Sentra Batik Pekalongan

Salah satu kreasi seniman batik Dudung Alie Syahbana.

Menjadikan batik pilar ekonomi dan motor perubahan, Pekalongan didaulat UNESCO sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif. Kota ini memiliki museum batik dan fakultas batik, mengajarkan materi batik di sekolah, juga memberi ruang bagi seniman untuk bereksperimen dengan batik.

Oleh Ayos Purwoaji

Foto oleh Kurniadi Widodo

Pekalongan, sebagaimana kota-kota lainnya di sepanjang pantai utara Jawa, adalah perlintasan yang tak mengenal kata perai. Sepanjang waktu, bus antarkota melesat ugal-ugalan, truk-truk penuh muatan hilir mudik, bergiliran mengikis lapisan aspal jalur Daendels dan mewariskan lubang-lubang seukuran kolam lele.

Namun, di luar jalan-jalan utamanya yang sibuk, Pekalongan sejatinya kota guyub yang mengantuk lebih awal. Pukul sembilan malam, kehidupan meredup. Kedai dan pertokoan tutup. Hanya warung-warung ketan dan kopi tahlil yang beroperasi selepas tengah malam. Tidak tampak kegiatan yang berarti dari anak muda kota. Maka sungguh mengherankan jika tiga tahun silam Pekalongan didaulat UNESCO sebagai Kota Kreatif. Ia kota pertama di Indonesia yang masuk jaringan elite itu, mendahului Bandung yang telah mengincarnya sejak lama.

“Saya orang yang merumuskan usulan Kota Kreatif ke UNESCO,” kata Zahir Widadi di teras rumahnya di Kampung Noyontaan yang teduh. Pernah memimpin Museum Batik Pekalongan, juga menggelar berbagai riset dan membawa batik ke forum-forum internasional,  Zahir  kini  menjabat  dekan Fakultas Batik di Universitas Pekalongan. “Di kampus kami, mahasiswa tidak hanya belajar teknik dan pengembangan motif, tetapi juga filsafat batik,” katanya lagi.

Kiri-kanan: Becak menanti penumpang di seberang Masjid Agung Al Jami Pekalongan; Dini Hasan, perajin batik yang kerap menggunakan pewarna alami yang dikembangkannya sendiri.

Bicara seputar batik, Zahir adalah figur yang disegani. Saat ini dia memusatkan energinya meriset pewarna alami batik. Dulu, sebelum bahan kimia tersedia, para perajin memakai piksa, mahoni, tingi, tegeran, secang, atau jalawe untuk memproduksi pewarna. Kini  bahan-bahan  natural  tersebut mulai dilupakan karena pengerjaannya yang rumit dan pasokannya yang seret akibat perubahan ekosistem. Inilah problem yang coba dijawab Zahir. Dia mengembangkan dan mempromosikan kembali pewarna alami. Di halaman rumahnya, Zahir menanam beberapa pohon indigofera yang menghasilkan warna biru. “Selain membagi ilmunya, saya juga senang untuk memberikan tumbuhannya ke-pada tamu yang berminat,” ujarnya.

Gerimis turun dan obrolan kami kian menarik. Berbagai aspek perbatikan dikupas Zahir secara komprehensif, mulai dari persaingan bisnis, manajemen museum, hingga falsafah dan spiritualitas batik. Di tengah obrolan, saya mulai menyadari, meski memiliki pemahaman yang luas mengenai dunia perbatikan, Zahir masih kesulitan menjelaskan manfaat riil status Kota Kreatif bagi Pekalongan. “Ya mungkin belum terasa saat ini. Tapi kita perlu menanggapinya dengan positif, karena apa yang datang dari UNESCO pastilah baik…” pungkasnya.

Batik dan Pekalongan adalah dua kata yang tak bisa dipisahkan. Ada ratusan rumah  produksi batik yang melibatkan ribuan manusia tersebar merata di hampir seluruh kampung di kota ini. Untuk memahami skala industri batik Pekalongan, saya menemui EH Kartanegara, mantan jurnalis sebuah majalah mingguan, yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai budayawan.

Di sebuah warung, Eha, panggilan akrab-nya, menunjukkan saya beberapa foto Desa Buaran, salah satu sentra batik cap dan cetak. Di salah satu foto tampak beberapa pria sedang menjemur kain-kain batik di atas batang bambu. Di foto lainnya, seorang pemuda menjemur kain di atas tanah lapang. Kata Eha, pengusaha batik di Buaran per harinya memproduksi kain batik sepanjang empat puluh kilometer—cukup untuk melapisi jalan dari Pekalongan ke Pemalang. “Di Desa Buaran,” lanjut Eha, “sawah-sawah berubah menjadi lapangan untuk menjemur batik.”

