Wisata Rasa di Yokohama

Dari bir lokal hingga seafood doria, banyak inovasi Yokohama merupakan buah dari status kota ini sebagai bandar internasional pertama di Jepang.


(Video Yokohama oleh Yokohama Convention & Visitors Bureau)

Teks oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Fransisca Angela

Ramen
Tidak jelas betul siapa sebenarnya pencipta ramen. Satu versi cerita mengklaim mi kuah Jepang ini ditemukan pada 1884 di Hakodate, kota di utara Jepang. Versi yang lain membantah cerita itu dengan mengatakan Hakodate cuma membuat prototipenya, sementara versi orisinal ramen baru ditemukan pada 1910 di distrik Asakusa di Tokyo.

Terlepas dari perdebatan itu, kelahiran ramen tak bisa dilepaskan dari peran Yokohama. Usai meresmikan pelabuhannya pada 1859, kota bandar ini melebarkan hubungan niaga antara Jepang dengan dunia Barat. Dalam proses itu, pekerja migran dari banyak negara tetangga berdatangan, termasuk Tiongkok, yang kemudian memicu kelahiran pecinan. Melalui merekalah Jepang mengenal mi, bahan utama ramen selain daging, kuah kaldu, serta umami, yakni rasa kelima setelah manis, asam, asin, dan pahit.

Peran Yokohama dalam perkembangan ramen tidak berhenti di situ. Jika dulu berjasa memperkenalkan mi Tiongkok kepada warga Jepang, kota ini kemudian memperkenalkan ramen kepada warga dunia. Pada 1994, Yokohama mendirikan Shin-Yokohama Raumen Museum di sisi utara kota. Layaknya “ramenpedia,” tempat ini membeberkan segala hal tentang ramen, mulai dari riwayatnya, evolusinya, penyebarannya, hingga pencapaiannya. Kita bisa mengetahui, misalnya, gerai ramen pertama di luar Jepang ternyata berdiri di New York pada 1975.

Bartender Yokohama Brewery, pabrik bir yang didirikan pada 1995.

Kini, hampir tiap daerah di Jepang memiliki versi ramennya masing-masing, dan Raumen Museum juga berniat membantu publik memahami (dan mencicipi) keragaman tersebut. Di lantai bawah museum terdapat sebuah pujasera berlantai dua yang dihuni sembilan kedai ramen dari sembilan daerah, mulai dari Miraku asal Hokkaido hingga Yuji yang dirintis di Brooklyn. Ruangan pujasera ini didesain menyerupai stasiun kereta di Tokyo pada 1958—tahun ditemukannya mi instan oleh Nissin. Satu hal yang mungkin menjadi pertanyaan Anda dari Raumen Museum adalah namanya. Kenapa “Raumen”? Kata staf museum, pilihan itu disebabkan keterpaksaan, sebab kata “ramen” sudah dipakai oleh museum lain.

Suguhan bir lokal yang menggoda.

Bir
Industri bir Jepang berutang banyak pada Yokohama. Kota inilah yang pertama kali melahirkan bir lokal modern pertama. Syahdan, tak lama setelah Yokohama merekah sebagai kota bandar internasional pada abad ke-19, sejumlah pengusaha bir asing datang untuk melebarkan sayap bisnisnya. Pada 1870, William Copeland, pria asal Amerika Serikat, mendirikan pabrik Spring Valley Brewery. Setahun sebelumnya, hadir Japan Brewery.

Berkat sejarah itu, menenggak bir Jepang kini menjadi pengalaman kuliner khas Yokohama. Menyusuri jalan-jalan kota, ada banyak kedai yang menjajakan bir lokal. Salah satu kedai terpopuler di sini adalah Yokohama Brewery, restoran mencakup pabrik bir yang didirikan pada 1995. Tawaran utamanya sesi tasting yang terdiri dari lima varian: bohemian pilsner, Dusseldorf alt, hefeweizen, American pale ale, serta Yokohama lager.

Pengunjung yang ramai mengantri di depan salah satu gerai ramen.

Tempat lain yang juga sukses menuai penggemar ialah Yokohama Bay Brewing, sebuah kedai bersahaja yang bersemayam di “beer district” Kannai. Di sini, selain menenggak aneka bir, kita bisa menggali info acara-acara bertema bir. Suzuki Shinya, pemilik Yokohama Bay Brewing, merupakan otak di balik ajang tahunan Japan Brewers Cup.

Sebagai “destinasi bir,” satu kekurangan Yokohama adalah harga birnya. Segelas Bay Weiss ukuran 284 mililiter dibanderol ¥600 (setara Rp72.000), sementara Dragon Sleeper dipatok ¥750 per botol. Untuk standar kota produsen bir, harga itu kelewat mahal. Di kota-kota Eropa Tengah misalnya, bir hanya dijajakan seharga €1 (Rp15.000) per botolnya.

Yoshoku
Sebagaimana Hotel Indonesia atau Raffles Singapore, Hotel New Grand sejatinya bukan sekadar penginapan, tapi juga saksi perjalanan sebuah negara. Hotel sepuh yang sarat cerita ini dilansir pada 1927. Tubuhnya pernah diguncang gempa besar dan perang akbar, sementara matrasnya pernah ditiduri selebriti sekaliber Babe Ruth dan Charlie Chaplin. Layaknya hotel bersejarah pula, New Grand meninggalkan jejak yang penting dalam khazanah kuliner. Dua menu legendaris Jepang ditemukan di dapurnya.

Kiri-kanan: Satu dari sembilan kedai di Shin-Yokohama Raumen Museum; seafood doria di Hotel New Grand.

Jika Raffles Singapore menciptakan koktail Singapore sling, New Grand menemukan seafood doria, yakni rice gratin legit yang disisipi udang dan kerang. Menu ini dirumuskan oleh Saly Weil, koki asal Swiss. Inovasi New Grand lainnya adalah spaghetti napolitan yang dibuat oleh Shigetada Irie, penerus Saly Weil. Idenya muncul pada Agustus 1945 ketika Jenderal MacArthur menjadikan New Grand markas besarnya sekaligus hunian bagi perwira Sekutu. Berniat menyajikan menu yang memuaskan para tuan berkulit pucat itu, Shigetada meracik spageti versinya sendiri dengan memakai bahan seadanya.

Dalam ensiklopedia kuliner Jepang, seafood doria dan spaghetti napolitan lazim dijuluki yoshoku, artinya hidangan lokal yang dipengaruhi tradisi Barat. (Dua menu lain yang masuk kategori ini adalah hambagu dan omurice.) Kedua hidangan itu sangat populer dan mudah ditemukan di banyak kota di Jepang, walau sensasi nostalgia terbaik hanya tersaji di The Cafe di lantai dasar New Grand.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2018 (“Good To Go: Hidangan Pelabuhan”).

Comments