Pesona Ganjil Gurun Atacama

Laguna Miscanti, tempat yang keindahannya jamak ditemui di film fiksi ilmiah Hollywood.

Sebuah gurun di Amerika Selatan menawarkan keajaiban-keajaiban geologis yang menerbangkan imajinasi kita ke Mars dan bulan. NASA bahkan menjadikannya tempat pelatihan staf.

Oleh Trinity

“Maaf, kalian harus turun di sini. Jalan ke kota San Pedro de Atacama ditutup akibat banjir,” ujar kondektur saat bus mendarat di kota Calama. Banjir? Bagaimana bisa terjadi di Gurun Atacama, tempat terkering di dunia? Ternyata, pada musim panas Februari 2013, badai melanda kota dan melongsorkan jalan. Saya terjebak di Calama, 120 kilometer di selatan gurun.

Banyak orang mungkin menganggap keberadaan padang pasir di Amerika Selatan bagaikan sebuah anomali, keganjilan geologis yang sulit dicerna. Tapi keganjilan itu pula yang membuat Atacama begitu terkenal. Gurun yang mayoritas teritorinya berada di Chile ini memiliki luas 105.000 kilometer persegi, hampir sebesar pulau Jawa. Atacama dijuluki tempat terkering yang dihuni manusia, karena curah hujannya hanya satu milimeter per tahun—dengan frekuensi cuma empat tahun sekali! Celaka-nya, pas saya berkunjung, badai datang.

San Pedro de Atacama, kota kecil berpopulasi 5.000 orang, adalah sarang utama pelancong yang ingin menikmati lanskap unik di sekitar Atacama. Dua hari kemudian, akses jalan dibuka dan saya berhasil menyambangi kota tersebut. Terik menggigit kulit, padahal suhu siang ini hanya 25 derajat celsius. Langit steril dari awan. Lahan tempat saya berpijak berada di ketinggian 2.400 meter, hingga napas menjadi pendek dan kepala pening, gejala umum altitude sickness.

Kiri-kanan: Gereja San Pedro; kota San Pedro de Atacama.

San Pedro de Atacama dibelah jalan-jalan yang dilapisi pasir, telanjang tanpa aspal. Angin menerbangkan butiran-butiran pasir dan memaksa saya melindungi muka dengan selendang. Rasanya seperti di Timur Tengah. Bedanya, orang-orang di sini berpakaian serbaterbuka. Layaknya kota-kota di Chile, pusat kota San Pedro de Atacama dihuni alun-alun. Namanya Plaza de Armas. Di kaki pohon-pohon rindang di sekelilingnya, orang-orang berteduh dari sengatan matahari musim panas.

Alun-alun adalah episentrum yang menampung banyak kegiatan, dari belanja hingga ibadah. Salah satu ikonnya, Gereja San Pedro, menampilkan struktur berparas putih yang dibuat dari adobe, semacam batu bata berbahan campuran tanah liat dan pasir. Penyangganya kayu kaktus cordon yang diikat dengan tali kulit sebagai pengganti paku. Keluar dari bangunan berumur 436 tahun itu, saya disambut panorama Gunung Lincancabur di kejauhan. Dimensinya memang tidak spesial: berbentuk segitiga sama kaki dengan tinggi hampir 6.000 meter. Tapi di puncaknya tersaji sebuah anomali Chile lainnya: salju! Akibat badai di San Pedro beberapa hari silam, Pegunungan Andes tertutup salju di musim panas. Hasilnya adalah pemandangan yang sangat kontras: gurun gersang kecokelatan bersanding dengan pegunungan bersalju. Seperti melihat es batu di atap tungku.

Kiri-kanan: Menara lonceng Tocanao; penjual sate llama, penganan khas Atacama.

Tak jauh dari Plaza de Armas ada Museum Padre Le Paige yang memajang banyak artefak, seperti keramik, tekstil, dan mumi. Benda-benda ini tidak dikumpulkan oleh tim arkeolog, melainkan seorang pastor Jesuit asal Belgia bernama Gustavo Le Paige, yang mengabdi di San Pedro pada 1955. Di samping museum terdapat Paseo Artesanal, gang kecil berisi toko-toko suvenir yang menjajakan kerajinan tangan lokal, salah satunya pakaian berbahan bulu alpaca, semacam unta versi Amerika Selatan.

