Memburu Burung Surgawi di Kobror

Teronggok di tengah Laut Aru, Kobror adalah tanah terpencil yang asing di telinga dan luput dari sudut mata. Tapi pulau ini sejatinya tidak kesepian: hutannya semarak oleh dansa burung-burung surgawi dan lautnya diserbu pemburu tuna dari negeri seberang.

Di ujung senja, para petani kembali dari ladang dan melabuhkan sampan di pesisir.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Yoppy Pieter

Lebih dari 150 tahun silam, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace datang ke Kobror dalam sebuah misi yang penting bagi dunia taksonomi: berbelanja cenderawasih. Di pulau yang dihuni orang-orang berkulit gelap dan berambut keriting ini, Wallace membeli beberapa ekor cenderawasih dengan harga murah.

Meski misinya tercapai, Wallace menyesal karena gagal menyaksikan langsung tarian sang burung di habitat aslinya. Dia memang datang pada momen yang keliru. Cenderawasih hanya menari pada musim kawin, ketika laut sedatar cermin dan kemarau panjang menggantang sekujur pulau.

Sementara Wallace berkunjung pada musim Angin Barat, saat angin bertiup kencang, laut mengamuk, dan hujan mengguyur nyaris tanpa reda. Dia menyebut ekspedisinya itu “liar dan berbahaya.”

Saya datang ke Kobror bukan untuk membeli bird of paradise, melainkan semata dihanyutkan oleh rasa penasaran: seperti apa hidup di pulau yang seolah dinafikan dari peta ini? Saya datang bersama seorang tentara berpangkat sersan, Niko Lefumonai. Dia hendak mudik ke Pafakula, sebuah kampung di pinggir Kobror, di mana ribuan cenderawasih hidup dalam habitatnya.

Kami berangkat dari sebuah pelabuhan di Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru, kota ramai yang disebut Wallace sebagai tempat bermukimnya para saudagar Bugis dan Cina. Waktu itu, jalur perdagangan Eropa belum menyentuh tempat ini.

Tugu jangkung Komodor Yos Sudarso berdiri tegak di pinggir jalan utama Dobo. Dia Laksamana yang meninggal di Laut Aru dalam sebuah pertempuran merebut Irian Barat. Di kota kecil yang dibingkai pesisir karang ini, lidah saya diajak berkenalan dengan beragam masakan “purba.” Ada sup dan bakso rusa, juga kue-kue berbahan ubi. Semua dijajakan di warung-warung kecil pinggir jalan dengan harga yang tak perlu dicemaskan.

Dari Dobo, saya dan Niko meluncur ke Desa Benjina, Ibu Kota Kecamatan Aru Tengah. Kami naik kapal kayu yang disesaki sekitar 30 penumpang, mayoritas berprofesi pedagang. Mereka yang datang dari Pulau Kobror membawa pisang ke Dobo, lalu kembali ke Kobror dengan membawa mi instan, rokok, garam, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Laut tenang sepanjang perjalanan, tapi kapal kayu yang kami tumpangi terus mengeluarkan suara derak yang mencemaskan. Butuh empat jam untuk menjangkau Benjina. Sampai di tujuan, kami berhenti untuk beberapa lama.

Kiri-kanan: Umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan dengan damai di Kobror; penduduk mengisi sore dengan memetik gitar. Arus kehidupan di Kobror berjalan lambat dan santai.

Tenaga kerja asal Thailand dan Myanmar berkeliaran di Benjina. Di lepas pantainya, kapal-kapal raksasa milik perusahaan penangkap ikan beroperasi mengeruk tuna-tuna gemuk dari perut Laut Aru. Di pelabuhan, musik berdentum siang dan malam, lampu-lampu suar bersaing dengan neon warna-warni pusat hiburan malam. Perempuan-perempuan berkulit cerah, dengan buah dada yang dibiarkan separuh menyembul

dan paha putih yang tersingkap hingga ke pangkal, menyelinap di antara pria berkulit gelap dengan sorot mata yang lelah tapi merah. Sementara itu, beberapa lelaki sipit dengan kulit yang lebih terang duduk berjejer di luar “diskotek,” berbincang dalam bahasa yang tak saya pahami, kadang diselingi patahan bahasa Melayu seadanya. Mereka bergoyang, menenggak arak, dalam buaian angin laut yang tak banyak bergerak.

Diskotek Benjina, begitu orang menyebutnya, hanyalah bangunan kayu di tepi barat Kobror. Tiang-tiang penyangganya menghunjam ke laut, sebagian dipancang ke karang. Inilah “red light district” bagi para awak kapal penangkap ikan. Mereka “berkantor” sekitar 1,5 kilometer di seberang pusat hiburan, persisnya di Pulau Maekor. Sebagaimana semut menyerbu stoples gula, perempuan-perempuan molek datang silih berganti dari pulau lain demi melayani para nakhoda dan kelasi. 

Comments