Proses penjemuran sehelai kain batik tulis yang telah melalui pewarnaan awal.

Dari desa-desa semacam Buaran, batik-batik Pekalongan dikirim ke banyak daerah. Sebuah perusahaan ekspedisi yang melayani pengiriman batik ke Tanah Abang saja mengangkut rata-rata 2.000 kodi kain batik saban malamnya. “Bisa dipastikan, 70 persen batik yang beredar di Tanah Abang, Thamrin City, bahkan Klewer dan Beringharjo, berasal dari Pekalongan,” simpul Eha. Berdasarkan skala produksinya saja, memang tak ada kota lain yang lebih layak menyandang predikat Kota Batik selain Pekalongan.

Seraya menyimak Eha, saya menyantap nasi megono yang ditemani tempe garit panas yang luar biasa gurih. Eha kini berpaling ke topik lain: kejayaan batik Pekalongan era 1960-an. Saat itu bermunculan orang kaya baru: para juragan yang bergaya hidup norak. Mereka membeli mobil-mobil mewah semacam Impala di saat jalan-jalan kota ini masih berupa makadam. Bahkan untuk merayakan pesta ulang tahun atau syukuran sunatan anak, para sosialita Pekalongan itu tak segan menanggap grup kondang sekaliber Dara Puspita atau The Rollies. “Mereka itu ongkah-ongkahan, tidak mau saling mengalah,” kata Eha mengingat masa lalu, sembari bersyukur karena berkat kelakuan para juragan batik itu pula dia bisa menonton gratis aksi Ucok AKA di Pekalongan.

Bisnis batik bukan cuma soal kain, tentu saja. Ada banyak usaha turunan yang turut andil dan turut untung di dalamnya. Melintasi Sungai Pekalongan, saya seperti menyaksikan saksi pertumbuhan industri batik sepanjang sejarah. Menurut anekdot satir yang sering saya dengar dari warga lokal, saking kreatifnya warga Pekalongan, bahkan sungai pun ikut-ikutan dibatik. Airnya bisa berwarna marun, hijau, biru, atau hitam, tergantung pranggok mana yang membuang limbahnya saat itu.

Di ujung sebuah jembatan tipis yang melintasi sungai, Muhammad Rochim menanti saya dengan senyum hangat. Kami belum pernah bertemu, hanya saja beberapa menit sebelumnya saya tersasar ke bengkel canting cap milik kakaknya, lalu disarankan berkunjung ke bengkel milik Rochim yang lebih besar.

Rochim mengundang saya ke rumahnya yang sederhana di Kampung Yosorejo. Setandan pisang dan beberapa gelas teh kemasan terhidang di meja tamu. Di seberang saya, tiga orang membuat canting cap dengan iringan tembang campursari. Rochim menunjukkan saya beberapa canting buatannya. Bahannya lembaran tembaga yang disusun terampil, penuh detail yang mengagumkan laksana kerja-kerja artisan dari dapur seni rupa. “Sekarang kami sedang mengerjakan pesanan dari Cirebon,” kata Rochim.

Seorang perajin menghabiskan waktu seminggu atau lebih untuk menghasilkan sebuah canting cap, tergantung kerumitannya. Sebuah canting cap berukuran kecil, 18 x 18 sentimeter, dihargai Rp700.000, relatif murah mengingat daya tahannya melintasi dua generasi. Keahlian membuat canting cap galibnya dipelajari sejak kecil, turun-temurun dari buyut ke embah ke pak’e. “Saya sendiri belajar dari SD, awalnya hanya menonton bapak bekerja, kemudian belajar memotong pelat tembaga, hingga akhirnya boleh belajar merangkai,” kenang Rochim yang mengaku sejak SMA telah mendapatkan uang jajan bermodalkan keahlian membuat canting cap.

Kawasan Landungsari dan sekitarnya, termasuk Kampung Yosorejo, merupakan penghasil canting cap yang tersohor di Jawa. Para perajinnya menyuplai kebutuhan para pengusaha batik cap yang bertaburan di sepanjang wilayah pesisir, mulai dari Cirebon, Indramayu, Batang, Lasem, Tuban, Sidoarjo, hingga Madura. “Bahkan saya sempat dapat pesanan cukup banyak dari Bengkulu dan Papua,” tambah Rochim.