Saat berkeliling kota, saya mendapati harga bahan-bahan makanan di sini relatif lebih mahal daripada kota-kota lain di Chile. “Atacama adalah salah satu dari tiga tempat tujuan wisata utama di Chile, bersama Torres del Paine dan Pulau Paskah, sehingga harga barang-barang mahal. Apalagi tempat ini terpencil,” jelas pemilik minimarket.

Berkendara ke barat, kembali saya menemukan lanskap janggal: Valle de la Muerte, artinya “Lembah Kematian.” Warna tanahnya kemerahan. Tadinya saya berpikir warna inilah yang meng-inspirasi nama lembah, tapi sejarah punya teori berbeda. Saat berkunjung ke sini, Pastor Gustavo Le Paige terkesima oleh warna merah lembah hingga menamainya “Valle del Marte”, artinya “Lembah Mars.” Namun warga mengira dia mengucapkan “Valle de la Muerte.”

Berseluncur di atas bukit pasir di Death Valley.

Terlepas dari kesimpangsiuran namanya, yang jelas lembah ini seperti berasal dari dunia lain. Dua jam hiking, keajaiban alam tersaji gamblang. Di sisi kanan ada bukit bergelombang dengan percikan garam putih. Sedangkan di sisi kirinya menjulang bukit pasir tinggi yang kerap dijadikan arena sandboarding. Di kejauhan tampak Pegunungan Andes, rangkaian puncak perkasa yang membentengi tepian barat Amerika Selatan, dari Cape Horn hingga Panama. Pada satu jam terakhir, saya dikelilingi bebatuan merah dengan bentuk acak dan tinggi belasan meter.

Berkat karakternya yang ekstraterestrial seperti Mars, Valle de la Muerte pernah dijadikan wadah latihan staf NASA dan lokasi syuting film. Satu-satunya alasan yang meyakinkan saya tempat ini berada di bumi adalah para pengendara kuda yang sesekali lewat.

Lembah berikutnya kembali melemparkan imajinasi saya menembus lapisan eksosfer. Mobil membawa saya ke Valle de La Luna atau Lembah Bulan. Lanskap-nya sesuai namanya. Jantung saya sampai tergencat akibat pemandangan lunar yang absurd. Jalan aspal membelah gurun yang diliputi garam putih, bagai kue cokelat yang ditaburi gula. Valle de La Luna menyuguhkan secuil keajaiban yang dulu dirasakan Neil Armstrong.

Pemandangan indah nan ganjil Valley de la Luna. Kering namun bersalju.

Mobil berhenti di Las Tres Marias, monumen alami yang mirip Tiga Bunda Maria. Saya naik ke puncak bukit untuk menunggu matahari terbenam. Di sisi kiri terdapat bukit pasir, di sisi kanan bukit berbatu, dan di tengahnya lembah luas bergaram—kombinasi elemen yang melahirkan kecantikan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Bertengger pada ketinggian 2.300 meter dengan luas 320 ribu hektare, Salar de Atacama adalah dataran garam di tengah gurun yang terbentuk jutaan tahun silam oleh akumulasi konstan kristal yang dihasilkan dari evaporasi air bawah tanah. Tempat ini mengawali petualangan saya di kawasan konservasi Los Flamencos Reserva Nacional.

Saya berhenti di danau berair tenang yang menjadi habitat bagi tiga spesies flamingo. Entah bagaimana burung-burung berkaki langsing bak model itu sanggup bertahan di tempat ekstrem ini. Mereka berwarna putih dengan sedikit jambon, berbeda dari flamingo umumnya yang keseluruhan bulunya berwarna jambon. Kata pemandu, warna bulu itu dipengaruhi jenis udang yang dimakan. >>>



Comments

Related Posts

9563 Views

Book your hotel

Book your flight