Tur Pesiar di Asia Bersama Genting Dream

Kapal Genting Dream yang berbobot setara dengan 30.000 gajah.

Operator-operator pesiar berlomba menempatkan kapal terbaru, terbesar, dan terbaiknya di Asia, kawasan dengan pertumbuhan penumpang tertinggi di dunia. Pendatang terakhir di 2016, Genting Dream, berambisi menjadi yang pa ling memahami “selera lokal.”

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Atet Dwi Pramadia

Melalui layar raksasa, dua wanita kakak beradik menceritakan hidup mereka yang muram di sebuah kampung yang miskin. Air mata menetes. Kisahnya mengiris. Sengaja dibuat seperti itu. Bermodalkan kemampuan bermusik, keduanya kini bertekad membalik nasib. Layar mendadak padam, lampu sorot dinyalakan, dan kedua wanita tadi muncul di panggung memainkan perkusi berbahan daun dan bambu. Tak ada lagi tangis. Keduanya kini justru dihujani tepuk tangan penonton.

Pentas itu bertajuk China’s Got Talent, program televisi yang populer di Tiongkok. Tapi saya tidak sedang berada di depan pesawat televisi, tidak pula sedang berada di Shanghai atau Beijing. Malam ini, saya berada di kapal pesiar. Saya menonton China’s Got Talent dalam versi live di atas Laut Cina Selatan.

Akhir 2016, saya mengikuti pelayaran debut Genting Dream, kapal baru yang dikelola oleh operator yang juga baru, Dream Cruises. Kapalnya megah. Bobotnya setara 30.000 gajah Sumatera. Tingginya menyamai gedung 18 lantai. Oleh pemiliknya, Genting Dream diklaim sebagai kapal premium pertama yang berasal dari, juga didedikasikan bagi, turis Asia. Singkat kata: dari Asia, untuk Asia “Kami memiliki pengalaman panjang di kawasan ini, jadi sudah memahami ekspektasi pasar,” ujar Michael Goh, Senior Vice President Dream Cruises.

Perusahaannya berada satu keluarga dengan Star Cruises dan Crystal Cruises, juga dengan kelab malam Zouk dan taman rekreasi Resorts World. Melihat portofolionya, memahami selera Asia sepertinya bukan perkara sulit. Kehadiran China’s Got Talent pertama di atas laut adalah salah satu buktinya. Apa rasanya menaiki kapal dengan “rasa Asia”?

Perjalanan saya dimulai di Singapura. Dari pelabuhan Marina Bay, Genting Dream bertolak ke Vietnam, kemudian meluncur ke Hong Kong, hingga akhirnya bersandar di Guangzhou. Dalam trip pembuka ini, kapal mengangkut hanya sekitar 2.000-an penumpang dari total kapasitas 3.300. Saya menginap di tipe suite yang bertengger di lantai 13.

Kiri-kanan: Sudut ruang anjungan yang menampung pusat kendali kapal; wahana Waterslide Park dipotret dari geladak terbuka di tengah kapal.

Plafonnya agak rendah, tapi interiornya terasa lapang, mungkin berkat jendelanya yang lega dan menatap segara. “Ada masalah dengan kamar?” tanya seorang butler asal Latvia, tak lama setelah saya memindahkan pakaian ke lemari. “Bapak butuh sesuatu?” tanya rekannya yang berasal dari Tiongkok.

Seluruh kabin suite dilayani secara bergiliran oleh 60 pelayan cekatan yang dijuluki Dream Butler. Sebagian butler berbahasa Inggris, mayoritas berbahasa Tiongkok—konfigurasi yang dicocokkan dengan komposisi tamu. “Target penumpang kami 70 persen berasal dari Tiongkok, sisanya turis internasional,” tambah Michael Goh.

Usai meninggalkan Selat Singapura, Genting Dream merangsek Laut Cina Selatan. Melayangkan pandangan dari balkon, kapal-kapal tanker dan kargo merayap lesu. Laut bercorak perak dipanggang terik. Di sisi kiri kapal kini terhampar Teluk Thailand, perairan yang membingkai Malaysia dan Indocina. Di sisi kanannya, Kepulauan Natuna.

Peluncuran Genting Dream adalah bagian dari merekahnya industri pesiar di Asia. Merujuk laporan terakhir Cruise Lines International Association (CLIA), jumlah penumpang di Asia melonjak 24 persen dari tahun sebelumnya—pertumbuhan tertinggi di dunia. Demi menjala pasar basah itu, para operator mengambil kebijakan jemput bola: menempatkan kapal-kapalnya di Asia untuk melayani rute regional. Sebab, berdasarkan laporan CLIA lagi, mayoritas penumpang asal Asia—persisnya delapan dari 10 orang—lebih menyukai pelesiran di Asia.

