Transformasi Toraja

Kerbau memegan peranan penting dalam upacara tradisional di Toraja.

Lama meredup di peta wisata, Toraja kini hendak memulihkan pamornya sebagai destinasi favorit. Ritual kematian tak lagi menjadi mantra utama.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Suryo Wibowo

Banyak orang Toraja masih menyalahkan Bom Bali sebagai pangkal jatuhnya industri pariwisata. Tapi, saat Bali kian pulih dari duka, Toraja masih berlinang air mata. Apa yang salah? Juni adalah bulan yang penuh darah. Banyak desa sibuk menggelar upacara kematian Rambu Solo. Ternak hilir mudik. Orang-orang berbusana hitam berkeliaran. Amis darah menjalar di udara.

Bulan ini, Toraja adalah tempat yang mengingatkan kita betapa singkatnya hidup. Di kampungnya, Pak Almen sedang menggelar Rambu Solo bagi ibunya yang meninggal enam bulan silam. Berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kematian? Berliter-liter air mata,  atau barangkali kerinduan yang tak berujung? Di Toraja, orang mesti membayar lebih. “Selusin kerbau dan ratusan babi,” jawab Pak Almen.

Di Toraja, kematian seseorang bisa membiayai kehidupan orang lain selama setahun. Atau mungkin bertahun-tahun. Di pasar ternak, babi dibanderol antara Rp1-3 juta. Kerbau jauh, jauh lebih mahal, mulai dari Rp30 juta hingga menembus Rp1 miliar, tergantung dari jumlah user-user bulunya, corak tubuhnya, juga tentu saja, bobotnya. Di kawasan dengan pendapatan per kapita di bawah Rp15 juta ini, kematian jelas peristiwa yang boros. Pak Almen terpaksa memakai tabungan dari hasil kerja kerasnya merantau ke Bekasi selama 10 tahun.

Saya memberikan satu slof rokok kepada si pemilik hajat. Sesuai tradisi, pelayat sepatutnya menghibahkan sesuatu kepada keluarga almarhum. Pak Almen mempersilakan saya duduk dan menyuguhkan makanan. Untuk orang yang sedang berkabung, dia sangat murah senyum, bahkan usai mengetahui saya tengah melanggar banyak norma adat. Toraja mengenal sistem kasta dan orang seperti saya berada di dasar piramida. Saya masuk ke arena upacara dari jalur tengah, lalu duduk di sisi depan lumbung dan membiarkan kedua kaki bergelantungan di atas tanah. Tempat saya duduk sebenarnya dikhususkan bagi para bangsawan. Di sini, kita diwajibkan duduk bersila.

Rambu Solo adalah upacara yang memancing mual. Usai rapalan doa dari pastor, satu per satu babi dan kerbau “dieksekusi” di padang rumput memakai metode yang membuat kaum penyayang hewan pingsan di tempat. Babi ditusuk perutnya. Kerbau ditebas lehernya. Seperti film slasher dalam versi riil.

Menjelang tengah hari, padang rumput berubah merah. Tapi saya masih menonton, tertegun di tempat. Sejak kecil saya suka menonton prosesi Idul Adha. Tak jelas mengapa peristiwa berdarah kerap menyedot mata. Orang-orang hobi mengerubungi korban kecelakaan. Adegan buaya menerkam zebra diulang-ulang di televisi. Mungkin benar, sadism memiliki pesonanya sendiri.

Rumah-rumah tradisional yang sempat menjadi primadona pariwisata Toraja.

Benarkah Rambu Solo sadis? Rambu Solo bukan semata soal tebas-menebas. Ia bukan tontonan semacam Tauromachia di mana matador berdansa dengan banteng sembari menusukkan pedang berulang kali demi mendulang tepuk tangan. Bagaikan Idul Adha versi Toraja, pengorbanan ternak Rambu Solo menyimpan filosofi sosial yang luhur. Daging babi dan kerbau dibagikan kepada para keluarga dan tetangga. Orang-orang “kiri” mungkin akan menyebutnya sistem “redistribusi kekayaan.” >>



Comments

Related Posts

17781 Views

Book your hotel

Book your flight