Dua Sisi Bumi Timor Lorosae

  • Suasana pagi di Dili.

    Suasana pagi di Dili.

  • Pemandangan lanskap gunung hijau dan lautan dari Christo Rei, Dili.

    Pemandangan lanskap gunung hijau dan lautan dari Christo Rei, Dili.

  • Anak-anak bermain di pantai Dili dengan latar Pulau Atauro di kejauhan.

    Anak-anak bermain di pantai Dili dengan latar Pulau Atauro di kejauhan.

  • Gereja Motael di Dili, gereja tertua di Timor.

    Gereja Motael di Dili, gereja tertua di Timor.

  • Patung Jesus di Christo Rei, Cape Fatucama.

    Patung Jesus di Christo Rei, Cape Fatucama.

  • Pantai di belakang Cape Fatucama atau lebih dikenal sebagai Jesus Backside Beach.

    Pantai di belakang Cape Fatucama atau lebih dikenal sebagai Jesus Backside Beach.

  • Pulau kecil tak berpenghuni di dekat Metinaro dengan tanda salib raksasa di atasnya.

    Pulau kecil tak berpenghuni di dekat Metinaro dengan tanda salib raksasa di atasnya.

  • Salah satu penduduk asli Timor di Pantai Wataboo di Osolata, Baucau.

    Salah satu penduduk asli Timor di Pantai Wataboo di Osolata, Baucau.

  • Gedung sekolah uzur peninggalan penjajah Portugis di Baucau.

    Gedung sekolah uzur peninggalan penjajah Portugis di Baucau.

  • Gereja Portugis tua yang ditemukan penulis di dalam perjalanan dari Dili ke Baucau.

    Gereja Portugis tua yang ditemukan penulis di dalam perjalanan dari Dili ke Baucau.

  • Seorang remaja Timor berjalan di depan grafitti Tour de Timor, kejuaraan balap sepeda tahunan di sana.

    Seorang remaja Timor berjalan di depan grafitti Tour de Timor, kejuaraan balap sepeda tahunan di sana.

  • Mercusuar Farol di Dili.

    Mercusuar Farol di Dili.

  • Penjual ikan segar di Dili.

    Penjual ikan segar di Dili.

  • Pejalan kaki di jalanan menuju Cape Fatucama.

    Pejalan kaki di jalanan menuju Cape Fatucama.

  • Ombak di Aeria Branca atau Pantai Pasir Putih di Dili.

    Ombak di Aeria Branca atau Pantai Pasir Putih di Dili.

  • Papan peringatan tentang keberadaan buaya mudah ditemui di perjalanan dari Dili ke Baucau. Buaya air asin mendiami beberapa area di pesisir Timor Leste.

    Papan peringatan tentang keberadaan buaya mudah ditemui di perjalanan dari Dili ke Baucau. Buaya air asin mendiami beberapa area di pesisir Timor Leste.

  • Pegunungan Cape Fatucama terlihat di Christo Rei, Dili.

    Pegunungan Cape Fatucama terlihat di Christo Rei, Dili.

  • Para turis di Pantai Pasir Putih.

    Para turis di Pantai Pasir Putih.

  • Museum Resistance di Dili memajang dokumentasi komplet perjuangan Timor Timur lepas dari Indonesia.

    Museum Resistance di Dili memajang dokumentasi komplet perjuangan Timor Timur lepas dari Indonesia.

  • Koki di Discovery Inn.

    Koki di Discovery Inn.

  • Koleksi wine di Discovery Inn.

    Koleksi wine di Discovery Inn.

  • Sajian berkelas di Discovery Inn.

    Sajian berkelas di Discovery Inn.

  • Sajian berkelas di Discovery Inn.

    Sajian berkelas di Discovery Inn.

  • Tempat tidur di Discovery Inn; salah satu penginapan terbaik di Dili.

    Tempat tidur di Discovery Inn; salah satu penginapan terbaik di Dili.

  • Interior Diya Restaurant di Discovery Inn.

    Interior Diya Restaurant di Discovery Inn.

  • Sabung ayam menjadi aktivitas favorit para penduduk di Dili.

    Sabung ayam menjadi aktivitas favorit para penduduk di Dili.

Click image to view full size

Dua Sisi Timor
Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Muhammad Fadli

Arquivo & Museu da Resistência Timorense, museum terpenting di pusat Kota Dili, berisi kepedihan. Saya memasukinya dengan jantung yang kian lama kian berdegup kencang. Ruangannya disekat hingga membentuk lorong-lorong kecil dengan cahaya temaram, seakan hendak mengatakan: selamat datang di masa lalu kami!

Saya menyusuri lorong berkelok yang ditempeli poster-poster Falintil, tentara pembebasan Timor-Leste yang terkenal itu. Di dalam sebuah etalase kaca, seragam kumal serdadu ditaruh. Ada yang tercabik-cabik dan penuh tambal. Di kelokan lain, ada patung seorang lelaki setinggi dua meter. Tangannya memegang pagar besi, bagai hendak melompat ke arah saya. Pagar itu begitu runcing. Moncong lelaki itu sedikit ternganga, mungkin hendak berteriak, atau tengah menahan sakit karena tercekik oleh suaranya sendiri.

Museum Resistance di Dili memajang dokumentasi komplet perjuangan Timor Timur lepas dari Indonesia.

Pada sisi lorong yang lain dari museum itu, layar-layar monitor silih berganti menayangkan video tentang perang, tentang kekerasan sipil, kekejaman yang teramat sadis. Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan presenternya. Ia bertutur dalam bahasa Portugis. Pengunjung tidak dibenarkan membawa perekam suara atau gambar ketika memasuki museum. Begitu banyak catatan kekejaman. Apakah ini sebetulnya yang ingin dijual Timor-Leste untuk mendatangkan wisatawan?

Saya mengunjungi Timor-Leste dengan menaiki minibus dari Kupang. Di dalam kabin, saya membaca buku perjalanan Lonely Planet. Pada halaman awal, José Ramos Horta menulis: “Welcome to the Dili, City of Peace.” Mobil saya melaju kencang, menyalip dan melesat seperti tidak memiliki pedal rem. Hampir semua angkutan umum di Pulau Timor ini dikendarai Michael Schumacher—Michael Schumacher berkulit cokelat. Sesekali ban terasa melayang di atas aspal. Jalan mulus berliku melewati kampung-kampung kecil, Soe, Nikiniki, Kefa, hingga Atambua.



Comments

Related Posts

16480 Views

Book your hotel

Book your flight