Bangkitnya Pariwisata di Bosnia

Stari Most yang tersohor.

Bosnia mengenang 20 tahun hancurnya Stari Most, jembatan yang menjadi bagian identitas warganya. Perang sudah berlalu dan negara ini mulai melirik pariwisata. Daya tarik utamanya: memori kelam dan masa silam yang gemilang.

Teks dan foto oleh Muhammad Fadli

Berdiri pada suatu sore di atas minaret jangkung Masjid Koski Mehmed Pasha, warisan Kesultanan Ottoman dari awal abad ke-17, sulit membayangkan ada kota lain seindah Mostar. Di bawah sana, terhampar Kota Tua Stari Grad, di mana bangunan-bangunan sepuh beratapkan genting saling berdempetan dalam corak senada. Di sampingnya, Sungai Neretva mengalir di antara jurang-jurang terjal. Airnya yang jernih dan berwarna pirus membelah kota, menghasilkan deru samar yang tak berkesudahan.

Saya tengah berkelana ke penjuru Semenanjung Balkan, di mana sejarah begitu dinamis dan penuh warna, namun kerap terlewatkan oleh dunia. Usai berminggu-minggu menempuh perjalanan darat melewati beberapa negara pecahan Yugoslavia, saya mencapai Bosnia dan Herzegovina. Mostar, bekas kota perdagangan di bawah kendali Ottoman, teronggok di dasar lembah bagai negeri dongeng di tengah kepungan bukit cadas. Dua dekade silam, perang berkecamuk di tempat ini. Hari ini, saya hanya melihat kedamaian.

Masih di atas minaret, pandangan saya arahkan ke hilir. Seakan melayang di atas aliran Sungai Neretva, sebuah jembatan batu menghubungkan kedua sisi kota. Orang-orang di sini menyebutnya Stari Most, artinya “jembatan tua.” Evliya Çelebi, penjelajah tersohor dari Istanbul, pernah datang ke Mostar di abad ke-17 dan menuliskan kekagumannya pada Stari Most: “Jembatan itu bagai lengkungan pelangi yang membubung di angkasa, membentang dari satu tebing ke tebing lainnya. Saya, seorang budak Tuhan yang telah berkelana di 16 negara, belum pernah melihat jembatan setinggi itu.”

Kiri-kanan: Pemandangan kota Sarajevo; seorang warga melintasi bangunan di Sarajevo.

Tapi Stari Most bukan sekadar struktur penghubung dua kota. Jembatan ini punya makna yang melampaui fungsinya. Jauh sebelum Ottoman berkuasa, Mostar (artinya “pengawal jembatan”) telah menjadi penghubung jalur sibuk antara pesisir Laut Adriatik dan wilayah kaya mineral di jantung Bosnia. Dulu, hanya ada jembatan kayu yang bergoyang-goyang kala dilalui. Ide pembangunan jembatan yang lebih layak tebersit saat perekonomian kota berkembang pesat di era Ottoman.

Layaknya penakluk Inggris yang mendirikan istana megah di Kolkata, atau Belanda dengan koleksi bangunan kolonialnya di Jakarta, Kesultanan Ottoman menancapkan pengaruhnya di tanah jajahan lewat beragam karya arsitektur. Dan Stari Most adalah yang paling dikenal. Dirancang pada 1566 oleh Mimar Hajruddin, seorang murid berbakat didikan Mimar Sinan sang arsitek ternama, Stari Most menghabiskan dana sekitar 300.000 koin perak. Jumlah yang amat fantastis kala itu. Tapi investasi tersebut berbuah sepadan: sebuah struktur yang keajaibannya beresonansi menembus lorong waktu.

Rebecca West, penulis asal Inggris, juga menyambangi Mostar dalam pengembaraannya di Semenanjung Balkan pada 1930-an. Kisahnya dituangkan dalam Black Lamb and Grey Falcon. Rebecca juga sempat menapaki Stari Most. “Melihat dan berada di atasnya sama-sama menakjubkan,” tulisnya. Impresi itu benar, walau tak lengkap.

