling toy bertitimangsa 1840, robot kaleng generasi pertama buatan Jepang, hingga pistol Flash Gordon. Di sini, masa silam tak cuma bisa dikunjungi, tapi juga dibeli. Museum ini memiliki toko yang menjajakan mainan klasik, misalnya figur Popeye buatan 60-an dengan harga $8.000. Terlalu mahal? Opsi suvenir yang lebih terjangkau adalah kelereng dan chapteh. 26 Seah Street; 65/6339-0660; emint.com.

Kiri-kanan: Salah satu sudut Museum of Art & Design; fasad museum.

MAD
Jalan Orchard memang dikuasai mal, tapi jika kita mau menjelajahi gang-gang di sekitarnya lebih saksama, kita akan mendapati kawasan ini bukanlah sekadar tempat untuk menggesek kartu kredit. Didirikan oleh Jasmine Tay, perupa merangkap pengusaha, Museum of Art & Design (MAD) Singapore adalah suaka bagi mereka yang menyukai kreativitas otak kanan. MAD bertekad menjadikan seni lebih mudah diakses publik—agenda yang dimuluskan oleh desain bangunannya yang lapang dan menyenangkan. Dalam tiap pamerannya, kompleks seluas 1.700 meter persegi di Tanglin Road ini menampilkan karya-karya dari enam hingga 12 seniman. Di bagian lain museum, kita bisa menemukan toko dan bistro yang didesain apik. 10 Tanglin Road #01-01/#02-01; 65/6734-5688; madmuseumsingapore.com. 

Eksterior Kombi Rocks yang bergaya vintage (Foto oleh Kombi Rock).

Kombi Rocks
Singapura bukan tempat yang cocok bagi penggemar otomotif, kuliner, dan budaya rock & roll—kecuali jika Anda berkunjung ke Kombi Rocks. Dimulai pada 1971 sebagai restoran keluarga yang menjajakan menu oriental, tempat ini berubah menjadi wadah kongko yang menyatukan penggemar mobil, musik, dan kuliner. Ada banyak ornamen atraktif di restoran ini, termasuk Vespa tua dan Honda Monkey. Interiornya didesain untuk memanjakan pecandu Instagram.

Kendati demikian, magnet terbesarnya, setidaknya bagi saya, sebenarnya tersimpan di luar bangunan: lahan parkir berisi koleksi langka seperti VW Kombi, Lambretta, Chevy Impala, dan Porsche 944. Tamu boleh mencobanya. Membeli paket Joyride, kita bisa mengendarai mobil langka tersebut selama 30 menit, kemudian kembali ke restoran untuk menikmati masakan yang diracik memakai resep keluarga berusia 46 tahun. 66 Yio Chu Kang Road; 65/9008-6918; kombirocks.com.

Patung Tintin berukuran jumbo di Tintin Shop.
Kiri-kanan: Pintu masuk Tintin Shop; beragam suvenir yang jadi oleh-oleh favorit pengunjung Tintin Shop.

Tintin Shop
Tintin belum pernah ke Singapura dan wartawan investigasi bukan profesi yang seksi di negeri ini, jadi wajar jika banyak orang bertanya-tanya mengapa Tintin Shop pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara hadir di sini. (Toko sejenis terdapat di Jepang, Inggris, Spanyol, dan tentu saja, Belgia.) Tempat yang diresmikan pada 2010 ini adalah buah obsesi pengusaha Gabriel Tan. Tintin Shop menjajakan beragam pakaian, game, DVD, buku, dan segala yang terkait karakter fenomenal ciptaan Hergé tersebut. Salah satu zona di toko didedikasikan untuk memajang benda collectible yang langka, karena itu tidak dijual. 28 Pagoda Street, 65/8183-2210; tintin.sg.

Kiri-kanan: Interior Tamarind Hill yang elegan; area bar di Tamarind Hill.

Tamarind Hill
Restoran ini memiliki spesialisasi tradisi dapur Indocina. Masakannya dihidangkan di ruangan karismatik yang dihiasi sejumlah arca, kostum, dan manuskrip tua. Banyak orang memuji Tamarind Hill sebagai wadah terbaik untuk menikmati masakan autentik Thailand, tapi daya tariknya tak cuma tersaji di atas piring. Tamarind Hill bersemayam di sudut yang jarang terjamah turis, Labrador Nature Reserve. Restoran ini menempati rumah sepuh yang dirawat rapi. Bangunannya melemparkan ingatan saya ke masa-masa ketika saya dan teman gemar menelusuri rumah-rumah kolonial warisan para tuan berkulit pucat dari zaman penjajahan Inggris. 30 Labrador Villa Road; 65/6278-6364; tamarindrestaurants.com. 

