Traveling Masa Kini

Zaman berubah, begitu pula dengan kebiasaan traveling. Apa yang membedakan pelancong zaman dulu dengan pelancong zaman sekarang?

TravellingTongkat swafoto kini menjadi salah satu peralatan traveling wajib bagi sebagian orang. (Foto: Yohanes Sandy)

Oleh Trinity

Traveling dulu dan kini jelas banyak bedanya. Dulu saya menggenggam tiket pesawat berbentuk buku seukuran kuitansi yang ditulis tangan, tapi kini saya cukup menunjukkan barcode pada layar ponsel.

Dulu juga, saya membawa buku panduan perjalanan setebal batu bata, tapi kini segala panduan telah tersaji di ponsel. Masih banyak perbedaan mencolok antara traveling dulu dan kini, namun saya lebih tertarik mengamati cara traveling generasi masa kini.

Belakangan ini saya sering bepergian bersama kaum milenial. Maklum, generasi yang lahir antara tahun 1981-1997 ini merupakan populasi traveler terbanyak di dunia. Mereka tumbuh bersama gawai, internet, dan media sosial. Mereka hidup dengan beragam kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan teknologi. Tapi semua itu ternyata memiliki konsekuensi psikologis yang turut memengaruhi ke mana dan bagaimana mereka traveling.

Salah satu sindrom yang jamak diidap oleh milenial adalah FoMO (Fear of Missing Out). Menurut tim peneliti dari University of Essex, FoMO merujuk pada rasa cemas yang muncul ketika melihat kesenangan atau kebahagiaan orang lain, sehingga timbul keinginan untuk tetap terhubung dengan media sosial secara terus-menerus, salah satunya untuk mengetahui (lalu kadang meniru) apa yang dilakukan orang lain.

FoMO berperan besar dalam mengubah tujuan traveling banyak milenial, yaitu untuk mengisi feed media sosial supaya terkesan eksis dan tidak tertinggal dari yang lain. Saya misalnya sering diajak traveling oleh para milenial hanya karena mereka mengeluh, “Instagram gue isinya ngebosenin nih. Saatnya traveling biar feed-nya kece!”

Bagi milenial yang bepergian akibat dorongan FoMO, apa yang mereka lakukan di lokasi tujuan berbeda dibandingkan generasi dulu. Suatu hari di puncak bukit Padar di Taman Nasional Komodo, saya ingin melepas lelah sambil duduk menikmati pemandangan yang spektakuler. Yang terjadi, saya malah disuruh minggir oleh para milenial karena spot itu akan dijadikan lokasi foto! Mereka berfoto dalam beragam pose, membuat tempat yang hening jadi bising oleh bunyi cekrak-cekrek kamera. Sebagian dari mereka bahkan menggelar syuting ala presenter acara jalan-jalan di televisi dengan merekam diri sendiri memakai ponsel dan tongsis.

Kiri-kanan: Seorang turis yang sedang melakukan swafoto; hasil foto yang biasa dimasukkan ke dalam feed instagram kaum milenial. (Foto: Yohanes Sandy)

Rupanya traveling tidak lagi seheroik dulu, di mana agendanya ialah mengeksplorasi tempat, mempelajari budaya baru, atau bertujuan romantis untuk “menemukan diri.” Apa yang dilakukan saat traveling pun tidak melulu duduk diam menyerap pemandangan spektakuler, menyimak suara ombak, atau merasakan angin pantai yang menerpa pipi. Begitu sampai di suatu destinasi, banyak orang mengeroyok spot yang sama, lalu bergantian berfoto. Setelah sesi foto selesai, mereka segera menyerbu tempat lain karena takut keburu dipenuhi grup foto lain.

Berhubung tujuan traveling milenial adalah berfoto, maka prinsip travel light sulit diterapkan. Mereka membawa lebih banyak pakaian dan aksesori, plus peralatan rias. Untuk daytrip pun mereka membawa tas besar berisi stok pakaian supaya, “Kalau difoto bajunya nggak itu-itu doang.” Di puncak Padar juga saya menganga melihat mereka niat bergonta-ganti baju dan aksesori untuk sesi foto. Di antara mereka saya mendapat beberapa selebgram, profesi yang memang mudah dideteksi karena senantiasa berfoto dengan barang-barang “endorse-an,” mulai dari sampo hingga keripik. Dan yang lebih mengesalkan lagi, saya yang sedang duduk diam dianggap “nganggur,” karena itu diminta memotret mereka melulu!

Satu lagi yang saya perhatikan dari milenial ketika traveling adalah komunikasi yang minim karena masing-masing larut dengan gawainya. Suara mereka terdengar nyaris hanya pada saat sesi foto. Bila tersasar, mereka jarang sekali bertanya kepada orang lokal, tapi memilih melihat layar ponsel. Aktif di media sosial ternyata tidak membuat seseorang gemar bersosialisasi.

Beberapa bulan lalu saat bepergian naik bus di Inggris bersama sejumlah milenial, saya tersadar bahwa meski kami traveling bersepuluh, tidak satu pun dari mereka mengobrol atau khidmat menikmati pemandangan. Masing-masing orang sibuk memandang layar ponsel. Ada yang chatting, mengedit foto, atau mengambil swafoto atau swavideo. Begitu tiba di suatu destinasi, ada saja yang malas keluar bus dan berkata, “Sebentar, ini lagi bikin caption! Eh, kita di mana sekarang?”

Saya, bagian dari Generasi X, tidak anti-generasi milenial dan caranya traveling. Seperti mereka, saya juga googling untuk melacak restoran, memanfaatkan peta digital untuk menjangkau suatu tempat, bahkan kadang menikmati upah dari aktivitas komersial di media sosial. Namun saya tidak mengumbar ambisi untuk berfoto, tidak punya tongsis, dan tetap travel light. Saya lebih menikmati pemandangan indah dari mata saya, bukan melalui layar ponsel atau viewfinder kamera. Saya tetap seorang turis yang pakai baju itu-itu saja, karena saya memang bukan foto model media sosial. Mungkin ini semua karena saya sebenarnya mengidap PoMO (Pleasure of Missing Out).

 

Trinity
Trinity sudah menulis 13 buku travel, termasuk seri The Naked Traveler dan komik Duo Hippo Dinamis. Kisahnya merintis karier sebagai penulis telah diangkat ke layar lebar melalui film Trinity, The Nekad Traveler, yang dibintangi oleh Maudy Ayunda. naked-traveler.com.
Tags : columntrinity
Comments