Ekspedisi Pesiar di Maladewa

Maladewa bukan cuma soal resor mewah. Negeri ini juga menawarkan ekspedisi yang akan membawa kita menyapa raksasa lautan, menyambangi pulau tak bertuan, serta mengintip realitas hidup yang luput dari bingkai Instagram.

Explorer kini berlabuh di laut tenang. Mengisi menit-menit terakhir sebelum tidur, saya hinggap di kursi bar, sementara Vikrant, kelasi dengan kemampuan seorang peramal, berhasil menebak apa yang saya butuhkan saat ini: secangkir kopi panas.

Di kejauhan, pulau-pulau berbagi dingin. Bulan becermin pada riak lautan. Saya masih bisa menatap Dhigurah, membayangkan seperti apa kehidupan malam di sana. Saya kira inilah sumbangsih terbesar Explorer: membuka mata, memberi tafsir berbeda. Menaiki kapal ini, liburan di Maladewa tidak melulu berarti mengagumi lautan dengan punggung membelakangi daratan.

Pagi baru datang dan Explorer bergerak menuju pemberhentian terakhirnya. Tapi trip saya belum rampung. Saya ingin melihat wajah Maladewa tanpa segala keindahannya. Maladewa tanpa pariwisata.

“Warga Maladewa peminum kopi atau teh?” tanya saya kepada Waseem, pria India yang sudah delapan tahun bekerja di negara ini. Bagi saya, preferensi minuman bisa menjelaskan watak suatu bangsa, menerangkan tabiatnya, termasuk sejarah garis perdagangannya. “Bukan keduanya,” jawab Waseem. “Mereka peminum Red Bull.” Negara macam apa yang hobi menenggak Red Bull? “Jika ingin melihat wajah asli Maladewa, pergilah ke Male,” saran Waseem. Male, di kota inilah saya menghabiskan hari terakhir di Maladewa.

Pantai di Four Seasons Kuda Huraa.
Pantai di Four Seasons Kuda Huraa.

Karena bandara berada di pulau yang terpisah dari ibu kota dan turis umumnya langsung digiring ke resor, Male pun menjadi kota yang sering diabaikan. Sejatinya, ia memang bukan kota wisata, terutama jika kita menerjemahkan wisata sebagai serangkaian objek yang harus dilahap sejak pagi hingga malam. Male cuma memiliki museum, masjid tua, dan taman kota. Di luar itu, tak banyak yang bisa dinikmati. Kecuali jika Anda sudi menggali lebih dalam.

Male adalah kota kaya warna yang selalu berada dalam tarik-menarik antara tertib dan kaos. Lazimnya ibu kota negara berkembang, Male merangkap sebagai pusat politik dan ekonomi.

Dari sekitar 400.000 populasi Maladewa, lebih dari sepertiganya bermukim di sini. Beban yang berat tentunya bagi sebuah kota yang tuntas dikelilingi dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer. Kota ini cukup resik. Tidak ada aroma busuk. Sesuai standar Maladewa, semua got melintang di bawah tanah. Namun kota ini juga semrawut. Sepeda motor dan mobil berebut tempat di jalan cupet.

Secara umum, orang Maladewa senantiasa terlihat santai, tipikal warga kepulauan. Tapi, saat berada di kendaraan, mereka selalu terlihat tergesa-gesa. Itu sebabnya menyeberang jalan di sini menuntut sedikit rasa nekat. Male jugalah neon yang menggoda laron. Mereka yang ingin menapaki karier di profesi-profesi urban—bankir, arsitek, dosen—berkerumun di sini.

