Lika-Liku Wisata di Sanur

Keluarga yang sedang melaksanakan upacara Melukat di Pantai Sanur.

Sanur turut merintis industri pariwisata di Bali, tapi daerah ini kemudian menyempal dariarus utama dan menempuh jalurnya sendiri. Keluarga Brahmana punya andil besar.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Putu Sayoga

September 2016, Maison Aurelia resmi membuka pintunya. Lokasinya di Jalan Danau Tamblingan, bulevar paling ramai di Sanur. Hotel ini mewah, barangkali yang paling mewah dalam keluarga Tauzia, grup yang mengelolanya. Saya melewati lobinya, lalu mengintip beberapa kamarnya. Anggun dan lapang. “Sebenarnya ini dua kamar yang digabung jadi satu,” ujar Benny Karambut, Front Office Manager.

Benny kemudian menuturkan alasan di balik merger kamar tersebut. Tauzia awalnya hendak mengelola hotel bujet merek Pop. Tapi, akibat merek ini gagal mendapat restu dari Pemkot, kelasnya dinaikkan menjadi Hotel Harris. Akan tetapi lampu hijau ternyata tak juga turun, hingga sang pemilik pun mengubah konsepnya menjadi hotel butik dan memperluas seluruh kamarnya.

Sebagaimana banyak daerah di Bali, Sanur menyandarkan hidupnya pada pariwisata, tapi ia memiliki tafsir yang berbeda tentang bagaimana pariwisata dijalankan. Di sini, memiliki uang tak otomatis bisa berbisnis. Ada serangkaian kaidah yang mesti ditaati. Ada klausul yang harus dipenuhi. Ada restu yang wajib didapat. Maison Aurelia hanyalah satu contoh tentang bagaimana sistem itu bekerja. Sanur dalam banyak hal memang sebuah anomali.

Kiri-kanan: Mural di dalam kamar Artotel Sanur; galeri di Artotel.

Secara geografis, Sanur hanyalah nama sebuah kelurahan yang melintang di belahan tenggara Bali. Akan tetapi, secara kultural, ia sebenarnya jauh lebih luas, mencakup pula Desa Sanur Kaja, Desa Sanur Kauh, Desa Adat Sanur, Desa Adat Intaran, dan Desa Adat Penyaringan. Tempat-tempat ini disatukan oleh tabiat yang sama dan digerakkan oleh semangat yang sejalan. Kata “Sanur” sejatinya melambangkan sebuah mentalitas, juga sebuah satuan kekerabatan.

Sudah tak ingat berapa kali saya berkunjung ke Sanur. Namun saya ingat betapa tempat ini selalu terasa familiar, karena memang tak banyak yang berubah darinya. Ketika banyak daerah di Bali giat membangun hotel ini dan restoran itu, Sanur setia dengan gayanya yang kalem. Alhasil, tiap kali berkunjung, tempat sarapan terpopuler masih saja Warung Bu Weti, tempat makan siang favorit turis masihlah Warung Mak Beng, dan wadah kongko malam hari yang paling ramai adalah Cafe Batu Jimbar. Semuanya berusia lebih dari dua dekade. Sanur seperti mode busana yang malas berubah.

“Sanur memang berbeda arahnya,” jelas Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS). “Sanur ingin memelihara karakternya sebagai desa budaya Bali yang nyaman.”

YPS, semacam dewan adat lokal, menaungi 27 banjar di Sanur. Sesuai khitahnya, yayasan ini menjalankan fungsi sosial dan pendidikan, misalnya mengelola sekolah. Akan tetapi, dalam praktiknya, YPS juga memiliki kapasitas politik dalam memengaruhi kebijakan publik. Suaranya didengar. Titahnya dipatuhi.

Kiri-kanan: Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur; keluarga yang sedang menggelar upacara Melukat di Pantai Sanur.

Turis sedang berlari di sepanjang Pantai Sanur.

Menurut Ida Bagus Gede, pria yang lazim disapa Gusde, Sanur bertekad “menjunjung tinggi keseimbangan dari filosofi segara gunung, desa kala patra, hingga Tri Hita Karana.” Di lapangan, semboyan itu diterjemahkan beragam. Satu contoh: hotel diwajibkan menyematkan elemen arsitektur Bali, misalnya atap limasan dengan ukiran pemugbug di puncaknya. Contoh lainnya: dalam satu perusahaan, 40 persen karyawannya haruslah warga setempat. “Kita ingin warga Sanur tidak tersisih dari pembangunan, tidak menjadi ‘tikus di dalam lumbung’,” sambung Gusde.