Berada di atas Stari Most bagai berdiri di tengah persimpangan dua zaman, juga dua peradaban. Di timur sana saya melihat masa lalu: rumah-rumah sepuh di Stari Grad, bazar ala Turki, serta minaret-minaret masjid berusia ratusan tahun yang berlomba menusuk langit. Sementara di sisi baratnya tampak paras yang kontras: bangunan-bangunan suram dari era komunis, gereja Katolik raksasa, serta sebuah salib raksasa yang menaungi kota dari puncak bukit.

Instalasi salib di Hum Hill dengan latar belakang kota Mostar.

Selama lebih dari empat abad, Stari Most menghubungkan bagian timur dan barat bantaran Sungai Neretva. Selama itu pula jembatan ini menyaksikan jatuh-bangunnya berbagai peradaban yang pernah singgah. Stari Most melihat runtuhnya Kesultanan Ottoman, penaklukan wilayah Bosnia oleh Kekaisaran Austria-Hongaria, dua Perang Dunia, dan empat dekade rezim komunis Yugoslavia. Jembatan ini adalah saksi sejarah dalam arti harfiah. Tapi hikayatnya tak cuma dipenuhi tragedi. Stari Most juga menjadi ikon perdamaian, simbol pemersatu dua wilayah kota yang dihuni dua etnis berbeda: warga Muslim Bosnia dan umat Katolik Kroasia.

Dan Stari Most juga pernah menderita. “Ini bukan Stari Most yang asli” ujar Amel Kelecija, seorang pemuda lokal yang sore itu menemani saya mengitari kawasan kota tua. “Jembatan ini hancur sewaktu perang terakhir, tapi dibangun lagi. Di YouTube ada rekamannya”.

Pada 1993, pertikaian di Semenanjung Balkan memasuki babak baru. Melihat Bosnia hendak dicaplok Serbia, para politisi ultra-nasionalis Kroasia tergerak untuk ambil bagian dalam perang. Keputusan itu membuat warga Bosnia terjepit, harus berhadapan dengan orang-orang Kroasia yang sebelumnya berstatus sekutu. Moncong senjata kemudian menyalak di penjuru Mostar. Perang seperti sampar yang menjalar.

Perbukitan hijau di sepanjang jalan menuju Lukomir, kota di sisi Sarajevo.

Kiri-kanan: Bangunan-bangunan uzur di tepi Sungai Miljacka; warga lokal memadati kafe di Mostar.

Di tahap-tahap awal perang, Stari Most luput dari perhatian. Jembatan pejalan kaki ini dianggap tak memiliki arti strategis. Namun, pada suatu pagi di 9 November 1993, sebuah tank Kroasia menembaknya dari jarak dekat dan Stari Most pun runtuh, tenggelam ke dasar sungai yang selama ini dikangkanginya. Peristiwa itu mendatangkan kepedihan bagi penduduk kota. Dalam pilu, seorang warga mencatat: “Saya tak akan pernah lupa. Granat dan bom berjatuhan di mana-mana, tapi warga kota bersikeras keluar dari persembunyian. Yang tua dan yang muda, yang lemah dan yang kuat, Muslim dan Kristen, semua berdatangan, dan semua meratap. Sebab jembatan itu adalah bagian dari identitas kami. Jembatan itu mewakili kami semua.”

Mulai 2001, Stari Most direstorasi. Prosesnya panjang dan penuh tantangan. Anomali strukturnya memaksa kontraktor mengadaptasi metode konstruksi dari abad ke-16. Material ditambang dari tempat yang sama, juga dari reruntuhan jembatan yang diangkat dari dasar sungai. Dunia internasional dilibatkan: jembatan direncanakan petinggi NATO, dirancang perusahaan Hongaria, diarahkan arsitek Bosnia, dieksekusi serdadu Spanyol, dan didanai oleh berbagai negara.

November 2013, Stari Most merayakan dua dekade kehancurannya di tengah zaman yang sudah berubah. Mostar bertransformasi menjadi magnet pelancong. Saban hari, turis bersenggolan bahu memadati kota tua atau berkumpul di atas Stari Most yang pada 2005 didaulat menjadi Situs Warisan Dunia. Konsep “wisata ke Bosnia” yang tadinya janggal mulai jamak dilakoni. Tapi, di negeri di mana dendam masih berbekas, satu pertanyaan tersisa: sampai kapan perdamaian ini bertahan? >>>



Comments

Related Posts

11050 Views

Book your hotel

Book your flight