Lika-Liku Wisata di Sanur

Kiri-kanan: Patrick David Ramon, restoran baru Spice di Jalan Danau Tamblingan; interior Spice.

Barangkali berkat kedamaian itu pula Sanur sejak dulu dipilih sebagai tempat mondok banyak seniman. Di tepi pantai yang menghadap Selat Badung, kita bisa menemukan rumah peninggalan pelukis Belgia Le Mayeur, figur penting yang melambungkan citra Bali melalui kanvas pada 1930-an. Kita juga ingat, Sanur pernah menampung dua galeri ternama. Saat Bali menjadi bagian Negara Indonesia Timur, pejabat Belanda G. Koopman mendirikan Art Gallery Sindhu. Sesudahnya, Jimmy Pandy membuka Pandy Gallery. Koopman dan Pandy adalah aktor penting yang “memasarkan kebudayaan Bali melalui serangkaian benda seni,” begitu tulis Profesor Adrian Vickers dari University of Sydney dalam makalah bertajuk Bali Rebuilds Its Tourist Industry.

Setelah zaman berlalu, citra damai itu bertahan, dan efeknya pun serupa: Sanur menjadi hunian idaman banyak pendatang dan seniman. Fotografer gaek Sebastiao Salgado mempunyai rumah liburan di sini. Maestro jazz Indra Lesmana bermigrasi ke sini, menggelar konser dua minggu sekali, bahkan sedang merampungkan sebuah akademi musik. Mungkin tergoda Indra, penyanyi pop Glenn Fredly ikut membeli rumah di Sanur.

“Sanur tempatnya sederhana, dan pendatang pun mengikuti gaya hidup lokal yang sederhana,” ujar Kora Amalwati, wanita yang menetap di Bali sejak 1984 dan ikut mencetuskan Sanur Village Festival pada 2006. “Tapi itu yang justru kini dicari pendatang. Banyak ‘orang kaya lama’ suka tinggal di sini, misalnya keluarga Waworuntu yang mendirikan Cafe Batu Jimbar.”

Ingin berkembang tapi tak sudi banyak berubah, Sanur seperti menjalankan kebijakan yang kontradiktif. Ia seperti bunga yang ingin mekar namun menolak melebar. Ini dilema pariwisata yang telah lama memusingkan Bali sebenarnya. Sebuah penelitian yang digelar Universitas Udayana menyimpulkan, 60 persen turis datang ke Bali karena terpikat oleh budayanya. Tapi budaya sejatinya bagian hidup yang ringkih di hadapan modernisasi yang berlari cepat. Tanpa Melasti dan Nyepi, tanpa pura dan puri, tanpa pemangku dan pedanda, dengan kata lain tanpa kebudayaannya, Bali hanyalah seonggok pulau yang dikepung ombak. Bali yang bagus, tapi tidak spesial.

Dalam kacamata itu agaknya ikhtiar Sanur dijunjung warganya. Mempraktikkan “pariwisata yang bersyarat” mungkin memang metode yang ampuh untuk menjamin Bali tetap menjadi Bali. Yang kemudian menarik dipertanyakan: apa yang membuat garda adat semacam YPS bisa berkiprah luwes di Sanur? Pertanyaan berikutnya: Kenapa lembaga sejenis sulit tumbuh di daerah lain?

“Sanur punya modal sosial yang tidak dimiliki daerah lain,” jawab Dr. Agung Suryawan Wiranatha, Ketua Konsorsium Riset Pariwisata Universitas Udayana. “YPS dipimpin oleh pemimpin adat yang juga pelaku bisnis, dan mereka didengar oleh warganya.”

Kiri-kanan: Sajian steik di Spice; menu andalan Warung Mak Beng, sup ikan dan ikan goreng.

Menurut Agung, Bali adalah pulau dengan dua otoritas: pemerintah dan adat. Itulah sebabnya, untuk menyebut satu contoh, pecalang dan polisi memiliki wewenang yang sama kuat dalam mengatur ketertiban. Di Sanur, adat tampil lebih berwibawa karena daerah ini merupakan kantong Brahmana, dan para pejabat teras YPS berasal dari keluarga dengan “kasta” tertinggi ini.

Agung memberi satu contoh kuatnya pengaruh mereka. Beberapa tahun silam, Agung, yang pernah menjabat Sekjen Bali Tourism Board, terlibat dalam penggodokan sistem zonasi wisata di wilayah Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Tapi hanya di Sanur rekomendasinya dieksekusi. “Dengan adanya YPS,” ujarnya, “kita tahu siapa orang lokal yang bisa diandalkan, jadi mudah untuk menjalankan sebuah program.”

Menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan, sepertinya ini moto pembangunan Sanur. Daerah ini memberi ruang bagi perubahan, tapi di saat yang sama menyodorkan banyak wejangan dan batasan tentang bagaimana perubahan itu seyogianya direalisasikan. Semangatnya mungkin bukan penolakan, tapi kehati-hatian. Dan dalam kehati-hatian itu, Sanur menjaga pendulum keseimbangan antara kepentingan bisnis dan keluhuran adat. Artotel mungkin contoh mutakhir untuk melihat bagaimana kesimbangan bisnis-adat tersebut dijaga.

Artotel membidik pasar yang selama ini luput dari perhatian Sanur—kaum muda. Sosoknya janggal. Fitur-fiturnya terbilang “revolusioner” untuk standar lokal, umpamanya rooftop bar. Tentu saja, berhubung lokasinya di Sanur, hotel ini mesti memenuhi banyak syarat, salah satunya soal ukuran kamar. Berbeda dari cabangnya di Surabaya dan Jakarta, Artotel Sanur berbintang empat dengan ukuran kamar terkecil 30 meter persegi. “Hotel ini menjadi alternatif bagi turis muda di Sanur,” ujar Goya A. Mahmud, General Manager Artotel. “Sanur kini bukan semata destinasi bagi orang tua.”

Sanur memang terlihat malas berubah, tapi ia tidaklah kaku dalam membaca zaman. “Kita harus bisa fleksibel melihat perubahan,” ujar Gusde tentang pembukaan Artotel Sanur. “Kan anak muda dan millennial merupakan pasar masa depan.”

Suasana Pantai Sanur di pagi hari.

Makan & Minum

Sabar mengantre adalah syarat dasar untuk menikmati suguhan tempat-tempat makan terpopuler di Sanur. Untuk sarapan, Warung Bu Weti (Jl. Segara Ayu) menyajikan nasi campur berisi sepotong telur rebus, ayam suwir, kacang goreng, urap, kulit ayam goreng, dan irisan cabai. Untuk makan siang, Warung Mak Beng (Jl. Hang Tuah 45) menawarkan nasi dengan kombinasi sup ikan, ikan goreng, dan sambal.

Untuk makan malam, dua opsinya adalah Massimo (Jl. Danau Tamblingan 228; 0361/288-942; massimobali.com) yang mengoleksi piza tipis dengan tomat asal Italia; serta Cafe Batu Jimbar (Jl. Danau Tamblingan 75A; 0361/287-374; cafebatujimbar.com) yang didirikan pada 1991. Kreasi baru mulai bermunculan di Sanur, contohnya Spice (Jl. Danau Tamblingan 140; 0361/4490-411; spicebali.com) milik koki selebriti Chris Salans; serta Simply Brew (Jl. By Pass Ngurah Rai 127; 0361/4720-186), kedai kopi milik Vivi Sofia, SCAE Authorized Trainer.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Sanur Luhur”).



Comments

Related Posts

7986 Views

Book your hotel

Book your flight