Sebetulnya Pekalongan tidak hanya me masok canting cap. Kota ini juga memproduk- si hampir semua kebutuhan perbatikan. Seorang kawan memberi tahu sebuah toko kecil  bercat  biru  di  dekat  alun-alun  Kota Pekalongan yang menjadi semacam Glodok bagi pengusaha batik dari penjuru Indonesia. Semua alat dan bahan batik tersedia. Tinggal sebut namanya dan—ini yang keren—kita boleh membayar dengan sistem kredit.

Kiri-kanan: Sebuah canting cap berbahan tembaga buatan perajin di Kampung Yosorejo ; proses pembuatan canting cap berbahan tembaga di Kampung Yosorejo.

Layaknya Kota Batik, Pekalongan disatroni banyak turis yang ingin berbelanja batik. Dua tempat belanja yang populer di sini adalah Pasar Grosir Setono dan International Batik Center  (IBC).  Berhubung  saya  mengamini adagium kuno “when in Rome, do as the Romans do,” saya pun mencoret kedua tempat itu. Kata beberapa orang, warga Pekalongan pergi ke Pasar Kedungwuni jika ingin membeli batik.

Awalnya saya membayangkan Kedungwuni sebagai pasar eksotis seperti yang terpampang  pada  foto-foto  sepia:  berkarung-karung batik dari kampung diangkut dengan dokar; ibu-ibu pedagang mengenakan jarik 85 dan mengunyah sirih. Sayangnya, begitu saya menyusuri lapak-lapak Kedungwuni, yang hadir di benak saya justru perasaan kehilangan. Dari puluhan kios, hanya satu yang menjajakan batik. Kios-kios lainnya justru menjual sandang impor dari Tiongkok, mukena buatan Tasikmalaya, serta celana jin asal Bandung. Batik telah tergusur dari Kedungwuni. Adagium saya meleset.

Kios satu-satunya yang masih berjualan batik itu dikelola oleh Haji Muhammad Fauzi. Dia mulai berdagang sejak 1967. Posisi kiosnya cukup hoki: di ujung persimpangan yang dilewati banyak orang. “Dulunya ini kios bapak saya. Nanti kalau saya meninggal, akan saya wariskan ke anak bungsu,” kata Haji Fauzi. Dari keenam anaknya, belum ada yang mengikuti jejaknya. Di pundak anak terakhirnya Haji Fauzi kini menyandarkan masa depan bisnis keluarga.

Haji Fauzi bergerak cekatan di kiosnya. Usianya sudah kepala tujuh, tapi staminanya belum mengendur. Haji Fauzi awalnya berjualan kain mori, canting, dan malam. Tapi berhubung margin keuntungannya terlalu tipis, dia mengembangkan usaha dengan menawarkan jasa mencelup kain mori serta berdagang batik halus dan batik cap. “Jika dibandingkan dengan Setono dan IBC tentu harganya jauh berbeda,” akunya. Di kedua tempat populer itu, harga selembar kain batik memang disesuaikan dengan kantong turis.

Di tengah obrolan, seorang perempuan muda berjilbab datang menghampiri kios. Dia tertarik dengan selembar daster batik berwarna kuning yang digantung di muka kios. Haji Fauzi menyebut harganya dan dahi si perempuan langsung berkerut. ”Minggu lalu harganya tidak segitu kok?” sergahnya. Dengan senyum mengembang di wajah, seakan pa-ham trik klasik para calon pembeli, Haji Fauzi menimpalinya dengan trik yang sama klasiknya: “Itu kan minggu lalu, sekarang ini semua harga sedang bergejolak.”

Saya mengulum senyum melihat tawar-menawar yang akrab antara pedagang dan pembeli. Hingga akhirnya, setelah sekian jurus negosiasi yang alot, perempuan itu menyerah dan pulang dengan tangan hampa. “Banyak kawan saya, pedagang batik di pasar ini, gulung tikar karena perang harga menuruti kemauan pelanggan,” kata Haji Fauzi, yang mengaku tidak sudi menurunkan standar harga. Prinsip yang dianutnya: biar kata untung sedikit, asalkan tidak merugi. “Kalau harganya belum cocok, ya berarti belum berjodoh. Saya percaya batik akan menemukan pembelinya sendiri.”

Saya bertanya kepada Haji Fauzi alasan harga batik bergejolak? “Menuruti hati,” jawabnya enteng. Artinya, di hari yang sama, sehelai kain yang serupa bisa saja dibanderol dengan harga yang berbeda. “Kalau hati sedang senang, ya harganya bisa murah…” kata Haji Fauzi lagi sembari menata dagangannya. Saya tertegun. Ini model transaksi yang luput dari perhatian Adam Smith saat merumuskan seperangkat teorema ekonomi modern.



Comments

Related Posts

6128 Views

Book your hotel

Book your flight