Jagawana Bunga Langka

  • Inti bunga Rafflesia.

    Inti bunga Rafflesia.

  • Bunga Rafflesia yang merupakan ikon flora di Indonesia.

    Bunga Rafflesia yang merupakan ikon flora di Indonesia.

  • Holidin dan Bambang tengah mengamankan tunas Amorphophallus dari serangan babi hutan liar.

    Holidin dan Bambang tengah mengamankan tunas Amorphophallus dari serangan babi hutan liar.

  • Dua jagawana tengah mengukur bungan Amorphophallus yang sudah mekar.

    Dua jagawana tengah mengukur bungan Amorphophallus yang sudah mekar.

  • Ujang tengah menunjukkan cikal bakal bunga Amorphophallus.

    Ujang tengah menunjukkan cikal bakal bunga Amorphophallus.

  • Bunga langka Titan Arum yang tengah mekar sempurna.

    Bunga langka Titan Arum yang tengah mekar sempurna.

  • Keluarga Holidin bergotong royong memindahkan tunas dari hutan ke lahan pribadi mereka.

    Keluarga Holidin bergotong royong memindahkan tunas dari hutan ke lahan pribadi mereka.

Click image to view full size

Di Bengkulu, dua bunga ikonis Indonesia sedang terancam deforestasi. Melalui suaka yang dikelola secara swadaya, sebuah keluarga berjuang melestarikannya.

Oleh Fadil Aziz

Keluarga Holidin bukan pahlawan dalam definisi umum. Mereka bukan guru yang mengajar di pedalaman. Mereka juga tak pernah memanggul bedil di zaman perang. Tapi apa yang mereka lakukan di hutan Bengkulu memberi kontribusi signifikan dalam menjaga keutuhan ekologi—juga masa depan bangsa ini.

Dua jagawana tengah mengukur bungan Amorphophallus yang sudah mekar.

Di tengah derasnya protes atas kerusakan alam Sumatera, keluarga Holidin adalah secercah angin sejuk. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk melindungi Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum. Populasi kedua ikonnatural Indonesia itu terus menyusut akibat deforestasi. Sejak lama pohon-pohon di Sumatera dibabat demi pembukaan jalan dan kebun. Tak heran, hutan di sini terancam dicoret dari daftar elite Situs Warisan Dunia.

Rafflesia dan Amorphophallus memiliki ukuran jumbo, layaknya kembang yang mengidap obesitas. Tapi keduanya berasal dari spesies yang berbeda. Rafflesia mekar dalam posisi melebar di lantai hutan, sedangkan Amorphophallus menjulang jangkung. Amorphophallus lebih punya status spesial karena bersifat endemis. Karakter distingtif lainnya terletak pada baunya yang menusuk, hingga kadang dijuluki bunga bangkai. Amorphophallus memang sebuah paradoks.

Ia memikat orang lewat parasnya, tapi di saat yang sama mengusir orang lewat aromanya. Sayang, banyak pihak tak menghargai kecantikan misterius itu. Entah apa alasannya, Bengkulu menjadi rumah favorit kedua bunga tersebut. Kepahiang, kabupaten yang berjarak dua jam dari Kota Bengkulu, bahkan merupakan situs ditemukannya Amorphophallus oleh Odoardo Beccari pada 1878. Kita ingat, botanikus Italia itulah yang menulis akta kelahiran Amorphophallus, memilihkan namanya, sekaligus memperkenalkannya kepada dunia.

Kisah keluarga Holidin menjadi jagawana bunga dimulai pada 1980-an, usai bermigrasi dari Seluma ke Kepahiang. Dirundung kemiskinan, mereka mengandalkan hutan sebagai sumber nafkah. Awalnya, mereka keluar-masuk hutan untuk mencari rotan. “Seikat rotan waktu itu laku dijual Rp25,” kenang Ujang, kakak Holidin.

Kehidupan itu terusik saat pemerintah menggalakkan reboisasi. Perburuan rotan dilarang. Setelah itu, keluarga Holidin membuka kebun kopi, tapi usaha ini pun tak bertahan lama. Pada 1998, mereka mulai menangkar bunga bangkai. Holidin bercerita sembari menunjuk pucuk-pucuk pohon rindang yang sesekali disapu kabut putih. “Itu lahan milik orang tua kami. Dengan dibantu oleh orang asli Kepahiang, bapak saya akhirnya berhasil punya lahan.” >>

Share this Article


Comments

Related Posts

5637 Views

Book your hotel

Book your flight