Kiri-kanan: Salah satu sudut kompleks National Stadium; Kallang Wave Mall, tempat belanja perlengkapan olahraga.

National Stadium Area
Seperti Senayan, tapi tawarannya lebih beragam. Kita bisa menjajal panjat tebing, berenang, bermain voli pasir, atau sekadar mengagumi terbenamnya mentari dengan latar kota. Jika malas berkeringat, kita bisa berkelana di Sports Museum atau berbelanja perlengkapan olahraga di Kallang Wave Mall. Luas kawasan National Stadium mencapai 35 hektare, bagian dari kompleks Sports Hub. Mengunjunginya kini lebih mudah berkat kehadiran Circle dan Downtown MRT Lines. Singapura belum memiliki tradisi prestasi olahraga yang menyilaukan, tapi negara ini tengah bergairah mencetak atlet, terutama sejak Joseph Schooling menyabet medali emas Olimpiade di cabang renang. Sports Hub kini bagaikan kawah yang bertekad menggodok lebih banyak Joseph. 1 Stadium Dr; 65/6653-8900; sportshub.com.sg.

Kapok menggabungkan kafe dan bazar yang penuh dengan barang lokal.

Kapok
Logo-logo di etalase mal selalu menggiurkan, tapi jika mencari tempat belanja alternatif yang lebih kaya “muatan lokal,” Kapok layak dipertimbangkan. Butik yang terselip di sisi gedung National Design ini menjajakan beragam kreasi buatan perancang dalam negeri, ditambah produk-produk dari banyak negara yang diseleksi secara personal. Jangan terkejut jika Anda melihat kreasi A.P.C dan Sandqvist bersanding dengan Myrrh dan KURU. Butik ini dirintis sebagai popup store pada 2006 di Hong Kong oleh pengusaha Prancis Arnault Castel. Untuk cabang Singapura, dia menciptakan fasilitas tambahan berupa kafe yang digarap melalui kerja sama dengan merek populer Tanuki Raw Café. 111 Middle Road; 65/6339-7987; ka-pok.com.

Formasi bebatuan granit di Little Guilin, area piknik yang populer bagi warga lokal.

Little Guilin
Julukannya menjelaskan sosoknya: versi mini dari formasi granit raksasa di Guilin, Tiongkok. Kawasan yang teronggok di belahan barat Singapura ini menawarkan lintasan joging, lanskap hijau seluas 42 hektare, dan ratusan titik untuk menyerap panorama bebatuan megah yang menyeruak di tengah danau hening. Area yang dulu menampung tambang ini sangat populer di kalangan pengamat burung, fotografer, juga penggemar piknik di akhir pekan—aktivitas yang dulu pernah saya lakoni saat berusia 10 tahun bersama ayah. Bukit Batok Town Park, Bukit Batok East Avenue 5; 65/1800-4717-300; nparks.gov.sg.

Salah satu rumah tradisional di Kampong Buangkok, Singapura.

Kampong Lorong Buangkok
Indonesia punya cukup banyak kampung. Jadi, untuk apa terbang ke Singapura demi melihatnya? Pertama, karena Lorong Buangkok (lihat videonya di sini) sejatinya sebuah antitesis yang menarik. Saat Singapura dicirikan oleh orang-orang yang berbicara dan bergerak cepat, Lorong Buangkok mengajak kita memperlambat detak jantung dengan menyaksikan warga menikmati waktu, membiarkan hari berlalu, meski suara palu pekerja konstruksi terus bergema di sekitar mereka.

Alasan kedua, Lorong Buangkok adalah jembatan ideal untuk berziarah ke masa lalu Singapura. Permukiman ini mulai dihuni pada 1956, sembilan tahun sebelum Singapura merdeka. Kini hanya segelintir keluarga yang mendiaminya. Rumah-rumah mereka masih terawat, dengan panel-panel kayu yang dikelir jambon, biru, hijau, dan kuning. Saya berharap tempat ini terus lestari, juga dilestarikan. Di tengah negeri yang giat berlari sebagai jantung finansial Asia Tenggara, Lorong Buangkok, kampung terakhir di daratan Singapura, sejatinya merupakan sebuah cagar budaya. 7 Lor Buangkok.

Jika Anda punya rekomendasi tempat menarik di Singapura menurut versi Anda sendiri, silakan tulis di kolom komentar di bawah.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Kolase Klandestin”).