Operasi Rumah Hantu di Italia

  • Kompleks benteng di atas Desa Rocca Calascio yang terbengkalai usai gempa pada 1703.

    Kompleks benteng di atas Desa Rocca Calascio yang terbengkalai usai gempa pada 1703.

  • Rumah mendiang Pietro, warga terakhir
Desa Brondino.

    Rumah mendiang Pietro, warga terakhir Desa Brondino.

  • Giuseppe Spagnuolo, satu-satunya orang yang bertahan di Roscigno Vecchia, desa yang terancam
longsor.

    Giuseppe Spagnuolo, satu-satunya orang yang bertahan di Roscigno Vecchia, desa yang terancam longsor.

  • Castelnuovo dei Sabbioni kian lapuk akibat tak bertuan sejak 1970-an.

    Castelnuovo dei Sabbioni kian lapuk akibat tak bertuan sejak 1970-an.

  • Tanah longsor pada 1963 memicu eksodus warga Craco.
Setelah penghuni terakhirnya hengkang pada 1981, tempat ini pun resmi menyandang status kota hantu.

    Tanah longsor pada 1963 memicu eksodus warga Craco. Setelah penghuni terakhirnya hengkang pada 1981, tempat ini pun resmi menyandang status kota hantu.

  • Penutupan tambang membuat Carmelo
menganggur dan Desa Righi krisis manusia.

    Penutupan tambang membuat Carmelo menganggur dan Desa Righi krisis manusia.

  • Terbengkalai pada 1962, Consonno sempat diubah menjadi kompleks resor, tapi desa ini kembali hening usai diterjang tanah longsor.

    Terbengkalai pada 1962, Consonno sempat diubah menjadi kompleks resor, tapi desa ini kembali hening usai diterjang tanah longsor.

  • Terisolasi dari jalur utama akibat konstruksi jalan raya baru, Desa Col di Favilla kini terpuruk dan dilupakan.

    Terisolasi dari jalur utama akibat konstruksi jalan raya baru, Desa Col di Favilla kini terpuruk dan dilupakan.

  • Usai tambang di Sardinia ditutup, buruh mengungsi dan rumah mereka di Asproni berubah menjadi kandang ternak.

    Usai tambang di Sardinia ditutup, buruh mengungsi dan rumah mereka di Asproni berubah menjadi kandang ternak.

  • Setelah warganya hengkang pada 1950-an, permukiman gua di kawasan Scurati berkembang menjadi situs wisata sejarah.

    Setelah warganya hengkang pada 1950-an, permukiman gua di kawasan Scurati berkembang menjadi situs wisata sejarah.

  • Benda yang tersisa usai eksodus warga Desa Borgo Schirò, Sicily

    Benda yang tersisa usai eksodus warga Desa Borgo Schirò, Sicily

  • Puing altar di kota hantu Toiano yang kini ditinggali hanya oleh satu keluarga.

    Puing altar di kota hantu Toiano yang kini ditinggali hanya oleh satu keluarga.

  • Borgo Schirò, desa yang dibangun di zaman kekuasaan  rezim fasis, kemudian
terbengkalai sejak 2000.

    Borgo Schirò, desa yang dibangun di zaman kekuasaan rezim fasis, kemudian terbengkalai sejak 2000.

  • Franco Ribet, satu-satu
orang yang tersisa di Desa Balbencia.

    Franco Ribet, satu-satu orang yang tersisa di Desa Balbencia.

  • Pasca-Perang
Dunia II, warga Borgate di Massello bermigrasi demi mencari pekerjaan hingga meninggalkan banyak rumah hantu.

    Pasca-Perang Dunia II, warga Borgate di Massello bermigrasi demi mencari pekerjaan hingga meninggalkan banyak rumah hantu.

  • Reruntuhan gereja di Poggioreale, desa yang berangsur lowong usai diguncang gempa
pada 1968.

    Reruntuhan gereja di Poggioreale, desa yang berangsur lowong usai diguncang gempa pada 1968.

