Akomodasi tipe Executive Pool Villa di Plataran Borobudur Resort, Magelang. (Foto: Plataran)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Pukul lima pagi, saat kelelawar baru pulang kerja, sebuah jamuan telah disiapkan di atap bangunan. Beragam hidangan ditata melimpah. Mungkin kelewat melimpah. Sampai-sampai mejanya sesak tertutup piring.

Iseng, saya coba hitung. Setidaknya 40 jenis makanan terhidang. Ada kroasan, keik, sushi, penekuk, risol, sandwich, potongan buah, pie, telur rebus—pokoknya melimpah. Mungkin cukup dilahap enam orang, padahal tamunya hanya saya dan istri. “Kalau bapak bawa anak atau teman, hidangannya ditambah satu meja lagi,” kata pramusaji.

Plataran Borobudur bertengger di bukit, sekitar 1,3 kilometer dari Candi Borobudur. (Foto: Plataran)

Pramusaji menuangkan wedang hangat. Bersamaan dengan itu, sinar jingga muncul di balik Candi Borobudur. Menatap ke arah kiri, awan tebal merayap di pinggang Gunung Merapi. Saya makan dengan mata lebih sering terpaku ke langit ketimbang piring.

Sesi santap fotogenik ini dinamai Majestic Sunrise Breakfast. Aktivitas pagi yang paling menarik di Plataran Borobudur. Tak cuma mengenyangkan, tapi juga menyenangkan. Mayoritas turis mungkin sudah pernah melihat Candi Borobudur. Pagi ini, Plataran mengajak tamu menengoknya kembali dari perspektif berbeda, dengan cara yang juga berbeda.

Staf tata gerha di balkon Duplex Royal Pool Villa, hunian dua tingkat berkapasitas empat orang. (Foto: Plataran)

Plataran Borobudur beroperasi sejak 2010. Tergolong senior di kawasan ini. Lokasinya di sebuah bukit mungil, sekitar 1,3 kilometer dari Candi Borobudur. Posisi strategis inilah yang membuatnya leluasa memperlihatkan sosok candi dan gunung-gunung di baliknya.

Ada 22 vila di sini. Mereka disebar di pinggang bukit, terselip di antara pepohonan rindang. Khas Grup Plataran, tiap vilanya sarat muatan lokal. Bentuknya rumah beratap pelana. Interiornya ditaburi kriya dan mebel kayu. Kemewahannya terletak pada kenyamanan sebuah rumah.

Tiga hari di sini, saya menginap di Borobudur View Villa. Untuk tipe vila satu kamar, ini yang tercantik dalam hal pemandangan. Candi terlihat jelas, baik dari kolam renang, serambi, ruang makan, bahkan kasur. Masa lampau terasa dekat. Dari vila berusia 12 tahun, saya menonton candi yang lahir lebih dari satu milenium silam. Sensasi yang sureal.

Menu nasi kuning di restoran Patio. Kanan: Sesi yoga di dek terbuka Langit Borobudur. (Foto: Plataran)

Tiap vila dilayani butler—kemewahan lain di Plataran. Selama di sini, Rafi dapat giliran mengurus saya. Pemuda lokal ini punya bekal pengalaman mumpuni. Dia pernah bekerja untuk resor tetangga, Amanjiwo. Dan ada satu lagi kelebihannya: kemampuan berbahasa Arab. Tak berguna bagi saya memang, kecuali jika saya berpapasan dengan pangeran Saudi.

Salah satu tugas butler ialah mempersiapkan aktivitas tamu. Dari belasan tur dalam brosur, saya memilih bersepeda. Ini opsi terbaik untuk mengarungi kawasan sekitar, lantaran banyak jalan terlampau cekak.

Candi terlihat dari kamar Borobudur View Pool Villa, akomodasi satu kamar dengan panorama terbaik di Plataran. (Foto: Plataran)

Tur dimulai selepas sarapan. Pemandu hari ini, Latief, membawa saya blusukan ke dusun-dusun. Kami melewati sejumlah anak sungai, kebun tumpang sari, juga homestay. Sesekali, muncul iring-iringan VW Safari. Andaikan Anda belum tahu, tur VW sangat populer di Magelang. Konon katanya, ada lebih dari 500 VW berkeliaran di sekitar Borobudur menawarkan paket wisata.

Latief sangat paham medan. Dia hafal banyak “jalan tikus.” Belakangan, saya tahu dia ternyata asli Magelang. Rumahnya tak jauh dari resor. Dulu, sebelum menjadi pemandu, dia membantu orang tuanya berdagang di pasar. Darinya pula saya menggali gosip lokal: siapa saja pejabat dan selebriti yang punya properti di sekitar Borobudur.

