Perahu Tercepat Sedang Sekarat

Sandek terkenal sebagai perahu layar tercepat di Nusantara. Tapi warisan bangsa ini sekarang harus cepat diselamatkan agar tak punah.

sandek, sandeq
Perahu sandek pangolin saat melaut di Teluk Mandar.

Teks & foto oleh Yusuf Wahil

Mendengar kata Mandar, kita mungkin akan berpikir tentang sandek. Perahu layar bercadik. Perahu tercepat di Nusantara

Sandek (kadang ditulis sandeq) memang digunakan oleh warga Mandar, salah satu suku di Sulawesi. Komunitas pelaut ulung ini umumnya menghuni bagian barat daya pulau, persisnya di dusun-dusun yang bertaburan di Teluk Mandar.

Penduduk Mandar sangat membanggakan sandek, baik sebagai warisan sejarah, simbol tradisi, juga sumbangan pengetahuan lokal bagi dunia maritim. Itu pula sebabnya, sandek rutin dipertontonkan, salah satunya lewat lomba. Ajang perdananya, 1995, digagas oleh antropolog Jerman Horst H. Liebner bersama para nelayan Mandar.

Berkat reputasinya pula, sandek turut mengerek pamor Indonesia sebagai negara bahari. Perahu sprinter asal Sulawesi ini bahkan pernah menjadi semacam duta budaya nasional. Pada 2012 misalnya, sandek mewakili Indonesia menghadiri pergelaran kolosal Brest International Maritime Festival di Prancis.

Sayangnya, catatan-catatan harum itu tak lagi berlanjut. Alih-alih, pamor sandek seperti kian memudar. Dalam beberapa tahun belakangan, banyak nelayan Mandar meninggalkannya. Perahu layar yang telah memukau dunia lewat kecepatannya ini justru kehilangan popularitas di tanah kelahirannya sendiri. Kekhawatiran akan kondisi itu jugalah yang mendorong saya mendokumentasikan sandek sejak 2017.

sandek, sandeq
Panorama Desa Pambusuang, desa nelayan dan sentra pembuatan sandek, di Kecamatan Balanipa.

Sedikit informasi tentang sandek, perahu ini merupakan bahtera paling terkenal dari Sulawesi selain pinisi. Dalam hal dimensi, sandek panjangnya antara tujuh hingga 13 meter; tinggi lambungnya berkisar satu meter; tinggi tiang layarnya 10 meter. Daya angkutnya antara tiga hingga empat ton.

Setidaknya ada tiga jenis sandek. Sandek pangaoli dipakai untuk memancing dengan kapasitas satu orang. Sandek pappasilumba ditujukan untuk lomba. Sandek parroppong didesain untuk berburu telur ikan terbang dan menangkap ikan di rumpon. Jenis yang terakhir inilah yang lazim dikendarai untuk mengarungi laut lepas selama dua hingga tiga minggu. Catatan mengagumkan yang kini sulit dilanjutkan.

Baca juga: Menelusuri Sejarah Sandek; 6 Kapal Tradisional Indonesia

Pada awal 2019, saya melawat Teluk Mandar dan menemui Sulle Gani, seorang nelayan tua yang terakhir kali mengarungi ombak di Selat Makassar pada 2016. Kini, sandek miliknya telah raib, dipotong-potong, diubah menjadi meja makan, meja televisi, kursi, serta lemari kecil tempat menyimpan rokok.

Kondisi serupa terlihat di rumah Ilyas Tafa, nelayan sepuh lainnya. Sandek miliknya sudah bersalin bentuk jadi ranjang. Sementara sandek keduanya dijual seharga Rp8 juta kepada seorang nelayan di Mamuju untuk dijadikan bagan.

Tags : Budaya
Comments