Click image to view full size

Lebih dari satu juta “rumah hantu” berhasil didokumentasikan di Italia. Mereka bercerita tentang permukiman-permukiman tua yang raib dari peta, juga tentang peliknya upaya melestarikan warisan zaman.

Teks oleh Claudio Agostoni
Foto oleh Bruno Zanzottera

The wind blows round” adalah pepatah bangsa Occitan yang bermakna, “semua yang telah pergi pasti kembali.” Pepatah itu pula yang dipilih oleh sutradara Italia Giorgio Diritti sebagai judul filmnya yang mengisahkan perjuangan segelintir kaum lansia di sebuah desa pegunungan yang terus kehilangan warganya.

Fenomena pahit dalam film itu sebenarnya berlangsung di banyak tempat di Italia. Di banyak desa yang bertengger di lereng curam dan kota kecil yang bersarang di bukit terpencil, populasi manusia terus menyusut hingga akhirnya ludes. Realitas serupa melanda sentra-sentra peternakan di sepanjang Lembah Po dan pulau-pulau di Gugusan Venesia.

Pergerakan manusia telah menciptakan tanah-tanah yang telantar. Sebuah “abandonation.” Menggunakan Google Earth, sekitar 1.500 desa telantar berhasil dipetakan. Desa-desa ini tadinya sukar dilacak bahkan memakai sistem navigasi satelit tercanggih sekalipun. Proyek pemetaan mereka—disebut “Operasi Rumah Hantu”—bergulir selama tujuh tahun. Hasilnya adalah sebuah gambaran dampak dramatis urbanisasi dan migrasi di Italia.

Operasi Rumah Hantu juga menginventarisasi 1,26 juta rumah. Mayoritas berbentuk rumah petani atau pondokan yang berkerumun di kota-kota historis yang kini tak lagi bertuan. Data itu memperlihatkan betapa banyak desa telah raib, bersalin rupa menjadi hutan, tanpa menyisakan pelang, gapura, atau markah apa pun di atas peta. Mereka seakan musnah ditelan zaman. Desa-desa tersebut mungkin pernah diguncang gempa atau diterjang banjir, barangkali tenggelam akibat pembangunan waduk atau bendungan, atau murni terbengkalai akibat dilupakan warganya. Pastinya, bendera Italia tak lagi berkibar di sana.

Umat manusia menginvasi dan menduduki alam, kemudian menulis risalah dan merangkai peradaban di atas tanah tersebut. Sekarang, kita melihat banyak kasus di mana ikatan batin dan fisik antara penduduk dan tanah dudukannya telah terputus. Dalam abandonation, alam seolah membalas dendam: mengambil alih bumi. Kolonisasi berubah menjadi naturalisasi.

Karena tak lagi ditebangi, pohon-pohon tumbuh subur hingga melahirkan belantara yang lebat dan pekat. Proses itu berpengaruh pada perilaku satwa. Babi hutan misalnya, kian menjadi wabah. Sementara mamalia berkuku (ungulate) semacam rusa terus beranak-pinak.

Sejumlah penelitian ornitologi juga mencatat terjadinya tren peningkatan jenis burung hutan. Setelah manusia berhenti mengolah lahan pertanian dan peternakan, semua burung yang lazim berkembang biak dalam iklim agrikultur, misalnya burung murai dan kutilang, perlahan lenyap.

Sejatinya tak ada yang mubazir dari proses migrasi manusia. Ruang-ruang yang mereka tinggalkan diambil alih satwa. Menara lonceng menjadi ruang bersarang bagi burung-burung hutan. Jalan-jalan kota yang terkubur rumput tebal menjadi restoran prasmanan bagi satwa herbivora. Sementara pondok-pondok ringsek menjadi rumah masa depan bagi gerombolan anjing liar atau kawanan kelelawar.



Comments

Related Posts

2520 Views

Book your hotel

Book your flight