Sejam menggowes, pantat terasa lebih tipis beberapa milimeter. Sebuah tanda waktunya menutup tur. Saya kembali ke vila, lalu rehat di teras, sambil menonton candi. Merapi masih mengembuskan asap layaknya tungku raksasa. Persis di depan kaki saya, burung-burung menumpang mandi di kolam renang.

Patio Colonial Hall, restoran utama di Plataran Borobudur. (Foto: Plataran)

Plataran Borobudur mengoleksi fasilitas yang cukup komplet. Ada spa, butik, lounge, paviliun yoga, gelanggang pacuan kuda, lapangan bola basket, joglo gamelan, bahkan kebun binatang mini. Resor ini mirip taman rekreasi. Ada beragam wahana untuk mengisi waktu.

Satu fasilitasnya yang punya penggemar terbanyak ialah Patio, restoran bercorak kolonial. Tubuhnya dicat putih. Atapnya ditopang pilar-pilar gemuk. Jendelanya dilapisi krepyak tingkap. Andaikan butler sesumbar restoran ini warisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, saya mungkin akan percaya.

Pramusaji di serambi Patio, restoran fotogenik yang menawarkan panorama Candi Borobudur. (Foto: Plataran)

Interior restoran berisi meja-meja kayu yang ditata di bawah kandil kristal. Saya memilih duduk di serambinya yang dinaungi lampu kerek. Alasannya simpel: panorama. Dari sini, Borobudur terlihat anggun di antara pohon jati. Dulu, saat candi masih boleh didaki, kita bisa menangkap sosok para turis di sekitar stupa, cukup pakai fitur zoom di kamera telepon genggam.

Koleksi menu Patio cukup majemuk. Ada banyak menu lokal dan asing. Salah satu andalannya ialah sup buntut. Rasanya tak kalah dari versi Hotel Borobudur Jakarta. Namun, bintang utama resto ini ialah menthok mentel.  Bahan utamanya entok. Mirip bebek, tapi pakai eyeshadow merah, dan dagingnya lebih lembut. Satu menu ini saja cukup sebagai alasan untuk kembali ke Plataran Borobudur.

Interior The Kastil, restoran berdesain Eropa klasik. Kanan: Gerbang Padma Spa. (Foto: Plataran)

Plataran punya satu lagi fasilitas yang sangat populer—Enam Langit. Lokasinya bukan di kompleks resor, melainkan desa tetangga. Jaraknya sekitar delapan kilometer. Tidak terlalu jauh, namun waktu tempuhnya bisa menembus 30 menit, lantaran medannya cukup menantang.

Sejak dibuka pada 2019, Enam Langit terus menjadi buah bibir. Penyebabnya: alamat yang dramatis. Menclok di puncak bukit layaknya sarang elang. Sebagian orang menjulukinya restoran di atas awan. Dan berhubung berada di atas awan, kita perlu mendaki untuk menjangkaunya.

Dari dasar bukit, mobil merayap di tanjakan curam yang dibatasi jurang. Ada tiga pos jaga di sepanjang rute terjal ini. Memakai HT, para staf Plataran saling berkoordinasi. Mereka mengatur lalu lintas dengan sistem buka-tutup, memastikan mobil tak berpapasan di jalan sempit.

Enam Langit, restoran di puncak bukit yang menatap enam gunung. (Foto: Plataran)

Mendarat di tujuan, saya langsung paham kenapa Enam Langit begitu populer walau rutenya mendebarkan. Tempat ini menyuguhkan lanskap yang jauh lebih mendebarkan. Di sekitarnya, enam gunung menjulang agung menusuk langit. Di kaki mereka, sawah dan ladang mengukir lembah subur. Dari sini, kawasan Borobudur mirip baskom raksasa yang dikepung benteng.

Hidangan Enam Langit lebih variatif ketimbang Patio. Di samping area makan, sebuah bar mungil berdiri di tepi kolam renang. Tak ada miras di sini, setidaknya untuk sementara. Kabarnya, Enam Langit akan dilengkapi delapan vila dan beroperasi penuh sebagai resor bintang lima. Artinya, kelak, tamu bisa tidur di atas awan.

Plataran Borobudur Resort & Spa, Dusun Tanjungan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah; 0293/788-888; plataran.com; mulai dari Rp6.100.000, termasuk sarapan dan afternoon tea.