Wisata Perang di Normandy

Chateau La Cheneviere

Sempat koyak akibat Perang Dunia II, Normandy justru menyulap sejarah perang menjadi magnet wisata. Surabaya bisa belajar banyak.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Di Normandy, perang seakan belum benar-benar tuntas. Tank masih bertaburan di tepi jalan, meriam masih tertancap di bibir tebing, parasut pasukan terjun payung masih tersangkut di atap gereja—dan Anda diundang untuk menyaksikan semuanya.

Barisan nisan-nisan putih di American Cemetery.

Saya melawat Normandy akhir Maret silam, saat musim semi tengah menanti di ambang pintu. Angin dingin kerap berkesiur. Pohon-pohon masih telanjang tanpa daun. Suatu pagi, saya singgah di American Cemetery. Di area parkirnya, bus-bus berdatangan dan menumpahkan siswa dari penjuru Prancis. “Berkunjung ke sini adalah darmawisata yang populer,” ujar pemandu saya, Sophie, wanita kelahiran Normandy.

American Cemetery, kompleks berisi lebih dari 9.000 jenazah serdadu, terlihat sureal. Nisan-nisan putih berbaris begitu panjang dan rapi. Mayoritas berbentuk salib, beberapa bintang Daud. Sebuah tempat yang mudah memicu pilu, walau dalam kenyataannya ia lebih mirip wahana wisata. Di sela-sela pusara, puluhan siswa bercanda. Di antara mereka, belasan orang Tiongkok dan Korea berkeliaran, sesekali mengambil swafoto. Tak ada air mata yang menetes. Tak ada kuntum bunga yang diletakkan. Para pengunjung itu sedang pelesir. Pelesir yang janggal di kuburan.

Normandy bersemayam di belahan barat laut Prancis, sekitar dua jam dari Paris. Kawasan ini tersohor akan keindahan lanskapnya. Pantai-pantainya membentang lapang. Interiornya ditaburi bukit hijau yang bergulung dan saling bergandengan tangan. Panorama elok itu jugalah yang dulu memikat banyak pelukis. Kita ingat, Monet menghasilkan banyak mahakaryanya di Normandy.

Akan tetapi, pada abad ke-20, keindahan itu ternoda. Perang berkecamuk. Normandy menjadi salah satu medan pertempuran terganas. Dari sinilah pada 1944 Sekutu memulai serangan besar-besaran terhadap Nazi. Bertolak dari selatan Inggris, pasukan koalisi itu menyeberangi English Channel, mendarat di pesisir Normandy, lalu secara keroyokan menyisir Eropa dari barat hingga akhirnya menusuk jantung kekuasaan Hitler di Jerman.

Jejak perang itulah yang hingga kini masih membekas. Berkelana di sini, kita senantiasa diingatkan akan peristiwa berdarah yang berlangsung 73 tahun silam itu. Banyak kota di Normandy berstatus “kota pahlawan.” Banyak pantainya masih menyandang kode buatan tentara, misalnya Omaha, Utah, dan Juno. Hampir tiap jengkal tanahnya menyimpan perih dan rintih, mengisahkan keganasan perang dan para pemuda yang tak pulang.

Ransum pasukan penerjun payung di Airborne Museum. (Foto oleh Cristian Rahadiansyah)

Meninggalkan kuburan massal pasukan Amerika, saya bertamu ke Airborne Museum, salah satu atraksi wisata bertema perang. Kompleks megah ini didirikan guna mengenang satuan penerjun dalam Operation Neptune. Alkisah, pada malam buta 5 Juni 1944, mereka melompat dari pesawat dengan tugas utama “membuka jalan”: melumpuhkan meriam antipesawat dan radar musuh, lalu menandai titik aman bagi pendaratan ribuan penerjun yang diutus keesokan harinya.

Airborne Museum memamerkan antara lain truk GMC, jip Willys MB, serta pesawat Douglas C-47, lengkap dengan rekaman suara kokpitnya. Koleksinya impresif. Kita juga bisa menemukan seragam paratroopers, ransum mereka, serta aneka bedil dan bayonet. Tak perlu memahami Perang Dunia II untuk terpukau. Mengunjungi Airborne Museum dalam banyak hal serasa menghadiri ajang Big Boys’ Toys. “Museum ini dibangun bertahap,” kata pemandu. “Bagian yang terakhir diresmikan adalah Ronald Reagan Conference Center.”

Normandy kini mengoleksi setidaknya 92 situs, atraksi, dan wahana bertema Battle of Normandy. Mereka tersebar mulai dari pesisir hingga perbukitan di kawasan yang luasnya setara Jawa Tengah. Tiap aspek pertempuran diabadikan. Tiap episodenya dihidupkan. Kita bisa menemukan, misalnya, museum tank, museum puing bawah laut, serta museum radar. Kita juga bisa menyaksikan hanggar kapal, galeri foto perang, bahkan lomba tarik suara khusus tembang era 1940-an. Tak ada kota yang mengabadikan Perang Dunia II seserius dan selengkap Normandy.

Kiri-kanan: Koleksi pakaian dan kendaraan di Airborne Museum; turis memotret atap Gereja Sainte-Mère-Église
yang dihiasi parasut. (Foto oleh Cristian Rahadiansyah)

Barangkali terdengar janggal, tapi tragedi yang dulu memakan jutaan korban itu kini justru menghidupi banyak orang. Memori perang menghasilkan uang. Ada 20 operator yang kini menawarkan tur bertema perang. Kita bisa menyambangi bekas medan laga dengan menaiki sepeda, jip, bahkan andong. Seiring itu, lahir bisnis-bisnis turunan, misalnya jasa meletakkan karangan bunga bagi keluarga almarhum yang tak sempat nyekar.

Dalam neraca keuangan Normandy, tank dan kuburan sama pentingnya dengan Menara Eiffel atau Galeries Lafayette bagi Paris. Tempat ini merupakan teladan tentang cara memasarkan sungkawa sebagai magnet wisata. Apa yang bisa kita pelajari darinya?

Wisata perang di Normandy berumur cukup panjang. Usai makam serdadu didirikan, museum mulai menjamur pada 1960-an. Sejak saat itu pula, keinginan mengenang perang beririsan dengan agenda mendulang devisa. Lagi pula, museum-museum di sini tak mungkin bertahan jika hanya mengandalkan kunjungan veteran dan siswa setempat.



Comments

Related Posts

1609 Views

Book your hotel

Book your flight