Jagawana Bunga Langka

Di Bengkulu, dua bunga ikonis Indonesia sedang terancam deforestasi. Melalui suaka yang dikelola secara swadaya, sebuah keluarga berjuang melestarikannya.

Inti bunga Rafflesia.

Lahan itu luasnya tiga hektare. Awalnya ditanami kopi, lalu diubah menjadi semacam cagar alam. “Kami dedikasikan bagi pelestarian Rafflesia dan Amorphophallus,” kata Holidin. “Umbi-umbi bunga diambil dari ladang dan kebun garapan masyarakat. Tahun 2003 bunga pertama mekar. Bunga yang sekarang adalah bunga ke-27.”

Holidin kini menjabat Ketua Lembaga Peduli Puspa Langka dan Lingkungan, institusi yang misi utamanya melestarikan kembang dan hutan. Apa yang mendorong keluarga papa ini beralih peran menjadi jagawana? Bukankah bisnis kopi lebih menguntungkan? “Kami prihatin dengan kelestariannya,” jawab Holidin. “Masyarakat bila menemukan bunga bangkai akan membunuhnya.

Jika tidak ditebang, umbinya disemprot herbisida agar mati. Tumbuhan ini dianggap mengganggu.” “Dulu, antara 2005-2006 banyak sekali bunga di tepi Sungai Ketapang,” tambah salah seorang saudaranya. Sungai Ketapang mengalir kira-kira 500 meter di belakang rumah mereka. Berulang kali saya mendengar kisah kejayaan Amorphophallus di daerah itu. Kini, semuanya tinggal kenangan.

Keluarga Holidin bergotong royong memindahkan tunas dari hutan ke lahan pribadi mereka.

Saya terpaku memandang Hutan Lindung Bukit Daun di seberang jalan. Menurut Holidin, ada banyak bunga di sana, tapi kondisinya kini terancam penebangan kayu. “Kami berusaha memberi pengertian kepada masyarakat. Sekarang agak lumayan. Jika ada umbi yang tumbuh menjadi pohon atau bunga, mereka kerap lapor kepada kami. Lalu kami bongkar, gotong, dan tanam di lahan kami. Semua swadaya sendiri. Tapi, tak jarang mereka minta tebusan. Mereka kira kami memperoleh keuntungan. Pernah ada yang minta satu juta rupiah!” “Lalu, bapak bayar?” tanya saya. “Ya, kami bayar!”

Sekian lama hidup bersandar pada rimba, keluarga ini menyadari pentingnya menjaga habitat. Gairah konservasi didapat dari persentuhan langsung dengan alam. Tapi komitmen itu kadang harus dibayar mahal. Holidin hanyalah seorang penjaga SLB di Kepahiang. Gajinya di bawah Rp1 juta. Saudara-saudaranya bekerja di bidang lain, seperti kuli bangunan dan membuka warung, dan penghasilan mereka juga pas-pasan.

Holidin dan Bambang tengah mengamankan tunas Amorphophallus dari serangan babi hutan liar.

Untuk mengurus penangkaran, mereka harus pintar bersiasat. Salah satunya dengan memasang spanduk di tepi jalan yang menginformasikan jika ada bunga yang merekah. Tiap tamu diantar ke lokasi bunga. Tak ada tarif baku untuk tur ini. Semuanya bersifat sukarela. Itu mungkin sebabnya Lembaga Peduli Puspa Langka dan Lingkungan kesulitan mencari staf. Institusi ini memiliki misi serius, tapi operasionalnya hanya mengandalkan kepedulian dan kepekaan. Sebuah lembaga yang menawarkan pengabdian, bukan penghasilan.

“Dulu anggota organisasi kami lebih dari tujuh orang,” kenang Holidin. “Tapi, satu demi satu mundur karena tidak kuat.”

Pada 2011, lembaganya berhasil memikat simpatisan: Ridwan, mahasiswa dari Kota Bengkulu. Bersama-sama mereka berjibaku untuk memastikan dunia bisa terus melihat kreasi paling menawan di belantara Sumatera. Ujian terberatnya datang saat kuncup hendak mekar. Patroli kian intensif. Ancaman bukan cuma datang dari kaum perambah, tapi juga babi hutan. “Tak jarang kami menginap di hutan. Kadang hingga tujuh malam,” ujar Holidin.

“Ada bantuan dari pemerintah?” tanya saya. Raut muka Holidin berubah. “Pemerintah tidak ada kepedulian. Paling kalau ada maunya, baru pejabat datang,” jawabnya dengan nada getir. Konservasi di negeri ini memang bukan monopoli LSM atau pejabat. Konservasi kadang hanyalah berupa langkah-langkah kecil yang nyata di masyarakat. >>

Comments