Potret Desa Tua di Tepi Singkarak

  • Kehidupan sehari-hari penduduk di Sumpu.

    Kehidupan sehari-hari penduduk di Sumpu.

  • Kawanan burung yang terbang rendah di atas Danau Singkarak.

    Kawanan burung yang terbang rendah di atas Danau Singkarak.

  • Ikan menjadi salah satu makanan utama penduduk Sumpu.

    Ikan menjadi salah satu makanan utama penduduk Sumpu.

  • Rumah gadang tua yang banyak ditinggalkan penghuninya.

    Rumah gadang tua yang banyak ditinggalkan penghuninya.

  • Warga Sumpu tengah berlayar di Danau Singkarak dengan kapal tradisional.

    Warga Sumpu tengah berlayar di Danau Singkarak dengan kapal tradisional.

  • Salah satu penduduk yang masih bertahan tinggal di rumah gadang.

    Salah satu penduduk yang masih bertahan tinggal di rumah gadang.

  • Anjing, jadi salah satu teman setia penduduk lokal.

    Anjing, jadi salah satu teman setia penduduk lokal.

  • Teratai di tepian Danau Singkarak.

    Teratai di tepian Danau Singkarak.

Click image to view full size

Fotografer Yoppy Pieter menciptakan buku foto yang merekam ekses buruk urbanisasi di sebuah nagari di Sumatera Barat. Potret kecil dari isu besar yang melanda banyak negara.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Salah satu penduduk yang masih bertahan tinggal di rumah gadang.

Ketika gelombang urbanisasi terlampau gencar, apa yang terjadi pada daerah yang ditinggalkan? Yoppy Pieter menemukan jawabannya di Sumpu. Neraca penyebaran manusia telah resmi berubah. Tahun lalu, berdasarkan data PBB, ada lebih banyak manusia yang menetap di kota ketimbang desa. Dan ketimpangan itu diprediksi bakal kian lebar. Salah satu penyebabnya adalah tingkat pendidikan yang lebih baik di desa, yang kemudian berefek pada meningkatnya aspirasi, yang kemudian berimbas pada naiknya laju urbanisasi. Salah satu dampak terburuknya: banyak desa kehilangan tenaga kerja produktif, gairah hidup, juga harapan. Desa kian ditinggalkan.

Namun, di Sumpu, pendidikan bukanlah penjelasan tunggal atas tren eksodus. Yoppy mendapati dua penyebab lain: dorongan ekonomi untuk mencari penghidupan yang lebih baik, serta tradisi merantau yang dianut warga Minangkabau.

Sumpu adalah sebuah nagari di tepi Danau Singkarak, Sumatera Barat. Perjumpaan pertama Yoppy dengan tempat ini terjadi pada Mei 2013. Waktu itu dia menemukan banyak rumah gadang sepuh yang tak bertuan. Melongok ke interior salah satu rumah, dia menemukan kelelawar yang beterbangan di antara tiang-tiang reyot yang seakan menanti ambruk. Ke mana gerangan penghuninya? Kata seorang warga, mereka telah merantau ke kota selama tiga dekade.

Yoppy kemudian mendapati hampir 75 persen warga Sumpu telah merantau, dan kurang dari separuhnya yang akhirnya kembali. Rumah-rumah yang mereka tinggalkan terbengkalai, lusuh, menua, dan sebagian akhirnya menemui ajal. Seminggu sebelum Yoppy tiba, lima rumah ludes dilalap api dan menyisakan tiang-tiang legam. “Warisan budaya berusia ratusan tahun lenyap kurang dari setengah malam,” ujar fotografer kelahiran Jakarta ini. Di balik gegap gempita ajang balap sepeda Tour de Singkarak—yang salah satu misinya membuka keindahan Sumatera Barat pada dunia—sebuah desa di tepi Danau Singkarak justru sekarat mempertahankan eksistensinya. >>



Comments

Related Posts

7363 Views

Book your hotel

Book your flight