Sebagian orang mungkin melabeli prinsip itu “proteksionisme.” Sebagian yang lain mungkin menjulukinya “gerakan kanan baru”—istilah yang berdengung kian santer akhir-akhir ini. YPS jugalah yang “memaksa” Pop berubah menjadi Maison Aurelia. Menurutnya, Pop melanggar aturan zonasi. Jumlah kamarnya terlalu banyak dan ukurannya terlampau sempit. YPS cemas Sanur akan dibanjiri bus-bus berisi turis berkocek cekak. Mengapa protes YPS dipatuhi pemilik hotel? Ternyata memperoleh restu dari lembaga ini merupakan syarat yang ditetapkan Pemkot bagi setiap investasi di Sanur.

Pariwisata adalah industri yang berjejak panjang di Sanur. Tempat ini awalnya tersohor berkat matahari paginya. Menghadap ke timur, Sanur dikenal sebagai sudut ideal untuk mengintip terbitnya sang surya. Tentang ini, ada satu peristiwa yang selalu terkenang di hati warga: pada 1950, saat berjalan-jalan di Pantai Sanur, Jawaharlal Nehru terbius oleh keindahan mentari yang baru membuka matanya, kemudian memuji Bali sebagai “the morning of the world.

Kiri-kanan: Remaja berlatih gerakan freestyle dengan latar Inna Grand Bali Beach, penginapan yang dulu bernama Bali beach dan berstatus hotel bintang lima pertama di Bali; turis melintas di depan Maison Aurelia, hotel terbaru di Sanur.

Pada November 1966, Sanur menuliskan catatan penting lain dalam babak industri pariwisata: meluncurkan hotel bintang lima pertama di Bali. Berlantai 10 dengan tinggi menembus 15 meter, Hotel Bali Beach merupakan pencakar langit pertama di Bali. Ia lahir sebelum regulasi tinggi maksimum bangunan diterapkan. Hotel ini masih berdiri. Namanya sekarang Inna Grand Bali Beach. Kamar mendiang Presiden Soekarno masih dirawat di salah satu lantainya.

Sanur turut menyemai benih pariwisata, tapi setelah industri ini begitu matang, ia justru menyempal dan memilih jalurnya sendiri. Daerah ini mematok pagar adat. Warganya menyambut investasi dengan was-was. Saat banyak tetangganya berdansa merayakan pesta pariwisata yang meriah, Sanur seperti gadis desa yang menolak larut dan memilih duduk di pojok. Berapa harga yang harus dibayar untuk itu?

Berjalan-jalan di Sanur, kita akan mendapati betapa daerah ini didominasi oleh turis jompo, yang menginap di hotel-hotel yang terlihat seumuran dengan mereka—pemandangan yang kerap mengingatkan saya pada film The Best Exotic Marigold Hotel. Daerah ini juga mengantuk lebih awal. Selepas pukul 22, jalan-jalannya mulai lengang. Hanya satu-dua restoran yang masih melayani tamu. Kita akan kesulitan menemukan diskotek, karena memang tidak ada.

Kolam renang di Artotel Sanur yang terletak di puncak hotel.

Di Sanur, semua perayaan, semua kecuali yang terkait adat, digelar dengan rendah hati, mungkin setengah hati. Suatu kali saya pernah merayakan malam tahun baru di Sanur. Jalanan sepi. Kafe-kafe berisi segelintir manusia lesu yang sepertinya melakukan apa yang biasa mereka lakukan pada malam-malam sebelumnya. Mendekati menit-menit pergantian kalender, orang-orang berkerumun di pantai guna menyaksikan kembang api yang meletus di langit—kembang api yang disulut di luar Sanur.

Namun tak semua orang mengeluhkan kondisi itu. Sanur adalah destinasi alternatif bagi mereka yang mendambakan versi Bali yang tenteram. Jalan-jalan di sini ditata nyaman bagi pejalan kaki. (Sanur merupakan satu-satunya daerah di Bali yang dilengkapi jalur sepeda.) Absennya ingar-bingar kehidupan malam memungkinkan orang tidur lebih awal. Prostitusi eksis di Sanur, tapi metode bisnisnya santun. Kita tidak akan menemukan PSK menjajakan tubuhnya secara vulgar. Alih-alih, mereka menanti klien di rumah-rumah yang biasanya dibubuhi logo XX di pagarnya.

“Berat membuka restoran di sini. Turisnya minim,” ujar Abu Goh, koki asal Singapura yang pernah bekerja untuk Hu’u dan Spice Ubud. “Tapi Sanur atmosfernya damai, sebab itu banyak ekspatriat suka menetap di sini. Saya sendiri sudah 10 tahun tinggal di Sanur.” >>>



Comments

Related Posts

3827 Views

Book your hotel

Book your flight