Mereka yang ingin memiliki gelar sarjana, menaiki taksi, menonton sepak bola, berkencan di bioskop, mencicipi piza atau hamburger, juga datang ke sini. “Itu sebabnya tanah kelewat mahal. Apartemen dua kamar tidur, tanpa mebel, bertarif $900 per bulan,” gerutu pemandu saya, Shaaman, pria asli Male. Kota ini memiliki dua rumah sakit, satu universitas, tiga bioskop, 32 masjid, puluhan apartemen. Di Maladewa, kecuali masjid, semua itu hanya bisa ditemukan di Male. Pendidikan dan kesehatan gratis, tapi kebutuhan lainnya melambung. Sepeda motor bebek Honda dibanderol $3.500. Rokok $2,8 per bungkus. Makan di restoran kelas menengah menghabiskan $60, tanpa bir atau wine, karena alkohol diharamkan di seantero kota.

Belum lama, sejumlah media Barat menyoroti kebangkitan sayap konservatif di Maladewa, negara yang hanya mengakui Islam sebagai agama resmi. Tapi ajaran Islam sesungguhnya dipraktikkan cukup longgar di sini. Di Male, Jumat libur dan hari kerja dimulai di Ahad. Pasangan tanpa surat nikah dilarang bermalam di hotel. Mayoritas toko tutup pada waktu salat dan kehidupan malam tidak eksis sebab semua tempat wajib tutup pada pukul 22.

Kendati begitu, Facebook halal. Situs porno tidak diblokir. Cara remaja berpacaran, bisik pemandu saya, tidak berbeda dari kota-kota lain. Di Male juga ada lebih banyak wanita tanpa jilbab dibandingkan pulau-pulau lain. Dan jika Anda melihat banyak pria berjenggot lebat, itu tak selamanya merupakan simbol kesalehan. “Tidak ada hubungannya dengan sunah Rasul,” kata Shaaman yang juga berjenggot. “Saya hanya malas bercukur.”

“Jadi, Shaaman, kamu juga penggemar Red Bull?” tanya saya. Dia tertawa sinis, seperti merasa direndahkan, lalu menjawab: “Saya penikmat kopi. Kopi Italia.” Dan dia ngopi sembari mengudap kapur sirih.

Detail

Maladewa

Rute
Ada banyak maskapai yang melayani rute ke Maladewa. Penerbangan dengan rute termudah dan tercepat dioperasikan oleh Singapore Airlines (singaporeair.com) dengan frekuensi dua kali per hari. Opsi lainnya adalah terbang dengan Singapore Airlines ke Singapura, kemudian melanjutkan perjalanan dengan SilkAir (silkair.com) yang juga memiliki dua penerbangan per hari ke Maladewa. Tiba di Male, Anda akan dibawa ke resor dengan menaiki speedboat atau pesawat amfibi. Penting diingat, pesawat amfibi hanya beroperasi pada siang hari.

Pesiar
Ekspedisi liveaboard bersama Four Seasons Explorer (fourseasons.com) ditawarkan dalam tiga opsi durasi: tiga malam (mulai dari $2.550), empat malam ($3.400), dan tujuh malam ($5.950). Yacht katamaran sepanjang 39 meter ini berkapasitas 22 penumpang, dengan fasilitas antara lain perpustakaan, dive center, restoran, area spa, serta bar. Selain menyelam, penumpang bisa snorkeling, kayaking, memancing, dan tur ke desa.

Seluruh makanan, termasuk saat barbeku di pulau tak berpenghuni, sudah inklusif di dalam tarif. Four Seasons mengoleksi dua resor di Maladewa, dan Explorer memulai dan mengakhiri perjalanannya di salah satu resor tersebut. Four Seasons Kuda Huraa (North Male Atoll; mulai dari $900) memancarkan atmosfer yang akrab, sementara Four Seasons Landaa Giraavaru (Baa Atoll; mulai dari $1.100) mengombinasikan dengan apik desain urban dan sentuhan rustic.

Di luar servisnya yang nyaris tanpa cela, kedua resor itu begitu bersinar berkat komitmennya mendukung upaya konservasi melalui program transplantasi karang dan penelitian manta.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Maladewa Tanpa Koma”)

Comments