Fenomena itulah yang membuat laut di Asia makin sibuk. Pada 2016, jadwal pelayaran di sini meningkat 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah armadanya pun bertambah, dari 52 unit menjadi 60. Genting Dream adalah pendatang terakhir di 2016.

Genting Dream menghabiskan hari pertamanya melesat ke laut lepas. Berdiri di tepi geladak, daratan kian kabur dari pandangan. Laut ditaburi ratusan ubur-ubur putih dengan tentakelnya yang menjuntai panjang seperti akar beringin.

Galibnya pesiar, para penumpang membuka trip dengan berkelana melihat-lihat fasilitas kapal, melakukan reservasi restoran untuk hari-hari berikutnya, juga mencari tahu mana fasilitas yang gratis dan mana yang berbayar. Pesiar memang membuat turis berpikir taktis dalam menyusun jadwal harian.

Di jantung kapal, area pertokoan mulai ripuh melayani tamu. Logo-logo mengilat berbaris di sebuah lorong panjang: Cartier, Longines, Bulgari, Omega, Gucci. Belanja memang mesin uang bagi operator pesiar.

Hampir setiap kapal dilengkapi mal mini yang dijejali butik-butik global, dan semuanya menawarkan harga duty free. Tapi sebenarnya tak hanya butik. Seiring meningkatnya gairah belanja penumpang, operator lebih kreatif mencari mitra dagang.

Kita sekarang tak cuma bisa memborong arloji atau perhiasan, tapi juga karya seni. Di dekat lift, Park West Gallery memajang belasan lukisan karya seniman terpandang, salah satunya Picasso. “Besok akan dilelang,” ujar seorang staf galeri. “Harga pembukaannya dua ratus ribu dolar, tidak terlalu mahal, bukan?”

Kiri-kanan: Area kolam renang dan berjemur; salah satu restoran di Genting Dream.

Park West Gallery telah lama membidik penumpang pesiar. Cabangnya bisa ditemukan di banyak kapal. “Untuk pasar Asia, kami fokus pada lukisan yang bertema keindahan dan berwarna cerah,” ujar staf galeri lagi. “Sementara di Eropa dan Amerika, di mana pasar sudah lebih dewasa, karya yang kami lelang lebih variatif.”

Pagi baru menyingsing saat kapal mendekati Mekong Delta. Gunung-gunung berbalut awan pagi menjulang di kejauhan. Tumpukan peti kemas bertetangga dengan hutan bakau. Genting Dream tengah merapat ke pemberhentian pertamanya: Saigon.

Penumpang diminta menempelkan stiker kode rombongan di baju, lalu digiring memasuki bus-bus yang berbaris di dekat tumpukan kontainer. Akibat telat datang, bus saya sudah menghilang, dan saya pun direlokasi ke bus yang didominasi turis Tiongkok. Pemandunya berbahasa Mandarin. Saya tak memahami semua kata-katanya, kecuali dua: ni hao ma dan xie xie.

Bus membawa penumpang ke situs-situs populer dalam sirkuit turis: Katedral Notre-Dame, Kantor Pos Besar, pasar, museum ini dan itu. Tur “lihat-lihat” yang singkat dan padat. Peserta berhenti sejenak di satu tempat, buru-buru memotret, lalu bergegas kembali ke bus, sementara saya lebih sering menanti di tepi jalan untuk menikmati kekacauan kota yang epik.

Saigon adalah kota labirin di mana ribuan orang mengendarai sepeda motor dengan cara yang merisaukan. Di Jakarta, saat berjalan di trotoar, kita mesti waspada dengan sepeda motor yang menyodok dari belakang. Di Saigon, trotoar kerap berubah menjadi jalan raya dua arah.

Kiri-kanan: Mark Best, koki asal Australia pemilik Mark Best Bistro, bintang kuliner di Genting Dream; salah satu hidangan di Mark Best Bistro.

Kembali ke kapal, saya menikmati makan siang di Mark Best Bistro, satu dari 35 gerai di Genting Dream. Pemiliknya, Mark Best, memupuk reputasinya lewat Marque, restoran yang pernah menyabet titel Restaurant of the Year versi Sydney Morning Herald. Bistro adalah bintang kuliner di Genting Dream. Meja-mejanya senantiasa penuh. Saya memesan dua hari sebelumnya dan berhasil mendapatkan satu selot yang tersisa di pukul 13.

“Sebenarnya tak ubahnya mengelola restoran di hotel, tapi hotel yang terapung,” jelas Mark Best tentang debutnya di atas kapal pesiar. Seperti di Sydney, sang koki mengandalkan menu-menu Barat, tapi kini dengan tambahan dua kreasi anyar yang disesuaikan dengan selera pasar Asia, yakni bubur “congee” khas Hong Kong yang dipadukan dengan foie gras; serta ikan kod Australia yang ditaburi andaliman Sichuan. “Orang Tiongkok suka dengan konsep semacam itu,” tambah Mark.



Comments

Related Posts

3434 Views

Book your hotel

Book your flight