Jepang Mulai Menolak Turis

Beberapa lokasi wisata di Jepang mulai membatasi jumlah turis yang datang. (Foto: Koi Visuals)

Menjadi salah satu destinasi wisata favorit turis, beberapa waktu belakangan, warga Jepang mulai kewalahan dengan serbuan turis yang kian membeludak. Problem yang terasa ironis, mengingat gencarnya upaya pemerintah untuk mengejar target 40 juta wisatawan pada Olimpiade 2020. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata Jepang akhir 2018, tahun lalu wisatawan asing di Jepang menembus angka 30 juta atau setara dengan 25 persen jumlah penduduk Jepang.

Polusi pariwisata yang dikenal dengan istilah kankō kōgai ini dianggap telah mengancam kenyamanan penduduk asli. Beberapa pemilik restoran dan bar mulai mengeluhkan perilaku para pelancong, khususnya yang datang dalam jumlah besar. Bahkan, terkadang mereka berpura-pura mengatakan jika restorannya penuh ketika sekelompok turis asing menelepon untuk reservasi. Hal-hal yang dianggap mengganggu oleh para operator restoran di antaranya perilaku wisatawan yang kerap membawa makanan dari luar atau membuang puntung rokok di dalam mangkok makanan.

Baca juga: 6 Lokasi Wisata dengan KuotaAkses Langsung Menuju Gunung Fuji

Tempat suci seperti kuil dan tempat ibadah juga tak luput dari usikan turis. Salah satunya adalah Kuil Nanzoin. Seperti dikutip dari surat kabar lokal Asahi Shimbun, Kakujo Hayashi selaku pemimpin agama di kuil tersebut menuturkan bahwa hampir setiap hari ada sekitar 30 bus pengunjung, imbasnya kekhusyukan beribadah pengunjung lain mulai terganggu. Ditambah lagi, tak sedikit yang melakukan tindakan tak lazim di area kuil, mulai dari menyetel musik dengan volume kencang, memanjat atap kuil, hingga menerobos area sakral.

Demi melindungi daerah wisatanya, Kementerian Pariwisata Jepang berinisiatif untuk menetapkan sejumlah aturan baru termasuk membatasi jumlah turis. Dua wilayah yang memberlakukan hal tersebut adalah Kyoto dan Kamakura.

Selain menetapkan batasan jumlah turis, beberapa objek wisata populer juga mulai memasang papan peringatan yang dicetak dalam berbagai bahasa. Isinya? Mengingatkan tentang aturan yang wajib dipatuhi. Kuil Nanzoin di Fukuoka misalnya, memasang papan peringatan dalam 12 bahasa yang menjabarkan tentang larangan memasuki tempat ibadah dan pedoman berlaku di kompleks tempat ibadah.

Kuil yang terkenal akan patung Buddha tidur tersebut tiap harinya didatangi lebih dari 20 bus wisatawan, mayoritas merupakan penumpang kapal pesiar yang bersandar di Prefektur Fukuoka. Mirisnya, banyak dari mereka yang tak menghormati jamaah yang tengah beribadah, bermain air di air terjun khusus biksu, hingga menempelkan permen karet di kaki patung Buddha. Menurut Kakujo, problem tersebut sudah terjadi selama kurang lebih satu dekade dan terus memburuk belakangan ini.

Meskipun demikian, menurut Asahi Shimbun, banyak tempat yang masih terbuka untuk turis perseorangan atau mereka yang datang dalam grup kurang dari 10 orang. Selama ini yang dianggap biang kerok adalah turis rombongan yang biasanya dibawa oleh kapal pesiar yang bersandar. Apalagi agenda perjalanan tur pesiar di sebuah destinasi memang cukup singkat sehingga mereka tak ada waktu untuk beradaptasi dengan budaya lokal dan membaur dengan masyarakat.

Comments