Turis Dilarang Mendaki Bukit Batu Uluru

Mulai Oktober 2019, turis dilarang mendaki bukit batu yang berada di Australia tersebut. (Foto: Holger Link)

Besarnya jumlah turis yang berkunjung di suatu daerah tak selamanya berdampak baik. Setelah beberapa waktu lalu Amsterdam mengumumkan bakal menutup kawasan red light district pada 2020 mendatang akibat overtourism, kini Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta di Australia yang resmi mengumumkan penutupan kawasan tersebut secara permanen.

Uluru yang kadang disebut Ayers Rock ini merupakan bongkahan batu raksasa yang dipandang suci oleh suku Aborigin yang telah menghuni situs tersebut sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Menurut Parks Australia, hingga Juni 2019, sudah lebih dari 395.000 orang mengunjungi taman nasional ini, dan jumlahnya meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, mulai 26 Oktober 2019 mendatang, Manajemen Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta sepakat memulihkan kesucian bukit batu Uluru dengan menerbitkan larangan mendaki bagi turis.

Dilansir dari siaran pers resmi Pemerintah Australia, kebijakan ini dilakukan karena kawasan taman nasional tersebut mulai kotor akibat sampah para wisatawan yang sering berkemah secara ilegal. Pendaki tak cuma menginjak-injak situs sakral, tapi juga kencing sembarangan. Peristiwa ini tentu menuai kritik dari beragam pihak karena dinilai melanggar budaya suku Aborigin. Selain itu, pertimbangan lain dari penutupan pendakian adalah keamanan. Sejak 1950-an tercatat setidaknya 36 kecelakaan terjadi di sini.

Baca juga: Kyoto ‘Melawan’ Arus Turis; Paris Larang Bus Wisata Beroperasi di Pusat Kota

Namun, aturan baru yang diharapkan dapat melindungi situs suci dari kerusakan tersebut justru semakin memicu polusi turis. Pasalnya, mereka ingin mendaki bukit batu sebelum larangan resmi diterapkan. Sehingga membuat Pengelola Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta kian kewalahan melayani serbuan pengunjung.

Informasi selengkapnya, kunjungi environment.gov.au.

Comments